Dengan kaca mobil yang terbuka Evelin menikmati angin malam yang menerpa wajahnya, masih dengan setengah sadar karena pengaruh minuman yang rekan kerjanya itu kasih, sepertinya dia di beri minuman beralkohol, Evelin memang bisa minum beralkohol tapi ia tak pernah bisa minum banyak. Pria yang sedang mengemudi di sampingnya terlihat melirik Evelin sesekali.
Pria itu menjalankan mobilnya tanpa tujuan, karena ia sendiri tidak tahu dimana anak baru di sekolahnya itu tinggal.
Mobil mewah yang di kendarainya itu berhenti tepat di pinggir jalan yang memperlihatkan danau dengan jempatan gantung di atasnya. Jembatan tersebut terlihat sangat indah jika di lihat dari jauh apalagi dengan lampu yang berkilau di pinggirannya.
"Hmmm, damainya..." gumam Evelin seraya memandang danau di depannya.
"Rumah lo dimana?" Tanya cowok itu setelah sekian lama menunggu Evelin yang sejak tadi menikmati pemandangan danau.
Evelin menoleh dengan wajah memerah karena pengaruh alkohol.
"Lo...lo... siapa nama lo?" Tanya Evelin dengan mata menyipit.
"Reihan, temen sekelas lo."
"Aahhh, i see."
"So, lo mau pulang atau gimana?" Tanya Reihan.
"Apartement XXX." Jawab Evelin.
Reihan menaikan sebelah alisnya, apartement itu terdengar tak asing.
"Lo tinggal di sana?"
Evelin mengangguk "Lebih tepatnya numpang orang hehe." Ujarnya seraya terkekeh.
Tanpa berucap lagi Reihan segera menancap gas menuju tempat tersebut.
***
"Thanks." Ucap Evelin.
Evelin keluar dari mobil, diikuti oleh Reihan. Namun mereka seketika mematung, saat melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka.
Sebisa mungkin, Evelin menenangkan perasaannya yang bergemuruh. Seketika dia merasa gelisah. Ia berjalan sedikit sempoyongan karena alkohol masih mempengaruhinya.
"Masuk!" Kata Revano dengan dingin kepada Evelin.
Evelin hanya menurut, lantas setelah kepergian gadis itu. Revano berjalan mendekati Reihan yang masih berdiri di samping mobil.
"Lo apain dia?"
Reihan hanya diam dengan tatapan tajam. Suasana menjadi terasa mencengkam, dua pria yang terkenal dulu nya sahabat dekat, kini justru terlihat seperti musuh bebuyutan.
"Kenapa dia bisa tinggal sama lo?" Tanya Reihan.
"Dia pacar gue." Tegas Revano.
"Kenapa kita selalu menyukai orang yang sama?"
Revano mengepalkan tangannya merasa emosi saat mendengar bahwa mantan sahabatnya itu menyukai Evelin.
Bugh
Satu pukulan Revano layangkan pada wajah Reihan yang belum terlihat siap menerima pukulannya. Hingga membuat pria itu tersungkur.
Reihan terkekeh pelan, ia mendongak menatap Revano dengan kilatan emosi.
Hingga akhirnya terjadilah baku hantam di antara keduanya.
***
Reihan melangkahkan kaki memasuki rumahnya tanpa mengetuk dan tanpa permisi Ia terus berjalan melewati sang Ayah yang sedang makan di meja makan, melihat dengan heran sikap anaknya yang berjalan sambil menunduk.
"Reihan." panggil sang Ayah, yang di panggil tidak mengubris panggilan sang Ayah hingga punggung lelaki berusia 18 tahun menghilang di balik pintu kamarnya.
"Bi ada apa dengan Reihan?" Tanya Ferdinan kepada pelayan yang bekerja di rumahnya.
"Sepertinya Den Reihan habis berkelahi tuan."
"Berkelahi?" Bi Sarti mengangguk.
"Ahh aku sudah lama tidak melihatnya berkelahi." Bi Sarti hanya tersenyum kecil menanggapi, sudah sekitar 15 tahun Ia bekerja kepada majikannya, Ferdinan, dan selama itu juga Ia sudah begitu mengenal sifat keluarga tersebut.
