Setelah mendengar celotehan Belleza mengenai hobi favorit nya yakni travelling ke berbagai tempat menarik di belahan dunia, aku mendadak mengidam untuk jalan-jalan. Pikiran ku di penuhi dengan kegiatan piknik di tepi danau, duduk beralaskan tikar sambil memakan cemilan.
Tapi bisakah Mas Dewa mengabulkannya? Tadi malam setelah makan tengah malam, Mas Dewa mengatakan kalau minggu-minggu ini dia akan lebih sibuk karena perusahaan akan meluncurkan produk baru.
Ah, aku jadi menyesal saat menolak tawaran Mas Dewa untuk babymoon .
"Hai sayang, kenapa melamun? Kau butuh sesuatu? Oh atau ingin makan sesuatu?"
Tersadar. Aku segera masuk ke dalam mobil. Mas Dewa sudah menjemput ku untuk pulang. Setelah kandungan mulai membesar, Mas Dewa memang berniat untuk selalu menjemput ku selepas dari deilig kake . Meski nanti Mas Dewa harus kembali ke kantor lagi untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
"Enggak pengen apa-apa. Aku cuma lagi mikirin stok bahan baku aja."
Mas Dewa mengusap punggung tangan ku dengan halus."Jangan sampai kecapekan ya, sayang. Kamu harus jaga kesehatan. Oh iya hari ini aku ada lembur lagi. Mungkin sampai malam karena ada beberapa pekerjaan yang harus di kerjakan sebelum peluncuran produk."
Alasan itulah yang membuat aku sungkan untuk meminta ini itu kepada Mas Dewa. Aku tahu perkejaan nya di kantor sangat banyak.
"Sayang, kok diam aja sih. Beneran capek? Mau aku pijitin dulu nanti?"
"Enggak usah, Mas." Aku menggenggam tangan kirinya. Diam-diam aku melirik wajah Mas Dewa yang agak kusut. Jadwal cukuran nya pun sepertinya tidak dia perhatikan lagi karena rahang nya sudah di penuhi rambut-rambut halus.
"Perusahaan baik-baik aja, Mas? Jangan sungkan buat cerita sama aku kalau ada masalah."
Mas Dewa tersenyum. Senyum yang sangat tulus. Namun aku tetap bisa menemukan raut lelah di wajahnya. Oh, kasihan sekali suami ku ini.
"Hanya masalah kecil. Biasa terjadi sebelum peluncuran produk. Beberapa produk ada yang cacat. Akan tetapi tim perusahaan bisa andalkan, mereka sudah memperbaiki nya. Jangan khawatir."
"Oh iya, nanti kalau aku belum pulang kamu main aja ke rumah Rere atau Melia. Biar enggak kesepian."
Aku mengangguk.
Sampai di rumah dan setelah kami berdua menyempatkan makan siang bersama, Mas Dewa langsung kembali ke kantor. Baru satu jam waktu berjalan, aku mendengar bel rumah berbunyi di iringi suara sahut-sahutan.
"Flo, sibuk enggak?" Melia langsung menodong ku dengan pertanyaan begitu pintu ku buka.
"Enggak. Ngapain emangnya?"
Rere memperlihatkan ponsel nya." Join trend ini yuk. Gue lagi kesepian nih. Anak gue lagi ke rumah kakek neneknya. Mas Deva lagi keluar kota. Dewa juga lembur kan."
Trend yang di maksud Rere adalah camping sambil menonton drama korea. Entah dapat ide trend darimana dia. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa sepemikiran dengan ku. Baru beberapa jam yang lalu aku ingin sekali camping--yah, meski bukan di tepi danau. Tapi bolehlah.
"Iya dong Flo. Camping nya di belakang rumah lo aja. Kan luas tuh. Buruan izin sama Dewa!"
"Masuk aja deh. Enggak usah izin juga di bolehin kok. Eh, tapi kok kalian enggak bawa apa-apa. Di rumah gue enggak ada bahan buat bakar-bakaran loh."
Rere dan Melia kompak meringis. Otak mereka pasti memikirkan hal-hal gratisan. Bukannya pelit tapi memang di kulkas sedang tidak ada stok daging setelah semalam di olah Mas Dewa.
"Heh, beli dulu yuk." Melia hendak mengeluarkan ponsel namun aku segera mencegah. Tiba-tiba aku ingin makan es krim yang biasa ku tuju jika sedang ke mall.
"Mall aja deh. Pengen makan es krim."
