Dua Puluh Sembilan

19 2 0
                                        

Ria menangis melihat Dino. Wanita paruh baya itu memeluk Dino sudah hampir lima menit lamanya. Dino sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, toh Dino sendiri suka dengan pelukan ibunya. Minnie sudah masuk ke dalam kamarnya, niatnya ingin mengambil plester penurun panas. Sejak di rumah Cio, Dino selalu menolak meminum obat dan seingat Minnie, ia masih menyimpan beberapa stok plester penurun panas, setidaknya jika Dino tidak mau minun obat Dino bisa memakai itu untuk menurunkan panasnya.

"Kamu selama ini ada di mana?"

"Dino ikut temennya bu."

Minnie menjawab cepat sebelum Dino menjawabnya. Tidak mungkin menjawab Dino selama ini tinggal sendiri di kontrakan, bisa-bisa Dino malah kena omel ibunya nanti.

"Temen yang mana, kamu bilang temennya gak ada yang tau?" tanya Ria pada Minnie.

"Satu orang tau sebenernya tapi dia di suruh Dino bohong."

Cowok itu melotot tidak terima, Minnie benar-benar membuatnya dalam masalah.

"Lain kali jangan kayak gitu lagi ya, ibu dan lainnya banyak yang khawatir."

"Iya bu," jawab Dino.

"Badan kamu panas, ibu buatin bubur ya abis itu minum obat."

"Paksa minum obat bu, Minnie udah nyuruh dari tadi tapi anaknya gak mau."

Sejujurnya Dino masih canggung berada di situasi seperti ini, Minnie pun sama hanya saja cewek itu berpura-pura seperti biasa.

"Ibu buatin sebentar, kamu tunggu sini sama Minnie."

Dino mengangguk, Minnie menyerahkan plester penurun panas pada Dino, membuat cowok itu bingung dengan maksud Minnie.

"Pake kenapa cuma di liatin."

"Gue cuma panas Minnie nanti juga turun."

"Kamu di suruh minum obat gak mau giliran di suruh pake ini juga gak mau, sekarang aku kakak kamu jadi kamu harus nurut sama aku."

Dino tertawa mendengar itu, "harusnya gue gak sih yang kakak, sikap lo aja masih kayak anak kecil."

"Apaan, aku kakak kamu sekarang gak ada istilah kamu jadi kakak."

"Gue pernah denger katanya kalo anak kembar itu aslinya kakaknya yang adek karena adeknya ngebiarin kakaknya duluan yang keluar, eh yang keluar duluan malah yang di sebut kakak."

"Apaan gak ada ya istilah kayak gitu, pokoknya aku kakaknya, cepet di pake."

"Malu udah gede pake gituan."

"Orang gede juga bisa sakit. Cepet pake."

"Itu ibu udah dateng, gue minum obat aja gak usah pake kayak gituan. Lo simpen aja buat lo pake nanti."

Minnie mendengus.

"Ini dimakan abis itu minum obat," Ria menyerahkan bubur dan obat pada Dino.

"Makasih banyak bu."

"Habis ini temuin kakak kamu ya dia bener-bener stres nyariin kamu. Ibu gak akan larang kamu tinggal dengan Bibi kamu kalo kamu mau, tapi kamu harus janji sering-sering temuin ibu."

"Nanti Dino pikirin lagi ya bu mau tinggal bareng siapanya. Tapi malem ini Dino boleh nginep di sini gak? Besok baru ketemu kak Juna sama bibi."

"Boleh, kapan pun kamu mau menginap ibu bakal ngizinin. Kamu anak ibu juga, ibu malah seneng kalo Dino sering nginep di sini."

"Tapi gak papah sama om Sahrul kalo Dino nginep di sini."

"Ayah kamu bukan om. Jangan panggil ayah, om lagi. Sekarang dia juga jadi ayah kamu," ujar Minnie.

My Doll {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang