Gara menoleh mendengar suara Garbang rumah besar di hadapannya terbuka, terlihat motor sport hitam keluar. Arsen membuka kaca helmnya "Gar titip adek gue, jangan macem-macem sama dia" Titah Arsen.
"Sanss" Jawab Gara.
Tidak lama setelah itu, perempuan dengan cardigan pink serta rambut yang terkuncir rapih muncul.
"Lama ya Gara?" Sesal Nara.
"Ngga masalah" Gara memberikan satu helm kepada Nara.
"Let's go!" Kata Nara.
Gara langsung melajukan motornya, terdengar Nara bersenandung kecil. laki-laki itu melirik ke arah spion motor dan tersenyum melihat Nara yang terlihat bersemangat pagi ini.
"Happy banget, kenapa?" Gara iseng bertanya.
"Karena dijemput Gara, hehehe" Jawab Nara sambil tertawa.
"Sesimpel itu?"
"Iya" Nara mengangguk sebanyak tiga kali.
Gara termenung, dia baru menyadari jika membuat Nara senang sangat mudah, tapi sedari dulu Gara tidak pernah memberi Feedback yang baik untuk gadis ini.
"Mulai hari ini gue anter jemput lo setiap hari" Cetus Gara.
"Benerann??"
"Hmm" Gara bergumam.
Terjadi keheningan sekian menit, sampai akhirnya Nara kembali memulai topik obrolan.
"Pasti Gara gak tau ya tanggal lahir aku" Celetuk Nara tiba-tiba.
"Siapa bilang? Gue tau, dua puluh dua juli kan" Balas Gara bangga.
"Iya tapi udah kelewat, Gara nggak pernah ngucapin"
"Bulan depan gue ucapin sekaligus pake kado yang lo mau" Jawab Gara.
"Hah kok bulan depan?" Tanya Nara heran.
"Terserah gue"
"Pagi-pagi udah gak jelas" Cibir Nara.
Gara kembali fokus mengendarai motor, sedangkan Nara asik mengamati mobil serta motor yang berlalu lalang.
Saat motor Gara hampir sampai di lampu merah, pemuda itu malah memutar arah dan berhenti tepat di hadapan toko roti yang telah buka.
"Kenapa kita kesini, Gara belum sarapan?"
"Bukan buat gue"
"Lo tunggu, jangan kemana-mana" Titah Gara.
"Okeyyy" Nara menurut tidak bertanya lebih.
Sekitar sepuluh menit Gara berada di dalam toko roti tersebut, laki-laki itu keluar dengan satu paper bag coklat yang dia jinjing.
"Bel berapa menit lagi?"
"Lima belas menit lagi Gara" Beritahu Nara.
Gara mengangguk, dia langsung memakai helm dan mengendarai motor menuju lampu merah tadi.
Tapi, Gara kembali menepi di dekat trotoar yang terdapat beberapa anak kecil. Nara segera turun tanpa di pinta, dia langsung merasa iba melihat anak-anak yang seharusnya pergi sekolah tapi mereka malah mengemis di lampu merah.
Nara langsung paham kenapa Gara membeli banyak roti, karena untuk dia berikan kepada anak kurang mampu ini.
Gara langsung mengeluarkan satu persatu roti tersebut, di bantu Nara agar mempersingkat waktu.
"Makasih kak" Ucap anak-anak itu kompak.
"Iya sama-sama!" Nara menjawab.
"Kak Gara udah lama nggak kesini" Celetuk salah satu dari mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSYAGANA
RomanceSebelum baca follow dulu ya! "Cantik" Arsen berkata pelan. "H-hah?" Tanya Allisya bingung. "Warna mata lo cantik" Perjelas Arsen. "Gue suka" ~ "Lo siapa berani perintah gue?" "Garaa kali ini aja deh, aku janji!" Mohon Nara. "Gue bilang gak ya nggak...