"Iya deh bumil."
***
Kami bertiga akhirnya memutuskan untuk membeli makanan yang sudah jadi. Karena di pikir-pikir akan terasa lebih mudah daripada harus panas-panasan di depan bara api dan asap yang mengepul.
"... drakor yang recommended banget itu Crash landing on you atau itaewon class ?" Melia terus mengoceh sembari menenteng makanan dari restoran all you can eat.
"Crash landing on you . Soalnya ada hyun bin." Aku menimpali pertanyaan Melia sambil menikmati satu cup es krim.
" Itaewon class lah. Kan ada oppa seo joon nya yang ganteng nya kayak Mas Deva." Rere terkikik.
"Dih, apaan sih, Re." Melia tak setuju oppa kesayangan nya di samakan dengan suami Rere. Mulutnya yang tipis itu mencebik.
Sepanjang melewati gerai demi gerai yang ada di dalam mall, kami bertiga banyak bercerita. Masa-masa seperti ini yang jarang kita rasakan. Rasanya seperti kembali ke zaman semasa abg.
"Zaman sekarang tuh orang-orang udah enggak tahu malu." Tiba-tiba Melia menyeletuk. Aku dan Rere saling berpandangan karena ucapan Melia keluar dari topik. Dari yang ngobrolin dunia perdrakoran langsung berubah jadi ngomongin orang zaman sekarang.
"Apa sih, Mel."
"Tuh, masak mau ciuman di mall. Enggak malu apa sama anak kecil yang lewat. Udah gila tuh orang!"
Mata ku sontak mengikuti arah pandang Melia. Jantung ku rasanya ingin merosot saat melihat kedua lawan jenis yang sedang duduk di restoran sushi. Ya Tuhan, aku mengenalnya. Dia Mas Dewa.
Aku yakin itu Mas Dewa. Aku tidak pernah salah menilai suamiku sendiri tapi...kenapa Mas Dewa tega melakukan ini kepada ku.
"Pegang ini, Mel!" Aku menyerahkan paper bag ke tangan Melia. Kaki ku sudah menjejak lantai mall yang dingin dengan kuat. Tangan ku mengepal dan siap menonjok wajahnya. Apa-apan itu, berciuman dengan perempuan asing di depan mataku. Lembur apanya.
Sampai di sana, aku menjambak rambut Mas Dewa yang sontak langsung mengerang kesakitan.
"Dasar lelaki buaya!" Air mata ku tidak bisa si negoisasi untuk turun belakangan. Hormon kehamilan ini membuatku mudah tersentuh.
"Flora?!"
"Apa, Mas? Kaget karena kepergok selingkuh?" Setelah ku jambak, aku menendang tulang kering Mas Dewa. Aku sama sekali tidak perduli kalau dia tiba-tiba tidak bisa berjalan. Rasakan itu.
"Aku hamil anak kamu dan kamu bisa-bisanya...," Aku menarik nafas dalam-dalam."selingkuh sama perempuan lain, Mas?!"
"Sayang, dengerin dulu penjelasan aku. Flora, aku enggak selingkuh. Jangan salah paham. Oh, ayolah dia Mira, brand ambassador perusahaan. Kami sedang meeting."
Aku tertawa. "Meeting tentang apa sampai ciuman segala?!"
Meski kami menjadi tontonan banyak orang, aku tidak perduli. Mas Dewa sudah membentuk luka baru di hati ku, orang yang paling aku percayai, tega-teganya dia mengkhianati kepercayaan ku.
"Ciuman apa, sayang? Kamu salah lihat."
Aku menepis tangan Mas Dewa yang hendak merangkul ku. Tidak sudi tangan kotornya aku biarkan menyentuhku.
"Tadi ak--"
"Udah deh, Mas. Stop it! Aku izin pulang ke rumah Mama." Sambil mengusap mata yang sudah sembap, aku berjalan meninggalkan Mas Dewa.
"Flo! Please, dengerin aku dulu. Tolong jangan pergi kemanapun!"
Aku tidak mendengarkan ucapan Mas Dewa lagi. Telinga ku langsung terkunci begitu hati dan otak memerintahkan nya. Mungkin memang sampai sini aku berjodoh dengan Mas Dewa.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Richie Hubby [Terbit Ebook]
Romansa[Terbit Ebook] Ebook bisa dibeli di: https://play.google.com/store/books/details?id=_XmXEAAAQBAJ&PAffiliateID=1101l7N6J "when two humans are brought together in a bond called marriage"