Delapan Belas

25 4 0
                                        

"Kamu kemaren kemana?"

Dino menoleh, Minnie mendekat ke arahnya. Seperti biasa, Dino menghabiskan waktu paginya di atap seorang diri. Cowok itu sama sekali tidak menyangka kedatangan Minnie ke sini.

Keduanya sama-sama diam, menikmati semilir angin yang mengenai wajahnya, membiarkan rasa dingin mengenai kulitnya. Keheningan di antara mereka tercipta bermenit-menit, tidak ada niatan bagi mereka mengeluarkan suara untuk saat ini.

Entahlah, Minnie sendiri tidak tau kenapa kakinya melangkah ke atap. Begitu masuk kelas tadi, ia mendapati tas Dino di sana, tanpa berfikir panjang Minnie melangkahkan kakinya kesini. Siapa sangka ternyata Dino memang ada di sini.

Minnie heran, kenapa cowok itu mau datang pagi-pagi hanya untuk berdiam diri di atap padahal ada tempat yang masih bisa Dino kunjungi selain atap.

"Kamu kemana kemaren?" tanya Minnie lagi.

"Di rumah," jawab Dino tanpa mengalihkan perhatiannya.

Minnie menggeleng, "setelah dari rumah aku, kamu kemana?"

Kali ini Dino melihat Minnie, tatapannya terpaku pada mata Minnie. Tatapan cewek itu seakan memiliki magnet yang membuat Dino enggan mengalihkan pandangannya.

"Juna nanyain kamu ke aku, dia kira kamu lagi sama aku. Juna khawatir banget kamu belum pulang sampe malem."

Melihat respon Dino yang diam, Minnie tau apa yang cowok itu fikirkan.

"Juna udah ngasih tau semuanya, kamu tenang aja aku gak akan cerita ke siapapun tentang status persaudaraan kalian."

Dino menghela nafas, pandangannya kembali pada depan. Dino kesal namun ia sendiri tidak bisa menyangkal fakta itu. Dino tetep tidak bisa melarang kakaknya untuk membeberkan status mereka sebagai saudara meskipun bukan kandung.

"Lain kali kalo ada masalah bicarain baik-baik, jangan ngindar kayak kemaren. Kamu bisa ngindarin masalah sesaat tapi setelahnya akan ada masalah baru yang bakal dateng."

Dino tetap diam namun telinganya mendengar semua ucapan Minnie. Cewek itu benar, dengan dirinya menghindar bukan menjadi solusi untuk dirinya. Takdirnya memang sudah tertulis menjadi adik tiri Juna, kalaupun Dino menghindar yang ada justru keadaan makin runyam.

Haruskah Dino membuka diri pada Juna, membiarkan orang tuanya tetap membencinya. Sejujurnya ia capek hidup seperti ini. Dalam lubuk hatinya, Dino sangat ingin kembali seperti dulu dengan kakaknya. Bolehkah kali ini Dino egois, egois demi kebahagiaan dirinya. Ia hanya ingin merasakan kembali hangatnya perhatian saudara.

Baiklah, kali ini Dino pastikan untuk menerima takdirnya. Menerima hubungan dirinya dengan Juna sebagai saudara tiri. Membiarkan orang tuanya membenci dirinya karena keegoisannya. Dino hanya ingin dekat dengan Juna lagi, tidak peduli orang tuanya melarang atau mengancamnya.

"Karena sekarang aku temen kamu, kamu bisa jadiin aku temen cerita," ujar Minnie.

***

Siang yang terik selalu membuat orang malas beraktivitas. Melakukan hal ringan sekalipun dapat menimbulkan keringat berlebih dan juga rasa haus.

Sekarang pelajaran olahraga, hari dimana banyak murid yang mengeluh. Berkeringat saat olahraga memang sangat baik tapi jika sepanas ini cuacanya akan sangat melelahkan.

Minnie sengaja membeli minum dua botol, satu untuk dirinya, satu lagi untuk Juna, cowok itu terlihat kelelahan setelah olahraga tadi. Namun langkah Minnie terhenti, cewek itu diam menatap pemandangan di depannya. Juna menerima pemberian seseorang, Minnie sendiri asing dengan orang itu. Lamunannya buyar begitu Juna melihat dirinya, menyuruh Minnie mendekat ke arahnya.

My Doll {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang