Dua Puluh Dua

26 3 0
                                        

"Lo kenapa gak cerita sama gue!!!"

Dino mengalihkan pandangannya. Juna datang pagi-pagi sekali, berdiri di atap tempat Dino biasa saat pagi. Cowok itu benar-benar di buat kaget dengan Juna yang marah di pagi hari.

"Harusnya lo ngomong sama gue, gue tuh kakak lo dan gue lebih tua dari orang itu. Lo gak perlu terlibat dalam perkelahian kayak kemaren gara-gara gue!!!"

Dino yakin, Juna benar-benar marah padanya. Juna termaksud jarang menggunakan gue lo pada Dino kecuali di depan teman-temannya, jika Juna sudah menggunakan kata itu, berarti Juna benar-benar marah pada Dino.

"Gue gak selemah yang lo kira Dino," Juna merendah nada suaranya. Cowok itu benar-benar tidak habis fikir dengan pemikiran adiknya, namun di sisi lain Juna senang karena Dino masih memikirkan dirinya, padahal saat itu Juna ingat mereka saling berdiam-diaman.

Juna marah bukan pada Dino, melainkan dirinya sendiri karena membuat Dino dalam masalah. Juna marah karena dirinya tidak mengetahui hal itu. Beruntung bibinya langsung memberitahu dirinya alasan bertengkarnya Dino.

"Kak Juna juga bisa bela diri, kamu gak perlu khawatir. Maaf kalo tadi ngebentak. Makasih udah belain kak Juna sama Minnie meskipun kamu jadi harus berantem sama orang itu dan sama mama," ujar Juna.

"Lain kali kalo ada apa-apa cerita, kita adek kakak jangan lupain itu. Sekarang turun, ikut kak Juna ke kantin, pagi ini bibi bilang kamu belum sarapan."

Dino menghela nafas setelah perginya Juna. Bibinya benar-benar tidak bisa di ajak menjaga rahasia, tapi Dino senang dengan itu. Setidaknya tidak ada lagi rahasia yang ia sembunyikan dari Juna. Lebih baik sekarang Dino mengikuti perintah Juna dari pada melihat Juna marah padanya lagi. Juna marah adalah hal yang paling Dino hindari. Semoga saja kakaknya tidak marah atau membencinya saat tau kebenaran kalau mereka bukanlah saudara kandung. Jika itu terjadi, Dino tidak bisa membayangkan sehancur apa dirinya.

***

"Gimana keadaan kamu?"

Minnie resmi kembali ke tempat duduk awalnya, sebelah Dino. Bukan atas kemauannya tapi semua itu Minnie lakukan karena permintaan guru. Entah bagaimana ceritanya, tapi yang pasti wali kelasnya secara terang-terangan menyuruh dirinya pindah ke sebelah Dino.

"Lebih baik. Bilangin makasih banyak sama mama lo," pinta Dino.

"Iya, nanti aku sampein."

Minnie kembali menulis catatan di bukunya. Menyalin tulisan yang ada di papan tulis, namun fokusnya buyar begitu Dino bertanya.

"Gimana?"

"Hah.."

"Gimana rasanya duduk samping gue lagi?" tanya Dino, fokus cowok itu kembali pada buku di hadapannya.

"Gak gimana-gimana. Aku heran kenapa guru nyuruh aku pindah lagi, padahal aku nyaman aja duduk sendiri."

"Itu tandanya guru mau kita sebangku."

"Guru apa kamu yang mau sebangku sama aku?" goda Minnie.

"Gurulah, lagian gue juga gak tau kenapa tiba-tiba guru nyuruh lo pindah lagi."

Minnie terkekeh sambil mengangguk kecil, tangannya kembali menulis. Diam-diam tanpa sepengetahuan orang, Juna tersenyum. Cowok itu yang meminta guru agar Minnie kembali duduk bersama Dino.

"Soal kejadian kemaren...." Minnie melihat sekitar, mendekatkan diri pada Dino, "Juna udah tau?" tanya dengan suara pelan.

"Udah."

Minnie mengubah posisi duduknya seperti semula, "kok bisa?"

"Bibi gue yang ngasih tau. Lo kalo ada waktu di suruh bibi gue main ke rumah, dia pengen kenalan sama lo."

My Doll {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang