"Bagaimana kabar Om?" tanya Revano kepada seorang pria paruh baya yang terduduk di kursi roda, pria yang terlihat pucat itu tersenyum.
"Aku masih kuat untuk bermain basket denganmu." jawab pria itu dengan kekehan. Revano terkekeh, sudah 2 minggu pria itu memakai kursi roda karena kecelakaan jatuh dari tangga mengakibatkan dirinya belum bisa untuk berjalan dengan baik.
"Bagaimana bisnis ayahmu dengan keluarga Yuda?" tanya pria paruh baya tersebut. Revano yang berdiri di sampinya menganggukkan kepalanya.
"Semuanya berjalan lancar." jawabnya.
"Apa mereka tak meminta sesuatu yang aneh padamu? Kau tahu sendiri kan, Yuda sangat menyukaimu yang pekerja keras bahkan menginginkan mu menjadi menantunya, lagi pula anaknya cantik."
"Tidak, mereka tak meminta."
"Kau ingin?" Revano menoleh dengan gelengan.
"Aku mencintai orang lain." Jawabnya.
Pria bernama Jonathan tersebut tersenyum penuh arti melirik sang anak yang sedang bersandar di brankarnya, Amel yang melihat lirikan itu tersenyum malu.
"Lulus sekolah kamu, akan melanjutkan kemana Revano?" Tanya Jonathan.
"Kuliah sambil handel perusahaan ayah."
"Kau yakin? Bukankah kau ingin menjadi seorang dokter?"
"Om tau dari mana?" Tanya Revano heran, lantaran ia tak pernah bercerita apapun pada Jonathan mengenai keinginannya.
"Amel menceritakannya padaku, sejak kecil kau bercita-cita menjadi dokter." Jelasnya.
Revano melirik ke arah Amel yang gadis itu lakukan hanya mengangkat kedua jarinya peach.
"Jangan karena hal itu membuat kamu harus mengubur cita-cintamu sendiri Revano." Ucap Jonathan.
Saat Revano hendak menjawab seketika notifikasi dari ponselnya berbunyi, pesan dari Evelin masuk.
Kamu kapan pulang?
Revano hanya membaca tanpa membalas, ia kemudian memadukan ponselnya kembali ke dalam saku.
***
Revano membuka pintu apartemennya, Ia melangkah masuk dengan tote bag yang berisikan bahan-bahan makanan yang Ia beli dari supermarket tadi. Ia berjalan menuju dapur, menyimpan segala bahan-bahan tersebut ke dalam kulkas. Setelah rapih Ia berlalu menuju kamarnya.
"Evelin." panggil Revano pada kekasihnya yang tengah meringkuk di atas kasur dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Evelin, kalau kedinginan matikan AC nya." kata Revano, pria itu meraih remote lalu mengecilkan suhu AC nya menjadi sedikit lebih hangat. Pria itu mengerutkan kening heran, Evelin tak merespon apapun.
Revano duduk di pinggiran kasur, perlahan membuka selimut yang menutupi tubuh Evelin dan betapa terkejutnya Ia saat melihat perempuan itu yang berderai air mata.
"Evelin ada apa?" tanya Revano panik.
"Evelin Are you okay?" Tanya Revano dengan nada lembut, ia mengusap pelan pipi Evelin yang di banjiri air mata.
Evelin perlahan menatap Revano yang terlihat khawatir, ia berusaha bangkit dari tidurnya lalu memeluk Revano dengan erat. Revano tak bertanya lebih ia memilih mengelus punggung Evelin untuk menenangkannya.
"Don't leave me." Ucap Evelin dengan terisak, Revano hanya diam seraya menunggu gadisnya tenang.
"Cuma kamu yang aku punya sekarang."
"Please, stay here."
Revano dengan tenang mendengarkan, hingga 5 menit kemudian merasa Evelin sudah mulai tenang, Revano melepaskan pelukannya namun tanpa di sangka kekasihnya itu malah tertidur.
Revano merebahkan kembali tubuh Evelin dengan perlahan, ia menghela nafas.
Apa yang seberangnya terjadi?
KAMU SEDANG MEMBACA
REVANO (End)
ChickLit⚠️TERDAPAT ADEGAN DEWASA⚠️ (18+) Revano adalah cowok yang telah kehilangan sahabat kecilnya yang juga merupakan cinta pertamanya. Bertahun-tahun lamanya ia mencoba melupakan cinta monyetnya itu, tapi nyatanya tak semudah itu. Namun semua perlahan b...
