Bab 29 : Cinta yang akan membawa petaka
Shen Qingqiu berdiri di depan pondok bambu yang cukup besar, sebuah tempat sederhana dengan penyangga dan keseluruhan tata letak dibuat dengan batang bambu. Ini adalah akademi miliknya sendiri!
Bagus. Saatnya mencari murid!
Shen Qingqiu mengambil papan kayu, menggiling tinta, mencelupkan kuas dan ingin menulis sesuatu. Matanya fokus ketika otaknya berfikir dengan keras untuk menyusun kata demi kata di atas papan kayu, tangannya berhenti sejenak dan ada jeda yang cukup panjang ketika Shen Qingqiu tiba-tiba tersenyum seakan telah mendapat petunjuk ilahi untuk kenaikannya ke surga.
Setelah beberapa waktu berlalu, Shen Qingqiu sekali lagi melihat karyanya, mendesah puas dan membawa papan kayu itu ke balai desa, memajangnya menjadi papan buletin.
[Masuk Akademi tidak menjamin kamu jadi jenius…
tapi peluang meningkat drastis!”
Daftar sekarang! Diskon stres 50% karena semua guru ramah.]
Itu adalah papan pengumuman tentang pendaftaran penerimaan murid baru di akademi yang baru dibangun oleh Shen Qingqiu beberapa jam yang lalu. Tidak tepat mengatakan bahwa itu sebuah akademi, itu lebih seperti... tempat tinggal orang-orang terlantar. Tetapi, untuk Shen Qingqiu, sang dewa sastra, itu adalah surga, sebuah seni yang memadukan keindahan dan budaya. Sangat cocok untuk menempa murid jenius!
Dia akan menunggu sampai akademi kecil miliknya dipenuhi oleh ratusan murid!
4 jam kemudian... akademi kecil itu tampak sepi, daun kering yang baru terjatuh tertiup angin, seolah alam bahkan mengejek visi dan misi milik Shen Qingqiu, membuat tempat itu seperti villa kecil tak berpenghuni.
Shen Qingqiu mendesah, bibirnya tanpa sadar meniup rambutnya yang jatuh di depan wajah. Dia tidak tahu apa yang salah dengan papan promosi miliknya, dia hanya merasa bahwa papan yang dia tulis cukup menekankan estetika dengan tujuan yang kuat, berani, dan pantang menyerah, sebuah filosofi suci yang agung. Lalu... mengapa tak ada satupun orang yang mendaftar? Apa yang salah?
Shen Qingqiu menggeleng tak berdaya, merasa sakit di hati. Dia hendak bangun ketika suara yang begitu kecil, nyaris tak terdengar jika Shen Qingqiu tidak mendengar dengan benar–datang dari balik pohon.
Dia menoleh dan mendapati anak laki-laki kurus yang dia temui tempo hari. Keningnya berkerut tajam, tetapi segera, ekspresinya berubah lembut, penuh kasih.
"Binghe? Kau kah itu?"
Luo Binghe ragu-ragu sejenak, takut jika kehadirannya tidak akan diterima. Sementara itu, Shen Qingqiu hanya mengembuskan nafas pasrah. Tidak masalah jika hanya ada satu murid.
"Binghe," panggilnya. Shen Qingqiu memasang senyum paling tulus dari lubuk hati, dengan lapang dada menerima fakta bahwa hanya anak itu saja yang datang ke tempat ini. Shen Qingqiu melanjutkan, "tidak apa-apa, keluarlah."
Perlahan, Luo Binghe bergerak dari balik pohon. Anak laki-laki yang telah kurus akibat kekurangan asupan itu berdiri di depan Shen Qingqiu dengan perasaan gugup.
"Nah, kemarilah, jangan takut."
Luo Binghe mendongak dan pupilnya bergetar hebat. Tangan seputih batu giok yang menyilaukan mata muncul dalam penglihatannya. Kulit pihak lain tampak halus dan lembut, jarinya ramping seakan dewa memahatnya dengan cermat tanpa kesalahan apapun. Bibirnya melengkung membentuk bulan sabit, tidak berlebihan, tetapi begitu nyaman dilihat. Wajahnya indah dan bersinar, seolah dirinya adalah cerminan dari musim semi itu sendiri. Hangat dan tenang.
Untuk pertama kalinya, Luo Binghe terdiam cukup lama, mengagumi pihak lain tanpa pamrih, enggan memalingkan wajah dan benar-benar merasa itu adalah senyuman paling indah di dunia setelah senyuman ibunya.
Shen Qingqiu mengulurkan tangan dan Luo Binghe secara naluriah mendekat. Dia merasa gugup sekaligus bersemangat, hatinya penuh keraguan untuk sesaat sampai akhirnya dia berhasil menggenggam jari pihak lain.
Tubuhnya sedikit gemetar, aliran listrik menyengat dari kulit ke kulit, membawa sensasi tak terkatakan yang anehnya membuat dirinya senang.
"Binghe." Suara yang begitu lembut membuat Luo Binghe mendongak. Dia menunggu pihak lain berbicara lagi, "apakah kamu datang kemari untuk mendaftar?"
Luo Binghe mengatupkan bibir. Jika dirinya berkata bahwa dia datang kemari untuk bertemu dengan dewa ini, apakah dewa ini akan marah padanya? Bagaimana jika dewa ini marah? Apakah dewa ini akan menjauhinya dan menatapnya dengan jijik?
Luo Binghe menggertakkan giginya. Tidak! Dewa di depannya ini adalah miliknya!
Luo Binghe menghirup udara dengan keras. Dia memandang wajah paling indah di matanya itu dan mengukirnya sedalam mungkin. "Ya, saya datang untuk berguru."
Nyatanya... Shen Qingqiu ingin sekali menangis. Diantara ratusan manusia, mengapa harus Luo Binghe? Dia sangat pesimis tentang bakatnya. Jangan berbicara tentang bakat, dia bahkan tidak yakin apakah anak itu bisa berkultivasi atau tidak. Tetapi, sangat tidak baik melukai hati seorang anak. Dia bukanlah bajingan!
"Kalau begitu, selamat datang di akade–ahem... di pondok bambu. Mulai hari ini, aku adalah gurumu. Panggil aku Shizun, ya?."
Mata yang kusam itu tampak memiliki binar secerah matahari. "Ya, Shizun," Katanya.
Shen Qingqiu dengan hati-hati menepuk kepala Luo Binghe, membuatnya agar merasa nyaman. "Anak baik." Dia memuji dengan sungguh-sungguh, tanpa kemunafikan apapun.
Karena hari hampir menjelang siang, Shen Qingqiu menggenggam tangan Luo Binghe, keduanya berjalan ke arah dapur. Pria muda‐Luo–yang terbiasa melangkah ke dapur langsung bertanya, "apakah kita akan memasak, Shizun?"
Shen Qingqiu, yang saat ini sedang menyiapkan bahan kemudian mengangguk. "Ya, tapi Shizun tidak tahu harus memasak apa."
Luo Binghe berkata. "Shizun, izinkan murid ini memasak untukmu."
Shen Qingqiu berpura-pura terkejut. "Kau bisa memasak?"
"Ya!" Dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu, Luo Binghe menjawab dengan antusiasme penuh.
"Wow. Luo'er ku sangat hebat!" Kata-katanya meluncur begitu saja. Tidak peduli apakah itu intim atau canggung, Shen Qingqiu berkata tanpa berpikir.
Luo Binghe, yang telah mendapatkan panggilan akrab, kini tersipu. Dadanya berdebar hebat dan cepat, napasnya tertahan dan bibirnya tak dapat menahan senyum.
Begitu saja. Luo Binghe mengambil inisiatif, melakukan pekerjaan dapur dan membiarkan Shen Qingqiu duduk dengan tenang dibawah pohon plum.
Dalam sejarah kelam kehidupan Luo Binghe, anak itu tidak pernah memasak untuk siapapun selain ibunya. Tetapi hari ini, dia memasak untuk dewa penyelamat, orang paling indah dan berharga–Shen Qingqiu– yang membuatnya semakin dia berpikir, semakin dia yakin bahwa dia harus menyenangkan pihak lain.
Tanpa sadar, momen itu terlihat sangat manis. Angin bertiup pelan, membawa kesegaran dan harmoni dalam diam, seakan sedang menciptakan resonansi paling memikat di dunia.
Luo Binghe telah berjanji dalam hidupnya, untuk shizunnya, dia akan melakukan segala hal yang diperlukan, bahkan mengorbankan hidupnya sendiri!
Shen Qingqiu tidak tahu, bahkan para dewa yang tinggal di istana langit paling megah, tidak akan dapat mempercayai suatu hari... cinta tulus itu akan membawa petaka dan tragedi.
Tbc.
27 November, 2025.
Halo.
Saya kembali.
Saya tidak tahu apakah masih ada yang ingat dengan cerita ini atau tidak, apakah masih ada yang setia menanti atau tidak. Saya hanya... merindukan apa yang sudah saya tulis. Saya ingin melanjutkan dan saya sedikit memiliki waktu luang malam ini.
Sampai bertemu di Chapter selanjutnya.
Salam hangat.
Belim_bing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bamboo Forest | Hiatus
FanfictionShen Qingqiu. Tokoh antagonis yang dipaksa menikah dan dijadikan selir yang ke 3001 oleh Luo Binghe, pemimpin klan iblis sekaligus protagonis terkuat. Shen Qingqiu masih bisa bertahan kala penyiksaan yang dilakukannya pada BingHe di masa lalu terul...