Reihan yang ramah dan baik berbeda setelah ibunya meninggal pria yang sudah bi Sarti anggap anaknya sendiri itu kini berubah menjadi sosok manusia yang dingin dan cuek.
Kepergian sang Bunda begitu memberikan dampak yang besar bagi Reihan begitupun dengan sang suami Ferdinan. Meskipun Ferdinan tidak terlalu memperlihatkan rasa sedihnya dan selalu menyibukan diri dengan bekerja tapi bi Sarti sangat tahu tuannya itu juga merasakan sedih yang amat dalam.
"Bi Sarti tolong bereskan makan malam, jangan antarkan makanan Reihan biar dia belajar mandiri dengan tidak menyusahkan orang lain." bi Sarti hanya mengangguk patuh. Setelah majikannya pergi bi Sarti mulai membereskan makan malam yang tersaji di meja makan tersebut.
"Bagaimana rasanya?"
Reihan menoleh ke arah pintu kamarnya yang sudah terbuka dan sang Ayah yang sudah berdiri disana dengan kedua tangan yang di masukan kedalam saku celana treningnya. Pria berumur itu memang memiliki gaya style remaja kekinian terkadang Reihan merasa malu jika bepergian dengan Ayahnya.
"Menurut Ayah?" bukannya menjawab Reihan kembali balik bertanya, Ia membersihkan darah kering di sudut bibirnya dengan kain kecil yang sudah dicelupkan pada air hangat. Ferdinana berjalan mendekat lalu mendudukan diri di sofa yang mengarah pada sang anak. Menumpu satu kakinya di atas dengan tangan yang dilipat di atas dada.
"Bagaimana sekolah disana? Pastinya banyak wanita yang mengidolakanmu bukan? mengetahui jika kau memiliki gen ku yang membuatmu sangat tampan." Reihan hanya memutar bola matanya jengah mendengar perkataan sang Ayah.
Ferdinan tertawa renyah, Reihan tak mempedulikan Ia kembali fokus pada kegiatannya.
"Revano." Reihan menghentikan kegiatannya yang sedang mengobati luka ketika mendengar ayahnya menyebutkan nama mantan sahabatnya itu.
"Apa yang membuat kalian berkelahi?" Reihan menghela nafas, mengingat kejadian tadi membuatnya bertambah muak.
"Urusan laki-laki." kata Reihan. Ferdinan mengangkat bahunya tak ingin bertanya lebih. Ia pun bangkit dan berucap sebelum pergi.
"Sebenarnya Ayah sengaja memindahkan kamu kesekolah itu agar bertemu dengan Revano." Reihan mengangkat wajahnya menatap sang Ayah dengan kening mengkerut dan alis yang saling bertautan.
"Maksud Ayah?"
"Setiap masalah harus diselesaikan bukan?" Ferdinan menjeda, Reihan hanya diam menunggu.
"Sudah 6 bulan kamu jadi siswa di sana, kenapa sampai sekarang belum ada peningkatan kalian baikan?"
Reihan hanya diam, ia kembali fokus pada lukanya.
"Kalian sama sama keras kepala dan egois, cuma karena satu wanita harus membuat pertemanan kalian hancur? Seriously?"
"Kalian benar-benar kekanak-kanakan."
"Yah..." geram Reihan, Ferdinan tersenyum disertai tawa kecil.
"Baiklah Ayah tak akan mengucapkan itu lagi, tapi yang jelas Ayah mau kamu berdamai." ucap Ferdinan, Ia beranjak pergi setelah mengakhiri perkataanya. Sedangkan Reihan masih terdiam di tempat duduk di pingguran kasur menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup kembali.
Reihan menundukan kepalanya menatap sebuah sapu tangan dengan bercak darah dari lukanya.
Kenapa harus sesakit ini?
***
Bersambung
Yuk banyak vote dan comentnya
KAMU SEDANG MEMBACA
REVANO (End)
ChickLit⚠️TERDAPAT ADEGAN DEWASA⚠️ (18+) Revano adalah cowok yang telah kehilangan sahabat kecilnya yang juga merupakan cinta pertamanya. Bertahun-tahun lamanya ia mencoba melupakan cinta monyetnya itu, tapi nyatanya tak semudah itu. Namun semua perlahan b...
