Tiga Belas

30 4 0
                                        

Hawa semakin dingin, hari semakin larut, suara jangkrik bahkan lebih mendominasi, menandakan malam telah tiba. Dino termenung di balkon kamarnya. Pikirannya tidak bisa lepas pada kejadian di sekolah tadi. Minnie marah besar padanya, bahkan terlihat sangat takut padanya. Seakan dirinya yang menyuruh mereka untuk membully nya.

"Pergi."

"Lo udah sadar? tunggu biar gue panggil penjaga u.."

"AKU BILANG PERGI!!"

"JANGAN MENDEKAT!!! PERGI!!!"

"hiks."

"Tolong jangan mendekat."

Dino mematung, Minnie ketakutan seperti bukan dirinya. Cewek itu terisak dengan gemetar hebat di tubuhnya. Minnie bahkan melempari Dino dengan barang yang ada di dekatnya. Beruntung sebelum barang-barang itu mengenainya, Dino di tarik lebih dulu oleh Juna lalu disusul dengan penjaga Uks.

Dino berbalik, lamunannya buyar saat sesuatu mengenai punggungnya. Juna tersenyum, tangannya masih setia mengusap punggung adiknya. Sejak dulu Juna selalu melakukan hal ini saat adiknya sedang dalam masalah. Jelas sekali kalau Dino masih memikirkan kejadian di sekolah tadi. Juna sendiri tidak menyalahkan Dino sebagai pelaku karena memang bukan cowok itu yang melakukan. Tapi bagi Dino, cowok itu yang membuat Minnie seperti itu.

"Gak usah di pikirin kejadian di sekolah," ucap Juna.

"Mau ngapain disini?" Dino bertanya tanpa melihat orang disebelahnya. Matanya masih setiap menatap kearah depan.

"Kayaknya lo udah tau jawabannya."

"Pergi," Satu kata yang membuat Juna terkejut namun tetap mengendalikan ekspresi wajahnya.

"Kenapa harus pergi, bibi sendiri yang ngebolehin gue disini."

Dino mengepalkan tangannya di bawah. Ingatan kalau Juna bukan kakaknya kembali memenuhi pikirannya. Ditambah dengan kejadian siang tadi membuat pikirannya semakin bingung. Emosinya seakan datang tanpa sebab, atau memang dasarnya Dino yang selalu di kuasai dengan emosi.

"Kita gak ada ikatan apapun, jadi berhenti untuk bersikap lo kakak gue."

Dino meninggalkan Juna. Cowok itu pergi bukan menuju kamarnya, bahkan Juna sendiri bisa melihat Dino pergi dari rumah dengan motornya.

Juna sedikit bingung dengan ucapan Dino barusan. Tak ada ikatan apapun? Jelas-jelas kalau Dino adiknya, tapi kenapa cowok itu berkata demikian. Apakah mungkin ada sesuatu yang tidak ia ketahui namun Dino mengetahuinya.

Juna yakin jika hanya sekedar emosi Dino tidak akan berkata seperti itu. Dari kalimat Dino tadi seperti mengartikan sesuatu yang belum ia ketahui. Kenapa kali ini Jun sedikit takut pada ucapan Dino. Semoga saja apa yang dikatakan Dino tak ada arti apapun.

***

Kasus pembullyan kemarin terdengar sampai ke telinga guru. Tanpa berfikir panjang para guru dan kepsek mengambil tindakan, memanggil semua murid yang bersangkutan. Setidaknya banyak murid yang mengaku sebagai korban pembullyan Laras sehingga kasus bullying itu terselesaikan dengan cepat.

Laras dan teman-temannya di keluarkan dari sekolah. Mungkin ada beberapa anak yang hanya di skorsing, bukan bagian dari geng Laras namun cukup membantu dalam urusan bullying.

Minnie menghela nafas lega saat tau kabar tersebut. Namun beberapa hari ini ia menghindari Dino, tak peduli cowok itu mendekatinya, Minnie lebih tertutup pada semua orang yang berusaha mendekatkan dirinya.

Jujur, Minnie merasakan sesuatu yang berbeda. Sebelum dan sesudah ketika ia berdekatan dengan Dino dan tidak. Apalagi pembullyan yang ia rasakan telah hilang. Hidupnya terasa tenang namun seakan ada hal yang hilang dari dirinya. Minnie tak tahu apa itu, tapi rasanya aneh saat berjauhan dengan Dino. Mengingat biasanya ia duduk bersama Dino namun kali ini tidak. Minnie memutuskan untuk pindah ke tempat duduk lain setelah kejadian itu, ia merasa beruntung kasus kemarin tidak sampai memanggil orang tuanya, jika kedua orang tuanya harus di panggil, maka akan sulit urusannya.

My Doll {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang