Dua Puluh Tiga

21 3 0
                                        

Seminggu setelah percakapan Dino dan Juna di atap sekolah. Sejak saat itu mereka tidak lagi saling sapa saat berpapasan. Bukan karena Dino, tapi Juna sendiri yang menjauh. Menimbulkan rasa penasaran bagi Mia. Wanita itu merasa ada yang aneh pada dua ponakannya. Juna biasanya selalu main ke rumahnya, namun selama seminggu ini tidak pernah berkunjung, jangankan untuk main, Mia hanya membahas Dino saja Juna langsung mengalihkan percakapan.

"Kamu berantem sama Juna?" tanya Mia.

"Enggak..."

"Gak usah bohong, bibi perhatiin seminggu ini hubungan kalian kayak renggang."

Dino menghela nafas pelan, "kak Juna udah tau kita bukan saudara kandung. Mungkin sekarang kak Juna benci sama Dino."

"Gak mungkin Juna benci kamu. Dia sayang banget sama kamu, gimana bisa dia benci sama kamu."

"Kenapa bibi yakin banget? Perasaan orang bisa aja berubah," ujar Dino.

"Nanti bibi bilang sama Juna soal masalah ini."

"Gak perlu bi, gak ada gunanya juga. Aku berangkat dulu, assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

***

"Kamu kenapa, lagi ada masalah?"

Nurul memainkan rambut Juna. Mereka sedang berada di ruang olahraga. Entah kenapa tiba-tiba Juna meminta Nurul untuk menemuinya di ruangan ini setelah bel istirahat berbunyi.

Begitu sampai di ruang olahraga, Nurul melihat Juna duduk dengan kepala menunduk. Cowok itu duduk di bangku pojok, bahkan kedatangan Nurul saja Juna tidak menyadarinya. Saat tangan Nurul menyentuh bahunya barulah Juna menyadari kedatangan cewek itu.

Sempat hening sesaat, Nurul asik memainkan rambut Juna selama cowok itu menunduk. Jelas sikap Juna yang seperti ini membuatnya khawatir.

"Dino bukan adik kandung aku," Juna menatap Nurul. Tatapan mereka bertemu beberapa saat. Nurul tersenyum seolah memberi kekuatan. Cewek itu yakin sekarang Juna sedang tidak baik. Maka dari itu hanya senyuman yang dapat Nurul beri. Nurul tidak ingin bertanya lebih jauh sebelum Juna bercerita dengan sendirinya.

"Udah seminggu aku tau karena gak sengaja denger percakapan orang tua aku malem-malem. Mereka bilang bakal misahin aku sama Dino, aku takut kalo beneran terjadi, di tambah selama ini juga hubungan aku sama Dino gak terlalu baik, aku khawatir soal itu."

"Tapi kamu gak benci sama Dino kan setelah tau fakta ini?" tanya Nurul.

"Enggak, aku cuma kecewa aja. Kenapa Dino harus nutupin semua ini kalo dia udah tau masalah ini dari awal," jawab Juna.

"Sama kayak kamu, mungkin Dino juga sama ngerasain hal ini tapi bedanya bukan kecewa sama kamu tapi mungkin kecewa sama diri sendiri. Kamu gak tau mungkin aja Dino ngalamin hal buruk lebih dari kamu. Dino anaknya terlalu pinter nutupin isi hatinya. Aku yakin kalian berdua cuma butuh bicara dengan kepala dingin. Jangan kayak gini lagi ya, aku khawatir sama kamu karena seminggu ini mendadak suka ngilang-ngilangan."

Senyum Juna terbit setelah mendengar kalimat pandang dari Nurul. Cewek di depannya selalu bisa membuatnya tenang. Padahal umurnya masih lebih muda darinya tapi kadang kala Nurul bersikap lebih dewasa dari pada dirinya.

"Makasih ya kak Nurul," goda Juna.

Seketika cewek itu mendengus, "kebiasaan, umur aku masih lebih muda loh dari kamu."

"Tapi kan kamu kakak kelasnya,"  ujar Juna lagi.

"Ya tapi kan kamu yang lebih tua."

"Tapi orang-orang taunya kamu yang lebih tua, kan kamu kakak kelasnya di sini bukan aku."

My Doll {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang