Bamboo Forest-19

2.7K 364 16
                                        

Luo Binghe terbangun ketika pagi menyingsing. Tempat tidurnya besar, tapi pria yang ia gagahi semalam tidak ada di sampingnya. Turun dari pembaringan, Luo Binghe memungut jubahnya yang ada di lantai.

Usai mencuci wajah, ia berpakaian rapi, bergerak menuju halaman di luar, melewati jalan setapak menuju taman yang menjadi tempatnya untuk bersantai.

Di sepanjang jalan, Luo Binghe terus memikirkan sosok Shen Qingqiu yang meminta pengampunan di bawah kungkungannya. Wajahnya yang tampak kuyu, berbalut keringat, membuat kulitnya terasa lebih licin dan halus dengan warna kemerah-merahan yang menggoda. Membayangkan ini lagi, benda yang ada di antara pahanya menjadi keras! Sial!

"Waaaaah huhuhu Ba... ba." Luo Binghe berhenti ketika suara tangisan itu melesak masuk memenuhi indra pendengarannya. Semakin dia mencari, suara tangisan itu akan semakin kencang dan keras.

Luo Binghe melewati pohon besar terakhir, menemukan sosok balita kecil yang sedang duduk di alas lembut yang tersebar di atas rumput. Di sekelilingnya penuh dengan boneka mainan, pedang mainan, hingga bantal yang digunakan jika anak itu akan tertidur.

Hati Luo Binghe tergerak untuk mendekat. Menyaksikan bocah kecil yang sedang menangis tersedu-sedu memanggil seseorang dengan sebutan Baba.

Kemana ayah anak itu? Apakah orang itu sama sekali tidak perduli dengan anaknya sendiri? Bagaimana jika sesuatu terjadi dengan anak itu? Beruntung ia menemukannya, jika tidak, anak itu pasti dalam bahaya. Benar.

Tunggu.

Apa dirinya baru saja perduli pada anak kecil yang bahkan tidak ia kenali? Apa hatinya sangat lembek sehingga anak kecil itu mampu merebut dan melelehkan hatinya yang sekeras baja?

Luo Binghe bergelut dengan pikirannya sendiri. Tetapi, tangisan anak kecil itu mampu mematahkan segala pemikirannya. Saat ini, dia hanya bergerak, melalui naluri, menuntunnya untuk duduk di depan anak kecil itu.

"Nak. Kenapa menangis, hm?" Pertanyaan konyol. Anak kecil pasti akan menangis jika sendirian seperti ini. Luo Binghe tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan bocah kecil, dia terlalu kaku.

Anak kecil itu memiliki mata hitam yang jernih sejernih air yang bersih. Matanya bulat besar, pipinya sedikit tembam, rambutnya seperti gulungan ombak, persis seperti rambutnya sendiri. Bibirnya kecil dan merah muda, hidungnya mancung, bulu matanya sangat panjang dan lentik, di antara alisnya, ada simbol merah melingkar yang agak rumit seperti dirinya. Sebuah tanda dari keturunan iblis berdarah murni.

Luo Binghe tersenyum. Merasa tersentuh. Bayi siapa yang ia temukan ini? Hatinya terasa hangat ketika anak kecil itu menatapnya dengan matanya yang berair. Bibirnya terus menerus menggumamkan kata Baba. Tangan kecilnya memeluk boneka yang terbuat dari kulit serigala, membuatnya sangat halus dan nyaman.

Sungguh anak yang lucu.

"Ayah huhuhu." Dilihat dari usia, balita itu berusia sekitar 2 tahun lebih 2 bulan. Anting di telinganya menegaskan bahwa anak ini adalah perempuan. Anak yang menggemaskan.

Luo Binghe tidak tahan. Tangannya bergerak tanpa sadar memgambil bocah itu, membawanya kedalam gendongan dan dekapan yang hangat.

"Cup cup, jangan menangis. Anak perempuan jelek jika menangis." Mengusap air mata anak kecil itu, Luo Binghe merasa sangat bahagia.

Bibir Luo Binghe terangkat, membentuk bulan sabit. Menampilkan sebuah senyuman yang sangat menawan. Sebuah senyuman yang hanya muncul di masa lalu. Bayi kecil yang ia gendong sedang menatapnya dengan sengit, tetapi matanya jernih dan berkilau, tampak lucu. Seolah ada rasa permusuhan yang kuat , bayi kecil itu memukul dada Luo Binghe dengan tangannya yang sangat kecil.

Bamboo Forest | HiatusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang