Hempasan angin terasa sejuk, daun-daun bergerak tidak tenang setelah terkena angin. Suara jangkrik mendominasi keadaan hening yang tercipta.
Dino termenung di balkon kamarnya. Membayang kembali hidupnya saat bersama Juna. Masa-masa indah yang mudah ia dapat. Masa lalu memang selalu indah untuk dikenang, meski kenangan pahit sekalipun. Jiwanya hampa, masalah terus berdatangan, seakan tak henti untuk mampir di hidupnya.
Menatap sekitar sebentar, Dino memutuskan untuk keluar rumah sebentar. Menenangkan pikirannya sejenak dari rasa suntuk dan bosan. Dino telah memutuskan, ia akan meminta maaf pada Minnie besok. Meskipun Dino tidak yakin cewek itu memaafkannya, yang penting ia sudah meminta maaf.
Dino memutuskan untuk berdamai pada masa lalunya. Menerima kenyataan bahwa ini adalah jalan hidupnya.
Tak terasa Dino telah melangkahkan kakinya cukup jauh dari perkarangan rumahnya. Daerah dimana ia sempat bertemu Minnie malam itu. Mengingat kejadian malam itu, membuatnya tersenyum. Tanpa Dino sadari hidupnya sudah di penuhi oleh Minnie meski gadis itu merasa kesal dengannya. Hampir setiap waktunya di sekolah di habiskan dengan Minnie ketimbang teman-temannya sendiri.
Dino membeli beberapa cemilan di supermarket, namun tujuan utamanya yaitu soda. Dino bisa melewatkan cemilan lain tapi tidak dengan soda. Sejak dulu minuman itu yang paling di larang oleh Juna, katanya tidak baik untuk perut. Tapi sekarang, Dino sangat bebas dengan minuman tersebut, tidak ada lagi yang melarang.
Malam semakin larut namun, belum ada tanda-tanda Dino pulang. Cowok itu masih asik duduk di ayunan taman bermain. Memang terlihat aneh, tapi cowok itu menyukainya. Rasanya menyenangkan berada disini, apalagi dengan hembusan angin malam. Pikiran dan jiwanya terasa sejuk. Sinar bulan dan bintang-bintang melengkapi satu sama lain di atas sana. Dino asik menatap keduanya tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali.
"Aku iri kamu bisa senyum cuma liat bulan di atas."
Dino terjengkit kaget, cowok itu mengalihkan perhatiannya sejenak. Di sebelahnya ada Minnie dengan senyuman di wajahnya. Tanpa meminta izin cewek itu duduk di ayunan kosong sebelahnya, menatap keatas sama seperti yang tadi Dino lakukan.
"Kapan lo disini?" tanya Dino.
"Baru aja," jawab Minnie menatap Dino.
"Lo udah gak marah sama gue?" tanya Dino kembali.
"Masih. Tapi, aku gak berfikir untuk diemin kamu kok. Eh enggak, aku sempet berfikir gitu, tapi akhirnya gak jadi."
"Kenapa?"
"Gak papah, emang gak boleh? Oh iya aku tau, kamu kan gak suka kalau deket aku. Gak papah sih cuma malem ini aja aku ngajak kamu ngobrol. Lagian ini juga di suruh ibu aku, kebetulan aja tadi ibuku liat jadi suruh aku samperin kamu."
Dino mengangguk, matanya kembali menatap atas. Pernyataan Minnie membuatnya kalah telak. Seakan mulutnya terkunci sehingga tidak dapat berkata apapun. Keadaan canggung perlahan mengambil alih, sama-sama larut dalam pikirannya. Sampai suara seseorang mengalihkan perhatian, barulah Dino sadar dari lamunannya.
"Kamu gak ada niat minta maaf apa?" gerutu Minnie.
"Emangnya lo gak marah kalau gue minta maaf?"
"Tergantung, kalau kamu minta maafnya serius ya aku gak akan marah."
Minnie terkekeh saat helaan nafas terdengar. Apa sesulit itu untuk meminta maaf sampai menghela nafas begitu. Jujur, Minnie tidak terlalu berharap lontaran kalimat itu dari Dino, mengingat sifat cowok itu. Tapi Minnie percaya Dino bukanlah orang yang buruk seperti pemikirannya.
"Gue minta maaf."
"Hah," Minnie menoleh, cewek itu kaget bukan main.
Tunggu, ini nyata kan. Kenapa rasanya aneh. Seorang Dino meminta maaf, kepadanya? Benarkah? Apa cowok itu mabok.
"Gue bilang, gue minta maaf. Gue gak bermaksud ngebuat lo di Bully. Gue sama sekali gak tau soal hal itu."
Minnie tersenyum kecil, cewek itu bangkit membuat Dino menatapnya, "Ayo pulang udah malem, aku takut di cariin ibu."
Baru akan melangkah tiba-tiba tangannya di tahan seseorang. Membuat Minnie terhenti, mau tak mau gadis itu berhadapan dengan Dino, "lo maafin gue gak?"
"Iya, udah aku maafin. Lagian kamu gak nyuruh mereka."
"Ibu lo tau soal kejadian itu?" tanya Dino.
"Enggak."
Hening sesaat, keduanya bungkam dan bingung harus berkata apa.
"Ayo pulang, gue anter lo." Dino bangkit setelah berucap. Membuat Minnie diam tak berkutik di tempatnya. Sampai suara Dino terdengar, itu sukses menyadarkan dirinya dari lamunannya.
"Cepetan udah malem."
"I..iya."
***
Dino tersenyum, akhirnya Minnie memaafkan dirinya. Setidaknya tidak ada lagi hal yang mengganjal di hatinya. Minnie benar-benar anak yang baik, mungkin jika Dino menjadi cewek itu sampai kapan pun tidak akan memaafkan kesalahannya.
Baru akan memejamkan matanya, suara ketukan pintu terdengar, mau tidak mau Dino bangkit dari tidurnya. Tapi tunggu, siapa yang mengetuk pintu kamarnya, Bibinya tidak ada di rumah dan Juna tidak sampai menginap hari ini.
Dino jadi merinding membayangkannya, semoga bukan makhluk halus atau orang jahat.
"Dino, kamu udah tidur?"
Cowok itu menghela nafas lega. Itu suara Bibinya, dengan cepat ia membuka pintu itu. Benar, bibinya berdiri di kamarnya dengan wajah lelahnya, membuat hati Dino meluruh. Bibinya sangat bekerja keras demi membiayai hidupnya.
"Gimana keadaan kamu, gak ada masalahkan?" tanya Mia.
"Masalah aku banyak bi, tapi tenang aja semuanya baik-baik saja. Bibi kenapa ke kamar Dino, harusnya langsung istirahat."
Mia menggeleng, "ayo makan, temenin bibi, udah lama gak makan malem bareng kamu, bibi sedikit kangen."
Dino menurut, cowok itu mengikuti Mia ke dapur. Sebenarnya Dino masih merasakan kenyang tapi cowok itu tidak mau menolak permintaan bibinya. Alhasil Dino ikut makan bersama Mia.
"Kenapa bibi udah pulang? Ini belum sampe dua Minggu. Bibi bilang pulangnya dua minggu," tanya Dino di sela makan.
"Kerjaan bibi udah selesai lebih awal. Sekolah kamu gimana?"
"Sempet ada kesalahpahaman tapi sekarang udah beres."
Mia mengangguk, "yaudah cepet abisin makannya abis itu tidur udah malam. Maaf bibi malah ngajak kamu makan bareng."
"Gak papah bi."
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Ficção Adolescente"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
