7

714 52 0
                                    

Satu minggu telah berlalu dan tepat hari ini deilig kake resmi di buka. Setelah acara potong pita, acara selanjutnya adalah makan-makan. Namun aku tidak bisa bergabung dengan yang lainnya karena harus mengurus Mas Dewa yang tiba-tiba muntah dan lemas. Di ruangan yang di sediakan untuk istirahat, Mas Dewa terbaring dengan Mami mertua ku yang memijat pundak nya sedangkan aku memilih membuatkannya teh jahe.

"Mas, ke rumah sakit yuk." Aku berjalan ke arahnya dan Mas Dewa langsung rebahan di atas paha ku. Ku usap rambutnya.

Wajah Mas Dewa sepucat kapas, saat ku tanyai apa yang dia rasakan, Mas Dewa hanya menjawab mual.

"Enggak usah, Flo. Palingan cuma masuk angin. Hoek!" Mas Dewa kembali berlari ke wastafel untuk memuntahkan cairan perutnya yang hanya berupa beningan saja.

"Mas! Mau enggak mau kamu harus ke rumah sakit sekarang! Aku enggak bisa diem terus begini!"

Mas Dewa diam tidak melawan saat aku merangkul pundak nya di bantu Mami mertua. Aku takut kalau ada sesuatu yang fatal jika tidak segera di tinjau. Mungkin hanya mual tapi siapa tahu jika lambung nya mengalami masalah yang serius. Zaman sekarang jangan selalu menyepelekan penyakit.

Setelah berpamitan dengan beberapa orang, aku langsung membawa Mas Dewa ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dia hanya terkulai lemas. Hatiku semakin tidak tenang saja. Padahal pagi tadi, Mas Dewa dalam keadaan sehat dan aku rasa tidak ada yang salah dengan makanan Mas Dewa makan.

Sampai di rumah sakit, Mas Dewa langsung di tempatkan di ruang pemeriksaan.

"Flo? Mami ngabarin Papi dulu ya. Biar papi bisa kesini sekarang."

"Iya, Mi."

Sambil menunggu dokter memeriksa Mas Dewa, aku juga mengabari Mama. Imbasnya bakalan luar biasa ketika aku tidak mengabari jika menantu kesayangan nya masuk rumah sakit.

"Permisi dengan keluarga Pak Dewandaru?" Dokter yang tadi memeriksa Mas Dewa memanggilku.

"Iya, dok. Saya istrinya. Bagaimana kondisi suami saya, dok?"

"Kondisi Pak Dewandaru baik-baik saja. Mual nya juga sudah mereda tapi--"

"Tapi apa, dok?" Duh, ada apa ini.

"Sepertinya anda perlu memeriksa diri juga, Bu. Saya sarankan ke dokter Jelita. Ruangannya di ujung sana."

Loh-loh, kok jadi aku? Hubungannya dengan mual nya Mas Dewa apa?

"Maksud dokter saya juga sakit? Tapi-tapi, saya enggak apa-apa, dok."

"Iya, Bu. Tapi sepertinya Pak Dewa sakit karena ada hubungannya sama Ibu. Untuk kejelasannya, nanti dokter Jelita bisa menjelaskannya. Saya permisi terlebih dahulu."

"Dok?" Aku semakin tidak mengerti. Untuk itulah aku memilih masuk ke dalam.

"Mas?"

Mas Dewa menoleh. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi.

"Gimana rasanya? Masih mual?" Aku mengelus rambut Mas Dewa dengan lembut. Melihat kondisinya seperti ini, aku lupa kalau saat sehat pria ini sering menyebalkan.

Mas Dewa menggeleng lemah.

"Mas? Masak dokter nya nyaranin aku buat ikut periksa juga. Ke dokter yang namanya Jelita lagi."

"Kamu juga mual, sayang?" Meski suaranya terdengar lemah, Mas Dewa menjawab pertanyaan ku.

"Enggak mual. I'm totally fine ! Aku sendiri juga enggak tahu kenapa dokternya ngomong begitu."

"Ikutin aja, sayang. Mungkin aku keracunan makanan terus takutnya kamu juga ikutan."

"Mana ada? Kita kan beda makanan. Kamu makan soto daging, aku makan bakmi Jawa. Terus yang lain pada makan soto daging juga fine-fine aja."Ngaco deh!"

"Sayang? Dokter lebih tahu. Ayo aku antar ke ruangannya dokter Jelita." Mas Dewa turun. Dia mengamit tanganku.

***
"Loh kok saya di suruh buka baju, dok?" Aku bertanya. Kalau dugaan keracunan itu benar kenapa aku harus menyingkap blouse yang ku pakai. Memangnya keracunan makanan harus di USG.

Wait-wait ! USG? Apa jangan-jangan--

Otak ku langsung terdiam saat gel dingin mengenai permukaan perut ku. Aku melirik Mas Dewa yang sama halnya kebingungan.

"Wah, sepertinya akan ada calon keluarga baru ini!"

"Maksud dokter, saya hamil?"

Mendengar hal itu, Mas Dewa langsung mendekat.

"Istri saya beneran hamil, dok? Jadi dia enggak keracunan makanan?"

Dokter bernama Jelita itu terkekeh.

"Bu Flora sedang mengandung, Pak. Usia kehamilan nya sudah menginjak usia dua minggu. Selamat ya."

Mas Dewa tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia bercampur harunya sama halnya dengan ku yang langsung menangis. Seseorang yang akan menjadi pelengkap ikatan cinta antara aku dan Mas Dewa telah hadir.

"Dan mual mendadak yang di rasakan Pak  Dewa itu bukan keracunan melainkan sindrom simpatik yang terjadi pada beberapa ayah di dunia, jadi seringkali para ayah yang mengalami mual dan ngidam. Itu sama sekali tidak masalah."

"Oh begitu?" Aku ingin tertawa rasanya.

Setelah selesai dari ruangan dokter Jelita, aku dan Mas Dewa kembali. Dan bak sihir dari peri baik, tubuh Mas Dewa langsung bugar dan tidak selemah tadi. Sekarang dia malah yang memperlakukan ku seolah-olah aku ini pasien sakit yang tidak bisa jalan. Tangan kanannya melingkari pinggang ku dengan lembut.

Di depan ruang rawat, Papa dan Mama juga Papi dan Mami langsung berdiri begitu melihat kami berjalan dari lorong.

"Kalian berdua darimana aja? Wa, kamu kan masih sakit kenapa harus jalan-jalan? Kasihan Flora nya kan harus bawa kamu kemana-mana!" Mami langsung menghardik Mas Dewa. Padahal di lihat dari manapun, aku justru yang terlihat seperti orang yang sedang sakit.

Mas Dewa langsung memeluk Mami dengan erat.

"Ini anak kenapa sih? Selain mual otak kamu gesrek juga?" Mami berkelakar yang membuat kami semua tertawa.

Berlanjut dengan memeluk Papi, Mama dan Papa. Mereka semua tak kalah kaget.

"Congratulations on becoming grandparents! Flora lagi hamil!"

Ucapan Mas Dewa membuat semuanya bersorak kegirangan. Mama bahkan sampai memeluk ku dan menangis haru di susul ucapan selamat dari Papa dan Papi. Sedangkan Mami langsung mencubit Mas Dewa. Mami mertua ku ini memang yang paling beda sendiri.

"Ya ampun jeng, kita bakal jadi nenek!" Mami memeluk Mami, mereka berdua berputar-putar layaknya abg.

"Sudah-sudah, sekarang biarin Flora istirahat. Kalian semua diam," ucap Papi.

The Richie Hubby [Terbit Ebook]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang