Minnie menghela nafas kesekian kalinya. Hujan masih Deras-derasnya tapi ia harus keluar dari toko. Setelah pulang sekolah Minnie memutuskan ke toko kue ibunya. Sesampainya di sana ibunya justru menyuruh Minnie pergi ke minimarket untuk membeli margarin dan tepung. Dengan bekal uang dan payung akhirnya Minnie berangkat.
Namun langkah Minnie harus terhenti begitu matanya menangkap seseorang familiar baginya. Minnie memutuskan mendekat. Cewek itu mendengus pelan, Dino duduk seorang diri di bangku taman dengan keadaan basah kuyup, kepalanya menunduk dengan bahu bergetar. Minnie yakin Dino sudah lama di sini, terlihat jelas tubuhnya menggigil kedinginan.
Dino mendongak ketika cowok itu tidak lagi merasa tetesan air di tubuhnya. Dino fikir hujan sudah berhenti ternyata bukan, Minnie berdiri di hadapannya dengan payung yang di atas kepalanya.
"Ngapain lo di sini?" tanya Dino.
Minnie meringis, wajah Dino sangat pucat, berapa lama cowok itu berdiam diri di sini.
"Aku yang harusnya nanya!!!" Minnie sengaja berteriak agar Dino mendengar ucapannya.
Dino terkekeh, cowok itu bangkit, menatap Minnie yang lebih pendek darinya. Cewek itu sama seperti dirinya, sama-sama menggunakan seragam sekolah.
"Belum ganti seragam?" tanya Dino.
Minnie tidak menjawab, fokusnya tertuju pada wajah Dino, terlihat jelas bekas luka lebam di beberapa bagian wajah Dino. Melihat itu membuat Minnie meringis, "ayo ikut aku, biar aku obatin luka kamu."
Minnie tau kasus Dino bertengkar dengan kakak kelasnya. Nurul sudah menjelaskan semuanya, meskipun alasan Dino bertengkar hari ini Minnie belum mengetahuinya.
"Gak usah, udah di obatin tadi."
Minnie menggeleng, "ikut aku sekarang tapi aku harus ke minimarket dulu."
Dino mengalah, cowok itu hanya diam selama tangannya di tarik Minnie.
"Kamu sini mepet ke aku nanti ke ujanan lagi."
Minnie semakin menarik tangan Dino agar mendekat ke payung. Namun sebelum mendekat, Dino lebih dulu menjauh, melepas genggaman tangan mereka.
"Baju gue udah basah jadi gak papah sekalian hujan-hujanan. Kalo lo masih kering nanti yang ada malah ikut basah karena kena gue," ujar Dino.
"Tapi kamu bisa sakit, entah berapa lama kamu di bawah air hujan."
"Gak akan, gue kan strong."
***
Minnie terkekeh melihat kondisi Dino, hidung merah di tambah bersin-bersin, bukannya Minnie senang karena Dino Sakit, tapi Minnie terkekeh mengingat ucapan Dino beberapa waktu yang lalu.
"Katanya strong tapi kok sekarang bersin-bersin," Minnie duduk di sebelah Dino.
Cowok itu kembali menginjakkan diri di rumah Minnie setelah beberapa hari. Ria tidak tega melihat kondisi Dino, alhasil wanita paruh baya itu memutuskan untuk menutup toko kue nya. Mengajak Dino pulang ke rumahnya. Minnie bahkan di buat bingung oleh sikap ibunya.
Dino berdecak malas, Minnie terus meledek dirinya setelah kondisinya seperti ini. Sejujurnya Dino merasa tidak enak pada kedua orang tua Minnie, Dino merasa seperti beban untuk mereka bahkan ibu Minnie sampai menutup toko demi dirinya.
"Ini, ibu aku udah bikinin bubur di makan, abis itu minum obatnya," jelas Minnie.
"Gue gak enak sama ibu lo. Harusnya lo gak usah ngajak gue tadi, ibu lo bela-belain nutup tokonya cuma buat bikinin gue bubur."
Dino menyuap bubur pemberian Ria. Rasanya sangat pas di lidahnya, selama ini Dino belum pernah mencoba bubur buatan mamanya. Biasanya saat sakit Juna lah yang membuatkan dirinya bubur meskipun rasanya kadang-kadang terlalu asin.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Novela Juvenil"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
