Sampai di rumah, mataku langsung di sajikan dengan jajaran boneka singa kecil--oh tidak hanya kecil tapi ada dua boneka singa yang ukurannya agak besar. Mereka semua di tata dengan rapi dengan sebuah kue tart pandan di depannya.
"Welcome home, darling." Mas Dewa memelukku dari belakang. Wajahnya yang kasar mendusel di ceruk leherku yang membuat bulu kudukku meremang.
"Kenapa banyak banget boneka singa nya, Mas?"
"Oh itu, aku cuma nambahin tiga. Biar mereka jadi sekeluarga. Ini Papa Leon, Mama Leon, Kakak Leon and soon to be baby Leon!" Mas Dewa mengelus perutku dengan lembut.
"Ih, alay deh. Aku kan cuma suka sama satu boneka aja. Oh iya terus ada kue tart segala, buat apa emangnya?"
"Sambutan buat Nyonya Alfian. Kamu kan suka banget sama kue tart rasa pandan." Mas Dewa mengambilkan sepotong kue beraroma harum itu. Duh dari aromanya saja berhasil membuat saliva ku ingin keluar.
"Mas, kamu yang nyuruh Anggita ke rumah aku ya?"
Mas Dewa menggeleng.
"Aku malah nggak tahu kalau dia ke rumah kamu. Flo, Anggita itu korban KDRT suaminya. Meski sudah cerai, mantan suaminya itu masih kekeh untuk rujuk. Dan kemarin itu, rencananya aku mau jadi saksi soal KDRT nya karena waktu itu aku pernah lihat dia di pukuli."
"Tapi...kamu udah maafin aku kan? Sumpah aku nggak mungkin selingkuh sama perempuan lain. Satu kamu aja udah cukup."
"Gombal! Oh iya, kok Sofanya enggak nyaman ya? Apa posisi duduk aku yang salah?"
"Kenapa emangnya?" Mas Dewa sedikit terperanjat.
"Enggak apa-apa cuma pegal dikit aja." Aku berdiri saat punggung sudah terasa pegal. "Mungkin di bawa tiduran sebentar enakan kali ya, Mas."
"Ya udah ayo aku antar ke atas. Hati-hati!" Mas Dewa sedikit berteriak saat kaki ku terantuk meja.
"Ya elah, Mas. Cuma kesandung doang."
"Kesandung doang juga bisa bikin kamu jatuh, Flo. Ingat kamu itu sedang mengandung my little baby Leon."
Aku memutar bola mata dengan malas. Selain boros, tukang menghamburkan uang, Mas Dewa juga punya nama lain yaitu si lebay dari gua gading. Huh, Mas Dewa-Mas Dewa.
Untung sayang.
Paginya aku bangun amat sangat terlambat. Tidak biasanya aku bangun di jam sembilan pagi, ini semua gara-gara sakit pinggang yang menderaku. Hanya saja aku tidak berani mengatakannya kepada Mas Dewa, aku takut mengganggu waktu istirahatnya.
Dan ku rasa pagi ini Mas Dewa sudah berangkat ke kantor. Untuk mengecek nya, aku berniat turun ke bawah. Sambil bersenandung lirih aku memantapkan kaki menuruni undakan tangga. Belum sampai ke bawah, telinga ku menangkap suara ramai-ramai. Apa yang sedang terjadi di bawah?
"Loh-loh sofa saya mau di bawa kemana, Pak?" Aku menginterupsi pekerjaan dua orang bapak-bapak yang akan menggotong sofa ku.
"Oh, ini perintah dari Pak Dewa, Bu. Kami akan mengganti nya dengan sofa baru yang sudah sampai di depan. Kebetulan Pak Dewa juga belum berangkat ke kantor dan ada di depan."
Wah-wah, Mas Dewa membeli sofa baru dan lagi-lagi dia tidak memberitahu aku. Langsung saja tanpa basa-basi, aku segera menemui Mas Dewa di depan. Suami ku itu terlihat sedang berbincang dengan sopir mobil yang membawa sofa baru.
Melihatku, Mas Dewa langsung menyapa.
"Hai, kebangun ya gara-gara suara berisik dari bawah?" Tangannya menyibak rambutku untuk di selipkan di atas telinga.
"Lebih tepatnya kebangun gara-gara suara berisik orang-orang yang bawa sofa aku dan katanya mau di ganti dengan yang baru."
