Aku heran kenapa Mas Dewa tidak langsung memberikan kalung berlian yang di maksud Dena tadi. Padahal biasanya suami ku itu paling gercep jika menyangkut pemberian hadiah. Duh, kenapa pikiran ku jadi parno nih. Apa jangan-jangan kalung itu bukan buat aku?
Kulacino di meja menjadi sasaran ke gundahan ku. Lihat saja meja makan yang berada di depan ku terdapat motif abstrak dari bercak air. Ku lirik Mas Dewa yang sedang asyik berlari di atas treadmill nya dan seolah-olah mengacuhkan aku. Ish, kenapa aku di acuhkan begitu.
Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi kepada Mas Dewa, aku mendekatinya. Ku otak-atik tombol pengatur kecepatan treadmill nya agar Mas Dewa kesal tapi ajaibnya pria keturunan setengah jawa setengah arab itu malah diam saja.
"Mas?!"
Mas Dewa hanya menaikkan dagu nya untuk menjawab.
Karena kesal, aku iseng mematikan mesin treadmill nya.
"Kamu kenapa sih, Mas?! Aku ada salah sama kamu? Bukannya yang ada salah itu kamu sama aku?!" Aku bersungut-sungut kesal. Sudah cukup Mas Dewa berlagak acuh kepadaku.
"Kamu yang kenapa?"
Itu balasan Mas Dewa? Habis dari mana sih dia kenapa jadi sok dingin kayak gitu? Kejedot pintu kantor kali ya.
Dia turun dari treadmill dan mengusap wajah nya yang penuh keringat dengan handuk. Wait-wait, sejak kapan Mas Dewa punya handuk berwarna pink. Sedangkan aku saja tidak punya.
Aku merebut handuk pink antah-berantah itu dari tangan Mas Dewa.
"Kok bau parfum perempuan? Handuk siapa ini Mas?"
"Apa sih Flo, kamu enggak sopan tahu!" Mas Dewa kembali merebut handuknya lalu berjalan meninggalkan aku tanpa penjelasan.
"Kamu di kasih handuk sama siapa, Mas?! Si Rebecca-Rebecca itu?!" Aku berteriak dengan suara yang tercekat karena menahan tangis.
Tubuh ku limbung hingga terduduk di lantai dekat treadmill . Aku menangis. Hal yang selama enam bulan ini tidak pernah aku lakukan lagi. Tega nya Mas Dewa mengkhianati janjinya sendiri.
Menangis bukanlah satu cara yang berhasil membuat dada ku lega. Hal itu justru semakin membuat sesak. Lama menangis, aku merasakan sesuatu yang dingin melingkari leherku. Aku merabanya. Permukaan itu terasa bergelombang. Aku tidak berani meliriknya sampai terpaan hangat menggelitik tengkukku.
"Happy anniversary jadian kita yang kedua tahun, sayang."
Itu suara Mas Dewa. Aku berbalik dan menemukan Mas Dewa sudah rapi dengan membawa satu buket bunga mawar merah dan cokelat berbentuk hati. Matanya mengkode ke leher ku.
Di sana terdapat sebuah kalung berlian yang sangat cantik sekali. Bandul nya terbuat dari berlian asli yang belum di pahat, kecil mungil dan elegan. Aku menangis terharu.
"Syut, jangan nangis lagi oke? Semuanya cuma akting. Mas minta maaf ya." Mas Dewa memeluk ku.
"Dasar cunguk!" Bukannya memuji tindakan Mas Dewa yang tergolong romantis, aku justru memakinya.
"Hem kemarin tukang boros sekarang cunguk besok apa lagi?" Mas Dewa menjawil hidung ku.
"Mantan jomblo akut!"
Mas Dewa mendelik.
"Kata siapa aku jomblo akut?"
"Coba ngaku sebelum pacaran sama aku, kamu pacaran sama siapa aja?" tantang ku.
Mas Dewa menggaruk pelipis nya yang tidak gatal. Wajah nya meringis jenaka lalu kemudian menggeleng pelan.
"Enggak ada. Udah ah aku malu!" Mas Dewa menyembunyikan wajahnya di rambut ku karena malu. Aku bisa melihat wajah nya yang sedikit memerah tadi. Huh, dasar jomblo akut.
***
Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Setelah Mas Dewa mengatakan bahwa toko kue milikku sudah bisa di gunakan hari ini. Rasanya senang sekali karena membuat kue merupakan keahlian ku.Dan di sinilah aku berada, di sebuah ruko yang sudah di sulap menjadi toko kue dengan warna pastel yang mendominasi. Pegawai yang Mas Dewa siapkan ternyata adalah mereka yang pernah kerja di perusahaan Mas Dewa, terhitung ada dua pekerja. Yang satu namanya Alina, dia yang akan bertindak sebagai penjaga kasir dan Ibnu yang bertugas sebagai tukang antar pesanan.
Dan aku memberinya nama deilig kake.
"Rencananya kita mau grand opening kapan, Bu?" Alina yang ku suruh untuk mencatat daftar kue yang akan di jual bertanya.
"Kata Pak Dewa bisa besok ya?" Ibnu menyela.
"Jangan dengerin omongan Pak Dewa. Dia itu suka seenaknya sendiri. Grand opening deilig kake bisa kita lakukan Minggu depan. Jadi satu Minggu ini bisa kita gunakan untuk prepare ."
Kami melanjutkan mini meeting untuk membahas sistem operasi. Banyak yang harus di persiapkan, mulai dari soft promosi sebelum grand opening dan tentunya membuat kue yang harus di pajang nanti.
Waktu bergulir sangat cepat. Rasanya seperti baru saja selesai sarapan tapi sekarang sudah masuk waktu makan siang. Sebenarnya hari ini aku ada janji makan siang dengan Mas Dewa di restoran seberang jalan tapi ternyata Mas Dewa ada pertemuan mendadak dengan klien. Alhasil aku akan makan siang sendiri.
Baru saja ku pencet tombol unlock di kunci mobil, ponsel ku berdering kencang. Ternyata ada panggilan masuk dari Pak Harto.
"Halo, Pak?"
"..."
"Astaghfirullah! Itu ada di rumah, Pak?"
Aku langsung membuka pintu mobil. Ku urungkan niat ku untuk makan siang. Pikiran ku sudah tertuju pada rumah.
"..."
"Saya langsung pulang. Bilang sama yang bawa, jangan di masukkan dulu sebelum saya suruh!"
Setelah mematikan panggilan dari Pak Harto, aku langsung mengirimkan pesan kepada si tersangka utamanya yakni Mas Dewa.
"Ku sunat dua kali kamu Mas kalau sampai rumah!"

KAMU SEDANG MEMBACA
The Richie Hubby [Terbit Ebook]
Romance[Terbit Ebook] Ebook bisa dibeli di: https://play.google.com/store/books/details?id=_XmXEAAAQBAJ&PAffiliateID=1101l7N6J "when two humans are brought together in a bond called marriage"