"Harusnya aku ngikutin kata ibu," gumam Minnie.
Sejak kemarin kepalanya terasa sakit, bahkan tubuhnya terasa sangat lemas. Pagi ini Minnie sudah di larang berangkat ke sekolah namun karena hari ini ada pengambilan nilai untuk pelajaran olahraga maka Minnie memutuskan untuk tetap berangkat.
Selama di sekolah Minnie banyak diam, bahkan beberapa kali ia mengabaikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas.
Tidak ada yang tau jika Minnie sakit karena memang tidak ada teman perempuan yang dekat dengannya. Meskipun sudah sekolah cukup lama tapi sampai sekarang Minnie masih belum mempunyai teman perempuan. Teman yang Minnie punya masih hanya Dino, Juna dan Nurul, selebih dari itu Minnie tidak punya. Biasanya Minnie hanya akan berdiam diri di kelas jika di istirahat atau kalau memang benar-benar bosan Minnie akan pergi ke perpustakaan.
"MINNIE AWAS!!!"
"Auww..."
Terlambat, bola basket berhasil mengenai kepalanya. Sekarang sakit di kepalanya semakin menjadi. Tanpa sadar cairan merah pekat keluar dari hidungnya. Menciptakan kepanikan bagi teman sekelasnya.
"Jangan di dongakin kepalanya," Dino menahan darah itu menggunakan kain, entah kain dari mana Minnie sama sekali tidak bisa berfikir.
"Dino anter Nia ke UKS!!!" pekik Juna.
"Ayo gue anterin ke UKS."
Minnie hanya mengangguk, dengan gerakan pelan Dino memapah Minnie sampai ke UKS, namun sebelum itu Dino meminta pada teman-temannya untuk mengatakan pada guru jika Minnie izin mengikuti pelajaran Olahraga.
Butuh beberapa menit untuk darahnya berhenti, beruntung sekarang mimisan Minnie telah berhenti dan penjaga UKS pun telah memberikan obat pada Minnie untuk mengurangi rasa sakit pada kepalanya.
Jujur, Minnie merasa bersalah pada Dino, ternyata kain yang di pakai untuk menahan darah tadi adalah seragam olahraga Dino, sekarang seragam itu penuh dengan darah. Dino sendiri memang memakai dua baju, sehingga dengan spontan cowok itu melepas seragamnya karena memang Dino masih menggunakan kaos di balik seragam olahraganya. Tapi tetap saja Minnie merasa bersalah.
"Maaf.."
"Maaf buat apa?" tanya Dino heran.
"Seragam kamu, aku minta maaf. Seharusnya kamu gak perlu nahan darahnya pake seragam, sekarang seragam kamu banyak darahnya."
Dino tersenyum, mengusak puncak kepala Minnie. Tatapan Dino membuat Minnie terbuai. Cewek itu tersentak, detak jantungnya kembali berdegup kencang bersamaan dengan usapan lembut di kepalanya. Rasa yang dulu pernah Minnie rasakan saat bersama Juna.
"Gak usah mikirin seragam, pikiran aja kesehatan lo. Lagian udah tau sakit malah tetep ke sekolah," Dino menurunkan tangannya di kepala Minnie.
"Aku cuma gak mau ketinggalan praktek olahraga," sesal Minnie.
"Lain kali jangan kayak gitu, kesehatan lo lebih penting dari pada nilai. Untung penjaga UKS ngasih tau gue kalo lo emang udah sakit sebelum kena bola."
Minnie mengangguk paham. Atensi keduanya teralih begitu pintu terbuka, Cio datang bersama Rendi dan Bagas, Pelaku utama yang melempari Minnie bola.
"Nia lo gak papah kan? Maaf gue beneran gak sengaja," ujar Cio.
"Aku gak papah kok."
"Tapi lo sampe mimisan gitu, sakit banget kan pasti tadi. Si Cio tuh ngelempar bolanya gak kira-kira."
"Tapi aku beneran gak papah, emang udah sakit sebelum kena bola makanya bisa sampe mimisan."
"Baju Lo kena darah terus gimana mau olahraganya?" tanya Bagas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Teen Fiction"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
