Bamboo Forest-15

3.3K 469 34
                                        

Vote dong.

Capek aku lihatnya kalian jadi siders
.
.

Ketegangan menyelimuti perasaan semua orang yang hadir dalam aula istana. Suasana mencekam yang datang dari aura membunuh milik Luo Binghe membuat semuanya terdiam tidak berkutik.

Di atas singgasana yang nampak megah, duduk penguasa istana Luo Binghe dengan postur angkuhnya. Tatapannya tajam seolah bisa membunuh orang dalam sekali serang. Sang penguasa yang Agung, Luo Binghe mengangkat sebelah alisnya dengan congkak.

"Katakan." Suara beratnya menginterupsi selir dan pelayan, memaksa mereka mendongak dalam ketakutan yang luar biasa. Tubuh mereka terasa berat hanya sekedar untuk mendongak, seolah leher mereka telah tertimpa berton-ton pilar istana.

"Siapa yang telah meracuni istriku?" Luo Binghe menekan kata istri sehingga para selir terkejut dalam diam. Bola mata mereka melebar seperti akan keluar.

"Aku bertanya, siapa yang telah meracuni istriku? Jawab!!" Luo Binghe bukanlah orang yang memiliki kesabaran penuh. Ketika dia bertanya namun para selir dan pelayan tak kunjung menjawab membuat emosinya naik ke tingkat yang lebih ekstrem.

"Kalian selir bisu dan budak rendahan tidak bisa bicara? Apa pita suara kalian sudah membeku atau sudah rusak permanen?" Selain memiliki tingkat emosional yang tinggi. Luo Binghe juga bukan orang yang bisa berkata lembut, terlebih kepada manusia yang membuat rusuh dalam hidupnya.

Melihat tidak ada satupun yang angkat suara, dan terus menunduk diam. Luo Binghe mengambil cangkir teh dan melemparnya. Dengan bunyi prank! para selir dan pelayan jatuh berlutut dalam keadaan bergetar hebat.

"Ampuni kami Lord." Mereka menjawab secara serentak seperti paduan suara. Keadaan aula istana yang senyap membuat suara itu terdengar sangat keras dan menggema di aula.

Luo Binghe mendengus sekali. Dia kemudian berkata, "jika anak yang dikandung oleh istriku tidak bisa diselamatkan, kalian semua akan mati hari ini juga!"

Kemudian, dalam sekejap, suara bisikan ketakutan berdengung saling sahut menyahut seperti burung dan ayam yang sedang berkokok. Telinga Luo Binghe berkedut sakit.

"DIAM!!" Aula itu kembali senyap dalam sepersekian detik.

"Siapa saja yang berani membongkar kejahatan ini, jika itu adalah seorang pelayan, maka dia akan menjadi selirku, jika dia adalah selirku, maka dia akan aku angkat menjadi permaisuri."

Tempat itu kembali riuh seperti pasar swalayan alam manusia fana. Bisikan demi bisikan kembali terdengar layaknya gosip hangat dikalangan para bangsawan yang cepat menyebar seperti angin.

Tawaran seperti itu, siapa yang tidak mau? Menjadi selir, kau akan dihormati setidaknya memiliki keuangan yang sangat banyak, memiliki sepetak tanah luas, makan dan minum diatur oleh pelayan. Sementara menjadi permaisuri, bisa menguasai seluruh istana, termasuk mengatur para selir. Hanya orang-orang bodoh yang akan menolak keberuntungan ini.

Keberuntungan tidak datang dua kali, benar?

Setelah mengumpulkan keberanian, salah seorang pelayan berdiri setelah meremat bajunya hingga kusut. Luo Binghe memandang pelayan ini dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.

"Katakan."

Pelayan itu perlahan mendongak sekali, "pagi ini, ketika pelayan ini mengantarkan makanan selir Shen. Sebelumnya, makanan itu berasal dari Selir Qin."

Selir Qin merasa urat nadi di lehernya mengencang. Dia berdiri, menunjuk pelayan itu dalam kemarahan, "kamu... pelayan rendahan! Lancang sekali! Siapa yang kamu fitnah?"

Bamboo Forest | HiatusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang