Dua puluh

38 3 0
                                        

Beberapa hari setelah kejadian Minnie dan Dino bertemu kakak kelasnya, beberapa hari ini juga Minnie juga selalu di ganggu, namun cewek itu tidak pernah bercerita pada Dino bahkan jika cowok itu menanyakan padanya Minnie selalu bohong, berkata jika dirinya tidak di ganggu. Minnie tidak mau Dino terlibat dalam pertengkaran, selama Minnie masih bisa menanganinya maka akan ia lakukan.

"Dino aku boleh nanya gak?"

"Apa."

"Kamu bilang kamu pernah berantem sama kakak kelas itu, Juna sama kak Nurul tau soal itu?" tanya Minnie.

"Gak, mereka berdua sama sekali gak tau soal ini."

Oke, Dino tidak mempermasalahkan Minnie memanggil Juna tidak menggunakan embel-embel kak.

"Kenapa gak di kasih tau?"

"Bisa abis gue sama kak Juna kalo ketauan berantem, apalagi gara-gara bela dia. Dari gue kecil kak Juna selalu ngelarang gue buat pake kekerasan."

Minnie mengangguk faham. Cewek itu diam karena sudah tidak ada lagi yang ingin di tanyakan. Namun pertanyaan selanjutnya dari Dino membuat Minnie bingung plus kelabakan.

"Orang itu gak pernah gangguin lo kan?"

Dino menoleh pada Minnie di sebelahnya. Ini sudah kesekian mereka menghabiskan waktu pagi di atap.

"E-enggak.."

Dino memincingkan matanya, "kenapa harus gugup, lo gak bohong kan?" tanya Dino selidik.

"Enggak ih, kalo aku di ganggu mana mungkin aku baik-baik aja sekarang."

Minnie menghela nafas lega setelah melihat Dino mengangguk. Bohong, Minnie mengatakan kebohongan pada Dino. Beberapa hari terakhir orang itu selalu menerornya lewat chatting, bahkan Minnie sendiri tidak tau orang itu dapat nomernya dari mana. Di tambah terkadang mereka suka berpapasan, sehingga orang itu semakin gencar mengusili nya. Minnie masih bersyukur setidaknya orang itu tidak melakukan kekerasan fisik yang membuat mentalnya down, hanya sekadar kata-kata penggoda atau lebih tepatnya memang mengoda lewat ucapan.

"Gue mau ke kelas, lo masih mau di sini?" tanya Dino.

"Iya."

Dino mengangguk, cowok menjauh dari tempat ini, menyisahkan Minnie seorang diri. Tatapan dan fokusnya masih menuju hamparan luas di depannya, Minnie mendekat pada pembatas atap, sekedar merasakan kesejukan. Angin terus berhembus mengenai wajahnya, membuat beberapa rambutnya berkibar. Situasi seperti inilah yang sangat nyaman baginya. Dalam hati Minnie membatin, kenapa masa sekolahnya di penuh masalah terus menerus. Apa dirinya tidak bisa menjadi murid yang normal tanpa terlibat masalah.

***

Setelah memutuskan turun dari atap, Dino tidak langsung pergi ke kelas. Kakinya justru melangkah ke kantin, pagi ini ia cukup lapar karena memang belum sarapan. Mia masih tidur dan ia tidak enak jika harus membangunkan bibinya, maka dari itu Dino memutuskan sarapan di kantin sekolah.

Semua berjalan baik sebelum Dino berpapasan dengan kakak kelasnya, Riki. Dino menghentikan langkahnya secara spontan setelah orang itu membisikan sesuatu padanya, kalimat yang membuat emosinya naik.

"Tubuh boneka lo bagus juga."

Tanpa melihat sekeliling, Dino melayangkan pukulan di wajah Riki, beberapa orang yang ada di sana memekik. Tidak menduga ada perkelahian di pagi hari. Sekolah sudah ramai karena memang sudah setengah tujuh, di tambah Dino sendiri sudah menghabiskan waktu cukup lama di atap tadi.

Detik selanjutnya perkelahian lebih parah di mulai. Riki melayangkan pukulan yang sama pada Dino, merasa tidak terima Dino kembali membalasnya. Tidak ada satupun murid yang melerai, mereka terlalu takut untuk sekedar melerainya, kebanyakan orang yang ada di Koridor sini siswi jadi mereka terlalu takut untuk melerai perkelahian antar dua cowok itu.

My Doll {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang