"Duh, pelan-pelan dong, Flo."
"Bisa diem enggak sih Mas. Kalau protes terus kapan salep nya bisa kepakai!"
Lebay adalah nama tengah Mas Dewa. Padahal pinggangnya cuma memar sedikit dan hanya perlu salep saja tapi belum gel dingin itu menyentuh permukaan kulitnya, Mas Dewa sudah berulang kali melayangkan protes.
"Sakit tahu!"
"Oh jadi kamu nyalahin aku? Enggak ikhlas ternyata."
Mas Dewa membalikkan badannya. Tangannya memegang kedua lengan ku.
"Bukan enggak ikhlas, Flo. Mas ikhlas banget. Tapi rasanya emang sakit. Gara-gara emak-emak ganjen itu sih!"
Penjelasan Mas Dewa malah membuat ku ingin menangis. Mood swing yang ku alami benar-benar mengaduk-aduk emosi. Aku merasa terlalu membebani Mas Dewa padahal usia kehamilan ku baru satu bulan, bagaimana kalau bulan-bulan selanjutnya. Sanggupkah Mas Dewa mendampingi ku.
"Kok malah mau nangis sih? Hei, its okay. Mas rela melakukan apapun untuk kamu dan calon anak kita. Percaya sama Mas. Sekarang kita jalan-jalan aja yuk."
"Aku tahu tempat yang bagus buat jalan-jalan. Kamu pasti suka deh. Tapi harus istirahat dulu. Ayo tidur siang dulu."
Sore hari menjelang petang, Mas Dewa merealisasikan ucapannya. Dia mengajakku ke tempat yang aku belum tahu. Kami hanya berdua saja. Mas Dewa mengatakan ingin quality time bersama calon anak kita.
"Pasar malam?" Aku turun dari mobil begitu Mas Dewa mengambil parkir. Di depan ku ini sudah berjejer rapi puluhan stand-stand makanan, minuman, pakaian dan wahana permainan yang bisa di pilih sesuka hati.
"Iya." Mas Dewa memutari mobil untuk berdiri di samping ku."Dulu, waktu Mami hamil dan mood swing nya datang, Mami selalu ngajak Papi kesini. Di sini. Sampai aku usia tujuh bulan di kandungan, Mami enggak pernah absen. Nah, karena kamu lagi mood swing, aku pengen ajak kamu kesini. Toh, kamu pasti bakal mencak-mencak kalau aku ajak ke mall, butik apalagi showroom mobil!"
"Mas, langsung main capit boneka yuk!" Aku menarik tangan Mas Dewa agar segera mengikuti ku menuju mesin capit boneka.
Setelah menukar beberapa koin, Mas Dewa yang bertugas sebagai eksekutor langsung menjalankan tuas nya. Aku menyuruh Mas Dewa untuk mengarahkan capitnya ke boneka singa kecil.
"Ayo terus, Mas. Jangan sampai kita kalah! Pokoknya aku mau boneka singa itu!"
"Yang singa susah banget, sayang. Gimana kalau boneka unicorn?"
"Enggak. Aku mau yang singa!" Aku tetap bersikeras untuk mendapatkan boneka singa kecil itu. Karena dari sekian banyaknya boneka yang ada, mata ku langsung terpesona dengan boneka kecil dan lucu itu.
Mencoba lagi, ternyata Mas Dewa gagal. Boneka singa itu tertutup satu boneka gajah berukuran besar yang membuatnya susah di capit.
"Pak, saya beli aja deh boneka singa nya."
"Maaf tidak bisa, Pak. Kalau mau boneka singa nya, bapak harus lebih giat lagi," kelakar si pemilik usaha mesin capit itu.
Karena kehabisan koin, Mas Dewa kembali menukarkan nya. Kali ini wajahnya sangat serius dan pastinya tidak mau gagal lagi.
Usaha ke empat, capit yang di gerakkan Mas Dewa berhasil mencapit telinga singa itu.
"Yes, singa nya kena itu, Mas. Ayo buruan bawa ke box nya biar bisa keluar!"
Termakan omongan ku, Mas Dewa langsung mengerakkan capitnya mendatar agar boneka singa itu bisa jatuh di atas box. Namun naas, boneka itu jatuh lagi saat capit Mas Dewa di gerakkan.
"Yah." Aku mendesah kecewa.
Mas Dewa terlihat merogoh kantong nya. Aku melirik sebentar. Mas Dewa mengeluarkan cek. Untuk apa? Masa dia mau membeli pasar malam ini sih.
"Saya beli boneka singa itu dan bapak tulis berapa nominal nya di sini."
Aku melongo total melihat kelakuan boros Mas Dewa. Satu boneka singa kecil itu biasa di harga 50 ribu jika di jual di pasar dan Mas Dewa malah memberi si penjual itu cek. Gimana jadinya kalau penjual itu menuliskan nominal yang besar.
"Mas! Enggak usah segitunya juga dong!" Bisik ku. Tapi Mas Dewa tidak menggubris.
"Wah, saya enggak paham, Pak."
"Bapak bisa tulis berapa pun, satu juta sampai ratusan juta pun bisa bapak tulis di sini. Yang terpenting saya bisa mendapatkan boneka singa itu. Saya enggak mau anak saya ileran, Pak."
Mendengar ucapan Mas Dewa, penjual itu kaget. Mana ada orang yang membeli boneka singa kecil seperti itu dengan harga yang fantastis.
"Tidak perlu, Pak. Kalau Bapak mau saya jual 50 ribuan saja."
"Bapak yakin? Saya ikhlas jika Bapak menulis seratus juta sekalipun."
"Tidak-tidak, Pak. Saya ikhlas. Apalagi istri Bapak juga lagi hamil."
Akhirnya boneka singa itu berhasil aku dapatkan. Karena kerendahan hati bapak-bapak mesin capit itu, Mas Dewa membayar satu boneka kecil itu seharga satu juta. Hitung-hitung untuk berbagi.
***
Pukul 21.00 kami sepakat untuk mengakhiri safari pasar malam. Setelah puas main capit boneka yang berujung unjuk gigi aksi keborosan Mas Dewa, menghabiskan dua mangkuk bakmi Jawa, lima tusuk suki-suki plus bakso bakar dan bakar-bakaran lainnya, dan yang terakhir di tutup dengan makan kue leker, kami kekenyangan. Sebenarnya Mas Dewa yang makannya banyak. Aku juga heran yang hamil siapa, tapi yang makan nya banyak siapa."Mas? Kamu enggak takut gendut apa. Seharian ini kamu udah makan dalam porsi yang enggak wajar loh." Aku bertanya untuk memecah keheningan. Sebenarnya sih tidak hening-hening amat karena Mas Dewa bersenandung kecil.
"Gendut ya Alhamdulillah. Berarti tubuh kita sehat." Jawaban Mas Dewa yang di iringi cengiran khas nya.
"Maksud aku, kamu enggak takut kena kolesterol? Kamu jarang olahraga loh!"
"Olahraga nya kan sama kamu tiap malam." Mas Dewa mengerling genit.
"Ish, serius tahu. Minggu depan nge-gym deh. Masak nanti pas anak nya lahir kamu kena asam urat gara-gara jarang olahraga."
Mas Dewa menjawabnya dengan acungan jempol.
"Oh iya Flo, kamu enggak pengen babymoon-babymoon kayak artis-artis itu? Yang liburan ke mana gitu pas lagi hamil."
"Males ah."
"Padahal aku udah punya list banyak tempat keren buat babymoon loh."
Mas Dewa terus mengoceh perihal babymoon apalah itu. Sedangkan aku fokus kepada boneka singa kecil yang sekarang benar-benar mencuri perhatian ku.
"Mas? Gimana kalau anak kita laki-laki namanya Leo?" celetuk ku membuat Mas Dewa menghentikan ocehannya.
"Enggak ah entar galak kayak singa. Mending di kasih nama Dewangga. Bagus plus artinya keren!"
"Kok Dewa lagi sih, Mas. Nama kamu kan udah Dewa masak anak kita mau di kasih nama Dewa lagi. Nanti ke tuker. Toh, satu Dewa aja ribet nya minta ampun apalagi ada dua coba!"
"Hah? Maksud kamu aku ribet gitu?"
"Banget." Aku tidak bisa berpikir jika ada dua nama Dewa di hidup ku. Kalau salah satu dari mereka yang di panggil bisa menghadap semua kali ya. Oh Tuhan aku lupa, apa anak ku nanti bakal boros kayak bapak nya ya?

KAMU SEDANG MEMBACA
The Richie Hubby [Terbit Ebook]
Romance[Terbit Ebook] Ebook bisa dibeli di: https://play.google.com/store/books/details?id=_XmXEAAAQBAJ&PAffiliateID=1101l7N6J "when two humans are brought together in a bond called marriage"