Yah, waktu berjalan begitu cepat bukan. Rasanya baru kemarin aku dan Mas Dewa berdebat gara-gara pecel lele, sekarang aku udah hampir melahirkan aja. Kandungan ku sudah berusia delapan bulan, perutku pun sudah semakin membesar dan beberapa bagian tubuh seperti kaki, tangan dan pipi pun ikut melebar.
Dan Mas Dewa menyuruhku untuk berdiam diri di rumah, maksudnya aku tidak boleh bekerja ataupun memikirkan hal-hal berat seperti laporan keuangan deilig kake. Padahal usai kandungan ku baru delapan bulan, bagiamana kalau sudah sembilan bulan? Yang ada aku hanya di perbolehkan tidur melulu.
"Lihat ini, aku baru aja beli gendongan yang aman dan nyaman buat bayi." Mas Dewa memamerkan gendongan bayi bewarna abu-abu yang baru saja di keluarkan dari paper bag.
"Beli dimana, Mas?" Aku menanyakan asal muasal gendongan tersebut sambil mengunyah buah apel.
"Mall. Tadi aku suruh karyawan aku beliin di sana," ucapnya sambil merakit gendongan yang bisa di bongkar pasang itu. Gendongannya terlihat multifungsi karena di lengkapi dengan selimut juga kemudian bisa di ubah menjadi gendongan bayi new born dan bisa untuk bayi yang sudah ada bulannya.
"Bajunya aja belum kebeli kok udah beli gendongan sih, Mas?"
"Aku mau belajar menggendong bayi dulu. Jadi, kalau aku udah bisa baru kita belanja baju-baju sama perlengkapan lainnya. Tapi tenang, ada beberapa yang udah otw ke rumah."
"Curang deh kamu udah nyolong start!"
Mas Dewa terkekeh.
"Tenang seperti kemauan kamu, kita bakal belanja bareng-bareng buat sisanya. Oh iya kamu beneran nggak mau kasih tahu jenis kelamin anak kita?" Mas Dewa menumpukkan dagunya di pundak ku.
Aku menggeleng."Tunggu aja waktu gender reveal party."
"Kelamaan!"
"Cuma tinggal beberapa hari lagi kok!"
"Aku udah nggak sabar, sayang," Mas Dewa memgusak rambut ku dengan gemas," tapi apapun jenis kelaminnya, aku sangat bersyukur. Yang penting ibu dan bayinya sehat."
"Amin," Aku menyenderkan kepala ke dada Mas Dewa yang sedang mengusap perutku,"jadi nggak belajar menggendong nya? Aku juga pengen belajar."
"Jadi dong tapi habis makan, aku udah lapar bangeet nih!"
Usai makan malam, Mas Dewa mengajakku duduk di depan tv. Kami berdua duduk sambil menonton tutorial menggendong bayi berdasarkan usia.
"Coba Mas kamu duduk sejajar, terus tangannya menengadah ke atas." Aku memposisikan tangan Mas Dewa agar siap dalam posisi menggendong,"terus tangan kiri di gunakan sebagai bantalan kepala si bayi dan yang kiri menopang tubuhnya."
Aku memproyeksikan tangan Mas Dewa sesuai dengan tutorial dan panduan dari buku kehamilan yang aku baca. Sebenarnya ada cara lain untuk menggendong, seperti di dudukkan atau posisi M Shape alias bayi di peluk.
"Sekarang pakai boneka, Mas!"
"Gimana?" Mas Dewa menaik turunkan alisnya.
Aku mengacungkan jempol.
"Udah kaya hot papa belum?"
"Hot papa cap minyak gosok!"
"Sembarangan!"
***
Aku bersenandung lirih sambil menyiangi daun-daun mawar yang sudah layu. Sisa lahan di belakang rumah semuanya Mas Dewa sulap menjadi kebun bunga mawar yang bibitnya dapat dari rumah Mami.
Katanya agar aku tidak bosan di rumah.
"Spadaa! Flora, di mana lo?"
"Di belakang. Masuk aja bestie !"
Aku hafal suara Rere dan Melia, di dengar dari intonasinya yang tinggi dan cempreng tentunya.
Benarkan yang datang Rere dan Melia.
"Bawa apa tuh?" Aku melirik satu paper bag berukuran sedang yang masing-masing di jinjing Rere dan Melia.
"Bentar gue duduk dulu." Melia asal duduk aja di rerumputan sambil mengipasi wajahnya yang memerah karena matahari.
"Gue habis keliling kompleks buat anterin kue keringnya Bu RT. Nih jatahnya lo sama Dewa!"
"Dalam rangka apa? Terus kok jadi lo berdua yang bagiin?"
"Anaknya Bu RT lamaran tapi di Surabaya. Karena nggak mungkin bawa nasi boks dari Surabaya ke sini akhirnya Bu RT pilih simpelnya di ganti pakai kue kering. Terus kenapa gue yang bagiin karena minggu kemarin suami gue kagak ikut kerja bakti, terus sanksi nya di suruh bayar denda. Berhubung Bu RT sedang membutuhkan jasa, akhirnya sanksinya berubah."
"Kerja bakti? Pas hari Minggu nya? Kok Mas Dewa nggak pernah ikut sih."
Rere dan Melia mengedikkan bahunya.
"Mungkin si Dewa cuma ngisi dendanya aja kali. Buat dia uang segitu nggak ada artinya lah."
"Ih, sembarangan!"
"Ya udah deh kita pamit dulu. Entar keburu anak gue bangun tidur lagi!" Rere dan Melia pamit pulang.
Wah, sepertinya Mas Dewa harus di interogasi nih. Bisa-bisanya dia mangkir dari kewajibannya sebagai warga masyarakat yang baik.
Tepat pukul tiga sore, mobil Mas Dewa sampai di garasi.
"Sore, sayang."
Aku mencium tangannya dan Mas Dewa mencium keningku.
Masuk ke dalam, Mas Dewa langsung melihat kue kering yang aku letakkan di atas meja makan. Khasnya Mas Dewa yang selalu bersemangat jika menemukan kue kering.
"Kue kering dari siapa, sayang? Enak nih kue kacangnya."
"Dari Bu RT. Anaknya lamaran tapi di Surabaya. Terus bagi-bagi kue kering buat tasyakuran."
Mas Dewa manggut-manggut sambil mengunyah dua butir kue kacang sekaligus.
"Mas, kamu nggak pernah ikut kerja bakti tiap hari Minggu ya?" Aku menembak Mas Dewa dengan pertanyaan to the point.
Mas Dewa menyengir.
"Mas, kerja bakti kan cuma sebentar, hari Minggu pula. Kenapa sih sampai mangkir terus? Jangan mentang-mentang bisa bayar dendanya jadi keterusan nggak pernah mau berangkat."
"Bukan begitu, sayang. Tapi hari Minggu itu aku selalu bangun kesiangan. Kadang juga suka lupa karena nggak ada pemberitahuan. Rencananya minggu ini Aku mau tobat. Tadi udah aku suruh Juan bikin grup WhatsApp."
"Nah gitu dong! Jadi papa idaman itu bukan cuma yang merhatiin keluarga aja tapi juga peduli sama lingkungan nya. Paham, Papa Dewa?"
"Sangat paham, Mama Flora!"

KAMU SEDANG MEMBACA
The Richie Hubby [Terbit Ebook]
Romansa[Terbit Ebook] Ebook bisa dibeli di: https://play.google.com/store/books/details?id=_XmXEAAAQBAJ&PAffiliateID=1101l7N6J "when two humans are brought together in a bond called marriage"