Suara keras memenuhi area lapangan. Perpaduan antara musik, lagu dan mic menjadi satu dalam satu acara. Festival sekolah telah dimulai, banyak murid antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mulai dari pembukaan, lomba, sampai penentuan menang, semua di mulai dengan hal meriah.
Di pojok lapangan terdapat segerombol Cheerleader yang asik menyemangati perlombaan basket dan di kelas-kelas tertentu di pakai untuk acara lainnya.
Namun semua keasikan itu tak berlaku pada Minnie. Gadis itu memilih berdiam diri didalam kelas. Menjauh pada keramaian dan kesenangan yang ada. Entah kenapa pikirannya mendadak kacau. Kejadian kemarin terus mengiang di pikirannya seakan menjadi vidio yang terus di putar tanpa henti. Minnie merasa tatapan Dino sedikit berubah, lebih lembut dari biasanya. Tatapan intimidasi nya seakan musnah entah kemana dan kini tatapannya berubah seperti anak kucing yang menggemaskan.
"Terus kamu mau ngapain?" tanya Minnie penasaran.
"Jemput lo."
"Sejak kapan kamu jadi baik gini, Jangan-jangan kamu niat jahat. Cepat bilang, mau ngapain lagi kamu!!" Minnie mengencangkan suaranya.
"Kuping lo berfungsi baik kan? Apa gue harus jawab lagi..."
"...gak usah banyak nanya mending sekarang naik bis, kasian supirnya nunggu lo nanya mulu."
Minnie diam, kakinya mengikuti Dino yang lebih dulu masuk kedalam.
BRAKKK!!!!
Minnie tersentak, pintu kelasnya terbuka dengan keras. Lima orang masuk kedalam kelasnya. Menarik dirinya dengan kasar. Orang-orang yang sama seperti kemarin. Seketika nafas Minnie tak beraturan. Wajahnya pucat dengan keringat membasahi wajahnya. Orang-orang itu membawa dirinya sama seperti tempat kemarin, belakang gedung. Dimana jarang orang lewat.
"Kalian mau apa?!!" Tanya Minnie takut.
Jumlah orang di depannya jauh lebih banyak dari pada kemarin. Tubuhnya mengenai aspal setelah mereka mendorongnya. Tanpa aba-aba telur busuk mengenai kepala Minnie. Bau amis kini hinggap pada tubuhnya dilanjut dengan terigu yang dilempari pada kepalanya.
Minnie menunduk, tangannya ia kepal saat mereka tertawa bahagia melihat kondisinya sekarang. Mereka tertawa sangat keras seolah dirinya adalah objek paling lucu.
"Kali ini gak akan ada yang bantuin lo, Dino maupun Juna lagi lomba sekarang."
Laras menyeringai, orang itu menarik tangan Minnie, menyeretnya ke gudang. Ia memberontak begitu tubuhnya di ikat paksa dengan posisi duduk. Tanpa berperasaan Laras menyumpali mulutnya dengan makanan bekas dari tong sampah. Minnie menggeleng kuat agar makanan itu tidak masuk dalam mulutnya, namun sayang, makanan itu masuk dengan cepat kedalam mulutnya, beruntung Minnie melepehnya cepat.
Jujur, ia lemas sekarang. Tidak ada lagi tenaga untuk memberontak. Minnie pasrah dengan yang dilakukan orang-orang tersebut, bahkan Minnie hanya diam saat wajahnya di coret coret dengan spidol, lipstik dan macam-macam make up. Entah sekarang bagaimana bentuk wajahnya. Tidak sampai di situ, kini bajunya pun mereka kotori dengan alat-alat yang mereka pakai untuk wajahnya. Warna bajunya tidak lagi berwarna putih, melainkan warna coretan yang sangat banyak. Sampai ucapan seseorang terdengar, membuat mereka semua berhenti, "mending kita udahan. Anaknya udah lemes banget, kalau mati gimana?"
Laras melirik Minnie sebentar lalu mengangguk. Semuanya pergi tanpa mau membuka ikatan yang ada ditangannya. Tepat saat mereka pergi, tangisan Minnie terdengar. Dadanya sesak, bahunya turun naik tak seirama. Lagi dan lagi untuk kesekian kalinya ia dibully. Di perlakukan tak semestinya. Apakah kehadirannya adalah bencana sehingga orang selalu memperlakukannya begitu, bahkan di tempat yang berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Teen Fiction"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