Mas Dewa menggaruk tengkuknya. Bibirnya menyengir.
"Sofa baru, Mas?" Aku serius bertanya.
"Iya, kemarin katanya badan kamu pegal karena kelamaan duduk di sofa. Mungkin penyebabnya karena sofa di rumah kita udah rusak, sayang. Daripada terus bikin pegal lebih baik di ganti."
"Oh."
"Tumben enggak marah."
"Males marah-marah terus. Toh, enggak ada gunanya. Udah marah-marah pun kamu masih tetap aja belanja."
"Iya sih." Mas Dewa terkekeh.
***
"Flora, jangan kebanyakan makan pedas-pedas. Nanti perutnya sakit loh!" Mas Dewa menghardik ku yang sedang asyik mengemil mie lidi pemberian Rere yang tadi sore berkunjung.
Aku meliriknya sebentar. Saat Mas Dewa mendekat dan menyodorkan handuk untuk mengeringkan rambutnya, barulah aku berhenti. Ku singkirkan dulu mie lidi ini jauh-jauh agar tidak di ambil Mas Dewa.
"Mie lidi dari siapa itu?"
"Rere. Kenapa sih Mas? Aku tuh ngidam makan mie lidi dan kebetulan tadi Rere main kesini bawa mie lidi. Lagian aku makan yang rasa jagung sama original kok."
"Tetap aja enggak ada nutrisi nya itu."
"Emang makan mie instan ada nutrisinya?" Aku balik bertanya.
Mas Dewa terdiam karena ter-skak mat oleh ku.
"Enggak ada."
"Nah kan." Aku tertawa merayakan kemenangan ku.
Setelah rambutnya kering, Mas Dewa mengambil ponselnya. Dia duduk di sampingku dengan kepala menyender.
"Flora."
"Hem."
Jeda agak lama membuatku menoleh.
"Kenapa, Mas?"
"Aku mau minta izin sama kamu."
Dahi ku mengerut. Rasanya Mas Dewa ada kemajuan. Tidak biasanya dia meminta izin terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu.
"Izin ngapain?"
Mas Dewa kembali terdiam. Aneh sekali sih suamiku ini. Kenapa berubah jadi pendiam seperti cowok-cowok cool yang ngomong aja takut bayar.
"Izin beli sesuatu."
"Lagi, Mas?"
Mas Dewa mengangguk. Ya ampun aku tidak bisa membayangkan berapa digit pengeluaran Mas Dewa selama satu bulan ini.
"Beli apa? Jangan barang yang mahal-mahal ah." Aku mencecarnya.
"Bukan. Kali ini kebutuhan pokok. Kemeja-kemeja yang biasanya aku pakai ke kantor banyak yang pas ke badan aku. Malahan ada beberapa yang kancing nya lepas."
Ups, aku tidak bisa menahan tawa. Benar juga sih. Sebelum kami bertengkar, Mas Dewa pernah curhat kepadaku. Dia mengeluh tentang kenaikan berat badannya yang cukup banyak. Wajar sih mengingat porsi makannya yang besar selama aku hamil ini.
Namun, jika di lihat-lihat, badan Mas Dewa itu masih bagus karena meski timbangan nya naik, massa ototnya juga ikut menggelembung yang membuat badannya tinggi besar seperti orang timur tengah.
"Iya-iya, Mas. Kamu beli baju sesuai keperluan. Oh atau mau aku pilihin?"
"Boleh. Tapi belanja online aja ya. Aku malas keluar nih."
"Oke, siniin ponselnya."
Aku membuka aplikasi belanja online yang bisanya Mas Dewa pakai. Setelahnya aku membuka fitur belanja di mall yang tersedia. Harga yang tertera harus di sesuaikan dengan Mas Dewa, tidak mungkin juga dia mau belanja baju seharga ratusan ribu. Paling tidak satu kemeja saja bisa nyampe satu jutaan.
Dan begitulah suamiku, si sultan yang borosnya kagak ketulungan.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Richie Hubby [Terbit Ebook]
Romance[Terbit Ebook] Ebook bisa dibeli di: https://play.google.com/store/books/details?id=_XmXEAAAQBAJ&PAffiliateID=1101l7N6J "when two humans are brought together in a bond called marriage"