"kamu ngapain ngajak aku ke sini, udah malem bukannya pulang malah ke sini."
Minnie mengikuti kemana Dino pergi, cowok itu justru berbaring di jalan yang beralaskan karpet, entah karpet itu Dino dapat dari mana. Sekarang jam sembilan malam, Dino benar-benar mengajak Minnie bermain seharian ini, berakhir dengan mereka sekarang di taman alun-alun dekat rumah ayah dan mamanya. Meski sekarang sudah malam tapi alun-alun masih ramai.
Melihat Dino berbaring di atas karpet, Minnie mulai ikut seperti Dino. Tatapannya berfokus pada langit di atas, meski gelap ada bulan purnama yang bersinar terang. Semilir angin mengenai wajah mereka. Dino memberikan dirinya jaket sebelum ke sini sehingga Minnie tidak terlalu merasa dingin, cowok itu benar-benar menyiapkan semuanya matang untuk kegiatan mereka hari ini.
"Dulu aku sering ke sini sama kak Juna sama bibi," ujar Dino setelah di landa keheningan.
"Malem-malem?" tanya Minnie.
"Iya, aku sama kak Juna sering banget jajan di sini tapi sayang jajanan yang kita suka sekarang udah gak ada, tadinya aku mau beliin kamu itu."
Minnie mengangguk, setelahnya kembali hening. Dino dan Minnie benar-benar menikmati angin yang mengenai wajahnya. Sudah lama Dino ingin merasakan hal ini, beruntung cowok itu dapat merasakannya sekarang sebelum ia pergi.
"Makasih ya buat hari ini, makasih udah mau jalan sama aku padahal kamu lagi marah," ucap Dino.
"Sama-sama."
"Besok aku udah gak di sini, jaga diri yang bener ya, jangan terlalu polos, jangan terlalu takut juga sama orang. Hari-hari berikutnya aku udah jauh, kita gak lagi berdekatan," Dino menatap Minnie di sebelahnya.
"Kenapa bahas yang sedih sedih sih, mau aku nangis di sini!!" omel Minnie.
"Makanya jangan nangis, dengerin aja aku ngomong."
"Ya gimana gak mau nangis kalo kamu ngomongnya gitu mulu!!"
Minnie bangkit dari tidurnya, matanya sudah hampir mengeluarkan air mata. Dino terkekeh, lalu ikut duduk di sebelah Minnie.
"Aku aja deh yang jadi kakak, kamu cengeng, ambekan, gak pantes jadi kakak," goda Dino.
Minnie memukul Dino, membuat si empunya meringis. Kali ini pukulan Minnie benar-benar kencang, sedikit sakit bagi Dino.
"Aduh..duh, sakit Minnie." Dino berhasil menangkap tangan Minnie, berhasil menghentikan pukul cewek itu.
"Ayo pulang udah malem takut ibu sama ayah nyariin."
Minnie mengangguk, namun seketika tubuhnya menegang. Dino menarik lengan Minnie pelan, membawanya masuk kedalam pelukannya sebelum mereka pulang kerumahnya.
"Sebentar, mau peluk dulu takut nanti kangen di sana," ujar Dino.
Minnie mengangguk, ia sendiri menikmati pelukan Dino. Saudaranya akan pergi jauh besok, Minnie mungkin bisa kangen dengan pelukan Dino, sosok Dino, segalanya tentang Dino. Membayangkan Dino pergi sudah membuatnya sedih, apalagi besok Minnie benar-benar kehilangan Dino dalam hidupnya.
***
"Minnie beneran gak bisa ikut bu?"
Sejak pagi Minnie terus bertanya seperti itu, bisa di bilang Minnie berucap seperti itu sudah ke sepuluh kali lebih. Mia, Juna, Nurul, Sahrul, Minnie dan temen-teman Dino ikut mengantar ke bandara.
"Gak bisa, kamu di rumah aja temenin ayah, ibu juga cuma satu bulan di sana," ucap Ria.
"Aku bakal baik-baik aja di sana, gak usah sedih kayak gitu."
"Jaga diri yang bener ya Dino, jangan suka nunda makan," ucap Juna.
"Iya kak."
"Baik-baik lo di sana, sakit gak ada yang ngerawat," ucap Bagas.
"Iya, makasih ya udah nyempetin nganter, padahal mah gak usah juga gak papah," Dino berkata pada semua temen-temennya.
"Masa temen mau pergi ke negara orang gak di anter, iya gak," ucap Rendi.
"Gue berangkat dulu."
Minnie menahan tangisnya sejak tadi. Dino dan ibunya kini sudah menghilang dari pandangannya. Juna sebenarnya sejak tadi juga menahan tangisnya, ini pertama kali ia jauh dari Dino, biasanya jarak diantara mereka masih bisa di jangkau tapi untuk kali ini cukup jauh untuk Juna menghampiri Dino.
"Minnie, ayah mau pulang kamu mau ikut apa mau pergi main sama-sama temen-teman?" tanya Sahrul.
"Minnie izin saya bawa main ya pak."
Sahrul menoleh, menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalo Cio di beri izin membawa Minnie pergi.
"Juna, mau mampir ke rumah gak?"
Ngomong-ngomong soal Juna, Sahrul juga menganggap Juna sebagai anaknya, tidak ada perlakuan yang di bedakan di antara Minnie, Dino, maupun Juna. Semuanya Sahrul perlakuan seperti anaknya sendiri.
"Nanti aja ayah, Juna mau ikut mereka main."
Ucapan Juna membuat Cio membulatkan matanya.
"Yaudah ayah pulang duluan. Makasih ya buat temen-temen Dino udah repot-repot nganterin Dino ke bandara."
"Sama-sama om."
"Minnie, ayah pulang dulu, dengerin kata Juna selama main."
"Iya ayah."
Sahrul kini benar-benar pergi, menyisakan beberapa orang saja. Cio hendak akan memproses, namun Juna lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Hari ini kak Juna gak ikut kamu main dulu, kalian boleh pergi berdua tapi inget jangan ngelakuin hal-hal yang gak bener dan buat lo Cio, awas ngajarin adek gue yang aneh-aneh."
"Gue gak sejahat itu buat ngajarin hal-hal yang gak bener."
Juna mengangguk, "kak Juna sama Nurul pulang dulu, kalo ada apa-apa langsung nelpon."
"Iya," jawab Minnie.
Masih ingat dulu Juna pernah tidak suka dengan Cio, anak itu kentara nakal sehingga rasanya Juna selalu was-was jika Dino dan Minnie berteman dengan Cio. Juna tau Cio tidak seburuk itu tapi entah kenapa rasanya masih selalu was-was jika adik-adiknya terlalu dekat dengan Cio, Juna seperti itu bukan berarti benci dengan Cio, karena Juna percaya Cio orang yang selalu bisa menjaga kepercayaan orang lain sekalipun tingkahnya kadang bikin orang kesal.
"Pergi gih kalian, gue mau ngedate," usir Cio pada temen-temannya.
"Wah, songong nih anak, putus baru tau rasa," ujar Putra.
Minnie terkekeh sementara Cio mendengus, "sana gih pergi."
Minnie tertawa pelan setelah teman-temannya yang lainnya pergi. Cio sendiri diam-diam tersenyum melihat Minnie sudah tertawa. Sejak sampai sini Cio hanya melihat raut sedih Minnie. Cio tidak bohong soal perasaannya, entah dari kapan cowok itu mulai tertarik pada Minnie. Dino benar, Minnie istimewa.
"Kita mau kemana?" tanya Minnie.
"Kemana aja mau kamu, gak enak banget dari tadi ngeliat wajah sedih mulu."
"Maaf ya, pasti kamu gak nyaman."
Cio menggeleng, "gak gitu, aku malah ngerasa gak bisa hibur kamu. Jangan sedih lagi ya, aku tau pasti beratkan bagi kamu."
"Cio," panggil Minnie.
"Iya."
"Bantu aku ngelupain Dino ya, maaf kalo sampe sekarang aku belum suka sama kamu."
Cio tersenyum, tangannya mengelus puncak kepala Minnie, "bakal aku bantu, tapi kamu janji harus suka sama aku, jangan tiba-tiba suka nya sama Rendi."
Minnie tertawa, "kenapa tiba-tiba ke Rendi?"
"Gak papah, dia anaknya kocak takut kamu suka sama dia."
End
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Novela Juvenil"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
