Dua Puluh Tujuh

17 3 0
                                        

Setelah kejadian di taman, Dino dan Minnie benar-benar menjadi dekat. Teman-teman Dino sudah mengira ada sesuatu di antara mereka. Putra, cowok itu memang benar menyukai Minnie tapi setelah tau kedekatan Dino dengan cewek itu, akhirnya Putra memilih mundur.

Mereka semua bisa tau karena mendengar sendiri bagaimana setiap kalimat yang terucap dari mulut Dino. Mereka semua ada di taman saat itu, hanya saja Dino tidak menyadari keberadaan teman-temannya. Setelah sesi mengungkapkan perasaan, barulah teman-temannya memunculkan diri. Mereka kagum dengan pikiran Dino, tidak menyangka Dino punya pola pikir sedewasa itu, membuat teman-temannya bangga.

"Kalian joging gak ngajak gue." Dino menyeruput minuman di tangannya. Cowok itu jadi menyukai Milk tea setelah Minnie berkata itu adalah minuman kesukaannya.

"Lo udah kita samperin ke rumah tante Mia, tapi katanya lo udah jalan duluan. Joging bareng Minnie. Asli kita semua kaget sih pas tante Mia bilang gitu," ujar Cio.

"Kita gak ngira lo sama Minnie bener-bener sedeket itu. Gue kita cuma sekedar temen satu kelas."

"Tapi lo cocok sih sama Minnie, muka kalian rada mirip kalo di liat," tambah Bagas.

"Setuju gue." Putra dan Rendi mengangguk.

"Kata orang kalo mirip tandanya jodoh, lo kalo jodohnya Minnie mau gak?" goda Cio.

"Siapa yang gak mau kalo sama Minnie."

Teman-temannya tertawa, Dino dalam masa bucin. Setelah banyak cewek yang di tolak, akhirnya mereka bisa melihat sisi Dino yang sedang kasmaran.

"Ah gue pusing sama hasil rapot nanti," ucap Putra.

"Kenapa?" tanya Dino.

"Gue bakal di suruh les tambahan kalo gak masuk sepuluh besar. Otak gue udah mumet soal pelajaran."

"Kita tujuannya ke sekolah ngapain sih, gue lagi tidur juga tadi," protes Bagas.

"Tau, ngambil rapot mah biar urusan orang tua."

"Gak papah, gue penasaran aja langsung makanya ngajak kalian."

Yaps, Pelaku utamanya adalah putra. Cowok itu kentara penasaran dengan nilainya di rapot dan akhirnya cowok itu berinisiatif mengajak teman-temannya datang ke sekolah. Dino sendiri tidak keberatan, toh dia juga penasaran dengan nilai di rapotnya.

"Gue ke kelas dulu." Dino bangkit dari duduknya.

"Ngapain?" tanya Cio.

"Biasa nyapa calon mertua," goda Rendi.

"Mertua dari Hongkong." Dino mengabaikan tawa teman-temannya. Ucapan Rendi ada benarnya, entah kenapa ia ingin sekali menyapa orang tua Minnie.

Cewek itu sempat bilang padanya jika ibunya akan telat datang ke sekolah, kemungkinan datang di saat ibu-ibu yang lain sudah pulang. Toko kue nya belum bisa di tinggal, itu alasan kenapa Ria datang telat.

Sementara Mia, wanita itu sudah mengambil rapot miliknya lebih awal karena tidak bisa meninggalkan kantornya terlalu lama, alhasil Mia meminta pada wali kelasnya untuk mendepankan nomer antri rapot Dino.

Namun siapa sangka di perjalanan menuju kelasnya ia malah berpapasan dengan ayahnya. Tidak biasanya ayahnya yang mengambil rapot, biasanya Mamanya yang akan mengambil rapot jika berhubungan dengan Juna.

Keduanya sempat beradu tatap namun belum sempat Dino mengeluarkan suaranya, Ibu Minnie justru datang, menyapa Dino lebih dulu.

"Dino.."

Cowok itu tersenyum, "tante udah ngambil rapot Minnie?"

"Udah, kamu udah ngambil rapot?"

"Udah tadi bibi Dino yang ngambilin."

"Bibi kamu mana sekarang?"

"Udah pulang."

Awalnya Ria tidak menyadari keberadaan pria paruh baya di sebelah Dino, namun saat mata Ria melihat orang di sebelah Dino, wanita itu justru diam, matanya tidak lagi menggambarkan keramahan yang membuat Dino heran.

"Kamu kenal dia Dino?" tanya Ria hati-hati.

Dino menatap ayah sebentar, "di..dia..."

"Dino anak saya Ria."

Dino tersentak, ayahnya tidak biasanya mengakui dirinya sebagai anak. Bolehkah Dino senang sekarang.

"Apa dia si kembar?"

"Iya, dia si kembar. Kamu boleh bawa dia sekarang kalo mau."

"Maksud ayah apa? Aku si kembar siapa? Aku gak punya kembaran. Tunggu, jangan bilang...."

Dino menatap Ria, wanita paruh baya itu sudah mengeluarkan air dari matanya.

"Dia ibu kandung kamu Dino."

Deg

Bagai di sambar tengah siang. Dino diam, matanya menanggap kekecewaan. Namun detik berikutnya ia sadar, Ria mengamuk pada ayahnya. Memukul ayahnya dengan keras, namun anehnya pria itu diam dan tidak melakukan pembelaan.

"Kamu bawa di mana anak saya!!!"

"Kamu ayah paling jahat yang berani memisahkan anaknya yang baru lahir dengan ibunya!!!!"

"Dasar cowok brengsek!!"

Dino menghela nafas lega setelah melihat kedatangan teman-temannya. Dengan satu kode dari Dino, ke empat orang itu langsung membantunya memisahkan Ria pada ayahnya. Wanita itu masih menangis namun dengan cepat Dino memeluknya. Pergerakan Dino membuat ke-empat temannya kaget.

Tangisan Ria bukannya merada justru semakin keras. Terlebih setelah mendengar ucapan Dino di telinganya, Ria memeluk Dino sangat erat seakan takut cowok itu menghilang lagi dari kehidupannya.

Jujur, ketika Dino memeluk Ria, cowok itu merasa kehangatan yang belum pernah ia rasakan dari mamanya. Pelukan seorang ibu, Dino sama sekali belum pernah merasakannya. Diam-diam cowok itu mengeluarkan air mata. Dino sendiri memeluk Ria tidak kalah erat.

"Anak ibu yang hilang udah ketemu, ibu tenang ya, Dino gak akan pergi lagi."

Melihat pemandangan itu, ayahnya pergi tanpa mengucapkan sekata patah pun. Setelah beberapa menit, Ria melepaskan pelukannya. Tangannya menyentuh wajah Dino seakan tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Semua kejadian di sini jelas di lihat oleh teman-temannya, tapi siapa peduli, Dino sama sekali tidak malu.

"Ikut ibu pulang ya nak.."

Dino mengangguk sambil tersenyum, "kasih Dino waktu ya bu."

Cowok itu menatap teman-temannya, "nanti gue jelasin."


















Tbc....

My Doll {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang