"Kamu gak ngajak Dino ke sini lagi?" tanya Sahrul, ayah Minnie.
Minnie tersedak mendengar pertanyaan ayahnya. Keluarganya sedang makan bersama seperti runtinitas setiap malam. Keluarga Minnie memang memiliki kebiasaan makan bersama, baik pagi, siang, maupun malam.
"Kenapa ayah tiba-tiba nanyain Dino?" tanya Minnie.
"Anak itu sangat sopan, ayah suka sama cara dia bicara. Kamu pintar cari teman laki-laki, biasanya anak laki-laki suka sembrono," jelas Sahrul, ayah Minnie.
"Bener, ibu setuju. Waktu nolongin ibu malem-malem aja, Dino sangat ramah. Oh iya, waktu itu ibu pernah nyuruh kamu buat nyamperin Dino di taman, apa dia punya masalah?" tanya Ria, ibu Minnie.
Minnie diam, tidak mungkin ia bercerita tentang masalah antara Dino dengan dirinya. Mengingat kata Juna, Dino sangat merasa bersalah, mungkinkah malam itu Dino memikirkan masalah itu?
"Minnie gak tau bu, dia gak ngomong apa-apa. Kita cuma bahas sekolah sebentar abis itu pulang."
Tolong maafkan Minnie karena berbohong pada orang tuanya. Sungguh, ia sangat tidak mungkin menceritakan hal itu pada orang tuanya.
"Kapan-kapan kamu ajak dia lagi ke sini. Oh iya, ibu gak pernah denger kamu cerita tentang teman perempuan, apa kamu belum punya?" tanya Ria.
Minnie menggeleng, "nyari temen susah bu, itu aja Dino yang deketin aku. Ibu sama ayah kan tau gimana aku, paling susah buat deket sama orang. Aku gak di bully aja udah sangat bersyukur jadi gak masalah kalo aku gak punya temen perempuan di sekolah."
Kedua orang tuanya mengangguk. Apa yang di ucapkan Minnie benar. Dulu di sekolah lamanya, Minnie sangat jarang menceritakan teman perempuannya, bisa di bilang tidak pernah. Sampai dimana Ria dan Sahrul mendapat telpon dari sekolah Minnie kalau Minnie menjadi korban bullying.
Ria dan Sahrul marah, tentu saja. Orang tua mana yang rela anaknya di jadikan bahan bully sementara di rumahnya mereka memperlakukan anaknya begitu sayang. Beruntung saat itu Sahrul juga di mutasi dari tempat kerjanya, lumayan cukup jauh, akhirnya mereka sekeluarga memutuskan pindah, mencari suasana baru. Ria bahkan mencoba membuka toko kue di daerah sini, seperti keinginannya. Sementara Sahrul tetap bekerja di perusahaan yang sekarang. Ria dan Sahrul senang mendengar Minnie mendapat perlakuan yang lebih baik, meskipun mereka berdua belum tau yang sebenarnya terjadi kemarin-kemarin.
"Minnie ke kamar dulu bu, yah." Minnie bangkit setelah menyelesaikan makannya.
Kedua orang tuanya mengangguk. Minnie masuk kedalam kamarnya. Membaringkan tubuhnya ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya membayangkan reaksi ibu dan ayahnya jika tau kejadian itu. Apakah kedua orang tuanya akan memindahkannya lagi atau justru homeschooling.
Lamunannya buyar, ponselnya bergetar di atas nakas. Minnie meraihnya, melihat siapa orang yang membuat ponsel bergetar. Tiba-tiba masuk dua pesan dalam ponselnya, sama-sama dari nomer yang tidak Minnie simpan.
Minnie melihat sebentar foto profil orang itu. Seketika senyuman terbit di bibirnya. Juna mengirimnya pesan untuk menyimpan nomernya, begitu juga Dino, entah bagaimana mereka mendapat nomer Minnie. Tapi tunggu, kenapa mereka bisa bersamaan mengirimi dirinya pesan. Ah iya, Minnie lupa, mereka berdua kan kakak beradik bisa saja mereka sedang bertemu sekarang.
Juna
|Nia, gue Juna, di Save ya.
|kita udah kenal lumayan lama tapi belum saling save nomer.
|maaf gue ngambil nomer lo dari grub.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Novela Juvenil"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
