Satu tahun telah berlalu, satu tahun bukan waktu yang singkat untuk setiap momen berharga yang datang di setiap detik. Setahun ini juga Dino merasa hidupnya mulai terarah, tidak lagi tersesat meskipun masalah tetap ada.
Ngomong-ngomong soal perasaannya pada Minnie, jujur Dino belum bisa melupakan cewek itu. Entah kenapa perasaannya setiap hari semakin menambah padahal Dino yakin cewek itu sudah berhasil melupakan dirinya, terbukti sekarang Minnie dan Cio berpacaran. Entah apa yang membuat temannya suka pada Minnie. Cio benar-benar tulus menyukai Minnie sama seperti Dino menyukai Minnie, cowok itu juga memiliki keinginan untuk melindungi Minnie. Sebenarnya Dino senang karena Minnie sudah melupakannya tapi semuanya masih berat untuk Dino. Jika di ingat kembali, yang sepertinya suka dengan Minnie adalah putra tapi endingnya Cio yang justru berpacaran dengan Minnie, padahal Dino ingat Minnie tidak pernah mau pacaran bahkan ketika cewek itu dulu masih menyukainya.
Sudah hampir dua bulan Dino tinggal satu atap dengan Minnie. Mia ada keperluan di tempat kerjanya sehingga di pindahkan beberapa bulan ke kota lain, mengingat bibinya gampang khawatir pada dirinya akhirnya bibinya menyuruh Dino untuk tinggal bersama ibunya selama Mia belum kembali. Hubungan Dino dan Juna kian membaik meski terkadang mamanya melarang Juna untuk terlalu dekat dengannya. Minnie juga mulai memanggil Juna dengan sebutan kakak. Teman-teman Dino mulai ramah pada Juna sejak tau Juna adalah kakak Dino dan Minnie, intinya semua perlahan berubah dari hidup Dino, kecuali perasaannya pada Minnie.
"Kalian abis lulus mau lanjut kemana?" tanya Nurul, cewek yang sudah lulus sejak tahun kemarin. Anehnya meski begitu statusnya dengan Juna belum berakhir, keduanya masih berpacaran sampai detik ini, Dino selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua.
Ngomong-ngomong, sekarang keempat orang itu sedang berada di cafe setelah joging pagi. Sekedar nongkrong biasa, paling-paling mereka memesan satu minuman perorang.
"Aku lanjut kuliah di sini aja gak mau jauh-jauh. Gak tau kalo Dino sama Nia."
"Aku belum kepikiran kuliah, mau bantu ibu aja di toko kayaknya seru. Kalo kamu gimana Dino?"
"Aku ngambil beasiswa di luar negeri."
Minnie terdiam begitu pula dengan Nurul dan Juna. Mereka tidak tau alasan kenapa Dino memilih kuliah di negri orang. Jujur, Minnie mempunyai pemikiran kalau Dino sengaja kuliah di tempat yang sangat jauh untuk menghindarinya.
"Kenapa kamu gak cerita?" tanya Minnie dengan suara pelan.
"Sebenarnya udah lama sih kepengen kuliah di luar negeri, awalnya coba-coba ikutan tes karena udah yakin pasti gagal tapi ternyata keterima," sebisa mungkin Dino tenang menjawab pertanyaan Minnie.
"Kak Juna bakal dukung kamu selama menurut kamu itu baik, iyakan Nurul."
Cewek itu mengangguk, "lagian kalo kamu keterima beasiswa wajar sih, kamu juga pinter di bidang akademik."
Dino mengangguk, diam-diam cowok itu memperlihatkan sikap Minnie, cewek itu banyak diam setelah tau rencananya. Dino terpaksa melakukan ini, selama setahun Dino belum bisa melupakan Minnie dan cara satu-satunya adalah menjauh sejauh-jauhnya dari kehidupan Minnie.
***
"Kamu bohongkan soal kuliah di luar negeri?"
Dino menoleh, atensi sepenuhnya di arahkan pada Minnie. Juna dan Nurul sudah pulang lebih dulu sementara Minnie dan Dino memutuskan lebih lama di cafe. Suasana sempat hening bermenit-menit, sampai pertanyaan Minnie barusan membuat keduanya memulai percakapan.
"Sayangnya enggak," Dino mengaduk ramen di dalam mangkoknya. Cowok itu merasa lapar sehingga memutuskan untuk memesan ramen, sementara Minnie hanya memesan milk tea.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Teen Fiction"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
