Lima Belas

24 4 0
                                        

Sudah beberapa hari setelah Minnie bertemu dengan Dino malam itu, keduanya mulai berinteraksi seperti teman pada umumnya. Cewek itu juga merasa tidak ada lagi yang membully nya di kelas maupun luar kelas. Sejak kejadian geng Laras di keluarkan, banyak murid yang takut melakukan hal seperti itu lagi.

Sejujurnya Minnie merasa kesepian setelah pindah duduk. Saat itu ia pindah dalam keadaan emosi, setelah emosi itu menghilang Minnie merasa kesepian tidak punya teman sebangku. Dulu, ada Dino yang menjengkelkan yang selalu membuatnya kesal, tapi sekarang Minnie merasa aneh dengan keadaan sekarang. Bukan, bukan maksudnya tidak bersyukur. Minnie hanya merasa kehilangan teman sebangku tidak lebih.

"Lo gak bosen duduk sendiri?"

Dino duduk di sebelah Minnie. Sekalipun cewek itu duduk sendiri, bangku di sebelahnya tetap ada hanya saja tidak ada yang mengisinya.

Seperti biasa, Minnie menghabiskan waktu istirahatnya di kelas, menghabiskan bekal yang di bawa. Cewek itu menoleh begitu Dino duduk di sebelahnya. Namun bukan itu fokusnya, melainkan bekal di tangan Dino. Minnie tersenyum kecil, sejak kapan cowok itu mau membawa bekal.

"Kamu bawa bekel, tumben?" Minnie masih memperhatikan gerak-gerik Dino.

"Bibi gue maksa, gue mana mau bawa bekel sebenarnya."

Minnie mengangguk, tangan kembali mengarahkan makanan ke mulutnya. Keduanya kini makan bekal bersama dalam keadaan hening.

"Lo gak mau balik ke bangku gue? Katanya udah maafin."

Minnie diam, ia sendiri bingung mau menjawab apa.

"Maaf, tapi kalo buat itu aku gak tau. Besok kamu bawa bekel lagi?" tanya Minnie.

"Gak tau, liat bibi gue gimana. Lo udah gak ada yang bully lagi kan?"

Minnie menggeleng, "gak ada."

"Bagus deh."

***

Juna tersenyum, diam-diam cowok itu memperhatikan interaksi Dino dan Minnie. Setidaknya melihat mereka akur membuat Juna tenang. Setiap ke rumah bibi nya Juna selalu mendapati Dino dalam keadaan menyesal, meskipun adiknya tidak menunjukan pada dirinya. Kejadian itu, Mia sama sekali tidak tau dan Juna tidak ada niatan memberitahu bibinya. Entah perbuatannya benar atau tidak, tapi yang pasti Juna tidak ingin membuat Dino dalam masalah, bisa saja jika bibi nya tau Dino dalam masalah. Melihat anak itu murung saja sudah membuat Juna sedih, apalagi melihat adiknya penuh masalah. Tidak tau saja Juna sebenarnya Dino sudah memendam beban lebih besar.

"Ngeliatin apa?"

Juna tersentak, raut kagetnya berubah menjadi senyuman manis. Seseorang yang spesial baginya secara batin.

Nurul, seorang perempuan yang berhasil merebut hati Juna setahun yang lalu. Berkat kepribadiannya yang unik. Mereka satu SMP dulu, Nurul adalah adik kelas Juna saat itu tetapi tetap kakak kelas Dino, namun kali di SMA sekarang, Nurul menjadi kakak kelasnya mengingat Juna telat sekolah dua tahun.

"Dino, dia udah baikan sama Nia. Aku seneng banget liatnya," Juna kembali tersenyum membahas hal ini pada Nurul.

Cewek itu mengangguk, "anak yang di bully itu? Jadi penasaran deh yang mana orangnya. Selama ini anak kelas dua belas cuma tau namanya aja, buat wajahnya sama sekali gak tau."

"Itu yang lagi duduk sama Dino."

Nurul mengikuti arah jari Juna, "wajahnya lucu banget, yakin dia yang di bully?"

"Iya, anehkan. Aku aja gemes sama dia, malahan secara gak sadar aku nganggep dia kayak adek sendiri. Tatapan mata dia mirip banget lagian sama Dino."

"Jangan-jangan jodoh kali, aku pernah denger kalo jodoh itu hampir mirip."

"Ngaco, mereka aja aslinya kayak tom and Jerry. Udah yuk jangan di sini, gak enak banget ngobrolnya sambil ngumpet gini."

Nurul tertawa, ucapan Juna ada benarnya. Sejak tadi mereka berdua mengumpat agar Dino dan Minnie tidak menyadari keberadaannya.

"Ya udah ayo."

***

"Dino tunggu!!!"

Cowok itu berhenti, Laras berlari menghampirinya. Dino membiarkan Laras menetralkan deru nafasnya. Sebenarnya Dino bingung alasan Laras ke rumahnya, cewek itu sudah tidak pernah lagi ke sini sejak kelas mereka beda, di tambah sekarang mereka tidak dekat.

"Gue minta maaf," sesal cewek itu.

"Jangan sama gue, minta maaf sama Minnie," ucap Dino dengan wajah datarnya.

"Lo kenapa sekarang berubah sih Dino. Lo beda sejak ada cewek itu, dia sebenernya siapanya lo. Waktu itu lo nganggep dia boneka, giliran gue ikutan lo malah marah sama gue. Lo lupa kita temenan udah lama, kenapa rasanya sekarang gue ngerasa jauh sama lo," ujar Laras.

"Lo yang buat gue gini Ras, lo gak inget waktu lo nyuruh gue ngejauh kalo gue masih ngelarang lo buat bully orang. Gue gak berubah sama sekali Laras tapi lo yang berubah. Gue ingetin sekali lagi, gue kayak gini bukan karena orang lain apalagi gara-gara Minnie, gue gini murni karena sikap lo yang egois. Satu lagi, maksud dari kata boneka gue itu bukan bahan bullyan tapi boneka gue yang artinya cuma punya gue."

"Lo pacaran sama dia?" tanya Laras.

Dino diam, tatapannya ia alihkan pada yang lain. Cowok itu tidak bisa menjawab pertanyaan Laras barusan. Nyatanya memang benar Dino dan Minnie tidak pacaran. Dino hanya merasa Minnie gadis yang unik. Apakah Dino egois jika mengklaim Minnie adalah miliknya.

"Gue gini karena suka sama lo Dino, gue gak mau lo deket sama siapapun. Gue minta maaf sempet nyuruh lo ngejauh dari gue, tapi gue mohon tetep izinin gue deket sama lo," pinta Laras.

Dino kembali menatap Laras di hadapannya. Tatapan keduanya beradu setelah Laras melontarkan kalimat tadi.

"Lo bukan suka sama gue, lo cuma terobsesi sama gue. Kalo lo suka sama gue lo gak akan pernah berbuat sejauh ini apalagi sampe membully orang."

"Gue gak suka liat lo sama anak baru itu Dino!!!"

"Tapi gue merasa anak baru itu jauh lebih baik dari lo. Buang jauh-jauh perasaan lo sama gue karena sampe kapan pun gue gak akan pernah lagi suka sama orang kayak lo."

Dino masuk ke dalam rumahnya, mengabaikan teriakan Laras di luar. Jujur, Dino memang pernah suka pada Laras jauh sebelum dirinya tau Laras seorang pembully.









Tbc...

My Doll {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang