"Maaf."
Minnie mendongak, rasa kesal dan marahnya seketika meluap. Melihat Dino di depannya membuat emosinya meningkat. Rasanya Minnie ingin memaki cowok di hadapannya. Orang yang selalu membuatnya dalam kesusahan.
"Gue anter lo pulang, setelah itu terserah lo kalo mau marah. Gue emang cowok brengsek yang gak bisa netapin janji."
Minnie luluh, mana bisa dirinya marah di saat Dino seperti ini. Tatapan cowok itu terlihat putus asa, Minnie sendiri sama sekali tidak tau apa yang terjadi padanya. Seketika rasa emosinya hilang begitu saja. Cewek itu hanya bisa mengangguk, mengiyakan ajakan Dino.
"Gue gak punya jas hujan. Ini, lo pake aja helm gue, rambut lo belum terlalu basah, tenang aja helm gue wangi gak bau lepek."
"Kamu gak pake helm?" tanya Minnie.
"Rambut gue udah kadung basah sementara lo belum, seenggaknya lo gak bakal pusing gara-gara air hujan."
"Tapi hujannya masih deres, baju kamu makin basah gak papah?"
"Apa lo mau nunggu sampe reda dulu aja?" tanya Dino.
"Aku udah kedinginan pengen buru-buru pulang. Kamu juga udah kedinginan kan pasti, nanti mampir dulu aja di rumah aku. Ibu aku juga suka kok kalo kamu mampir."
"Liat nanti aja."
Minnie mengangguk, mengiyakan ucapan Dino. Cowok itu benar-benar mengantar Minnie pulang dengan motor, menembus hujan lebat yang sedang turun. Baju keduanya sudah semakin basah. Minnie sedikit khawatir bajunya akan tembus. Cewek itu lupa membawa kardigan.
"Ayo mampir dulu, ibu aku ada di rumah."
Dino mengalihkan pandangannya, "lo masuk buruan, baju lo tembus."
Wajah Minnie memerah, tanpa berfikir panjang cewek itu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Dino seorang diri di depan pintu.
Awalnya Dino berniat pulang, namun Ria datang menghampiri dengan payung dan jaket di tangannya. Dino sedikit tidak enak, tapi karena permintaan wanita paruh baya itu akhirnya Dino menurut, masuk ke rumah Minnie sebentar.
"Kamu ganti baju dulu di kamar mandi. Ini baju ayahnya Minnie, ukurannya pas kok di kamu. Jangan lupa sekalian mandi biar gak sakit."
Dino tersenyum, orang tua Minnie benar-benar hangat padanya. Bagaimana respon mereka jika tau anaknya pernah jadi korban bullying akibat dirinya.
Sementara Minnie, cewek itu masih enggan keluar dari kamarnya. Setelah mendengar ucapan Dino tadi dirinya bener-bener merasa malu. Untung cowok itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Minnie, makan dulu, Dino nungguin kamu ini!"
Minnie lupa tentang keberadaan Dino, padahal jelas-jelas ia yang menyuruhnya mampir. Mengingat ucapan cowok itu membuatnya gagal fokus, bagaimana bisa ia menghadapi rasa malunya sekarang. Semoga Dino melupakan kejadian tadi.
Benar ucapan ibunya, Dino menunggu dirinya di meja makan, bahkan makanan di piringnya sama sekali belum tersentuh. Dalam hitungan detik fokus Minnie teralih, cewek itu tersenyum, Dino menggunakan pakaian ayahnya dan anehnya terlihat sangat cocok di tubuh cowok itu.
"Kenapa gak makan duluan," Minnie duduk di depan Dino. Cowok itu terlihat menahan kantuk, Minnie jadi gemas sendiri melihatnya.
"Gue nungguin lo."
"Maaf ya lama."
"Banget," Dino menyuap dirinya dengan makanan di depannya, di susul oleh Minnie. Dua orang itu fokus pada makanannya. Minnie menghela nafas lega, Dino tidak membahas soal pakaiannya tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Doll {END}
Teen Fiction"Wah ada pacar baru nih!!" "Bukan pacar tapi boneka gue tepatnya."
