Dunia itu kejam. Hidup itu keras. Manusia itu penuh dengan tipu daya.
Itulah yang Shang Qinghua alami. Seperti seekor anak ayam yang masuk kedalam kandang serigala. Dalam kehidupan sebelumnya, Shang Qinghua sudah terbiasa diinjak-injak hanya untuk meraih gelar pemimpin puncak An Ding. Sebuah puncak yang akan ditertawakan oleh orang-orang karena Puncak An Ding adalah puncak yang tidak memiliki reputasi di dunia kultivasi.
Sudah jatuh, tertimpa tangga. Hidup Shang Qinghua tidak pernah berjalan mulus di setiap karirnya. Setelah menjadi pemimpin puncak, kini dia terjerat di istana megah dengan status seorang pelayan Mobei Jun.
Shang Qinghua menatap kedalam sumur. Ada suara nafas yang terdengar lelah keluar dari bibirnya. Satu kali ayunan, gayung yang dipegang itu tercebur ke dalam air. Membungkuk sedikit, tangan rampingnya mengangkat tali gayung sampai ke atas. Air jernih dituangkan dari gayung ke ember besi yang tergeletak di sisi kiri dan kanannya.
Batang bambu di arahkan secara vertikal. Kedua sisi ujung diisi dengan ember besi. Dia berjongkok, meletakkan batang bambu di belakang pundak, tangannya terentang, memegang ujung bambu yang berlawanan. Shang Qinghua berdiri, membawa kedua ember besi ke dalam dapur, menuangkannya lagi ke dalam tong besar yang terbuat dari tembikar.
Diikuti dengan suara gedebuk keras, Shang Qinghua jatuh ke tanah, mengelap bulir-bulir keringat yang bercucuran seperti sedang berlomba siapa yang lebih dulu mencapai garis finish.
"Sialan! Kenapa aku yang menjadi ketua puncak harus menjadi pelayan di sini? Ini sungguh tidak adil!" Protes. Shang Qinghua ingin menangis. Disepanjang hidupnya, dia selalu menemukan kesialan kemanapun dia berjalan. Dengan putus asa, Shang Qinghua berjalan ke arah lemari kayu, mengambil uang kertas, dan pemantik.
Taman belakang istana adalah target Shang Qinghua. Sebuah tanah dengan rumput hijau segar menjadi ikon cantik sejauh mata Shang Qinghua memandang.
Dia duduk, mengambil benda pipih berwarna coklat dari tembikar, menumpuk uang kertas di atasnya, kemudian membakarnya dengan pemantik. Tangannya terkatup membentuk doa, sesekali dia membuang uang kertas ke udara, turun seperti hujan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara magnetik dari belakangnya membuatnya terlonjak. Dia menoleh, hanya untuk mendapati Mobei Jun tengah menatapnya aneh tanpa ekspresi yang jelas. Benar, Shang Qinghua ingat, bahwa pria itu memiliki syaraf kejepit hingga tak mampu berekspresi.
"Apa yang kau lakukan?" Pertanyaan yang sama terlontar untuk kedua kali. Shang Qinghua mendelik dan mencibir. Dia pikir, Mobei Jun sudah menganggu ritualnya pagi ini.
"Apa yang kau lakukan?" Lagi, pertanyaan itu keluar. Shang Qinghua sudah hidup di istana ini lebih dari enam bulan lamanya. Dia mengalami kerugian yang tak terhitung jumlahnya.
Awalnya, Mobei Jun mencarinya ke seluruh tempat hanya untuk menemukan Shang Qinghua duduk bersimpuh di tanah dengan baju lusuh, wajah kusut, dan rambut berantakan. Seperti pengemis. Tiga kali bertanya, tiga kali juga tak ada jawaban pasti.
"Apa yang–
" Berhenti bertanya!" Shang Qinghua memotong ucapan Mobei Jun. Namun, pertanyaan selanjutnya membuat Shang Qinghua benar-benar menghembuskan nafas lelah.
"Jadi. Apa yang kau lakukan?" Shang Qinghua menyebar uang kertas bolong ke udara lagi, kali ini, uang itu terbang tertiup angin dingin dan jatuh di dekat Mobei Jun.
"Aku sedang melakukan ritual, tidak, lebih tepatnya sedang berdoa." Shang Qinghua menjawab putus asa. Alis Mobei Jun terangkat.
"Siapa yang mati?" Mobei Jun bertanya.
"Keberuntunganku. Keberuntunganku telah mati!" Hanya untuk alasan ini, Shang Qinghua menatap langit dan hampir menangis!
Dia bertanya-tanya, dosa dan kesalahan apa yang telah dia lakukan di masalalu sehingga nasibnya begitu buruk. Dari sejak dia lahir hingga menjadi pemimpin puncak An Ding, dia adalah pria dengan kebaikan dan moralitas yang tinggi. Dia memberikan fakir miskin sedekah setiap hari. Dia bekerja keras, banting tulang hingga rasanya tidak memiliki tulang lagi. Dia berusaha dengan gigih tidak perduli bagaimana situasi dan kondisi. Dia berusaha naik ke puncak hanya untuk dihormati dan sekarang setelah bertemu Mobei-Jun dia merasa usahanya bertahun-tahun langsung jatuh ke dalam jurang neraka.
Mobei-Jun kembali ke dapur, Shang Qinghua mengangkat bahu. Yah, itu bukan urusannya. Jadi, dia kembali berdoa dan membakar uang bolong.
Shang Qinghua sedang khusyuk berdoa ketika sebuah wajan terlempar dan jatuh di atas tungku perapian uang kertas. Dia melirik oknum yang sudah melempar wajan itu. Shang Qinghua geram.
Mobei-Jun!!!
Dia akhirnya sampai pada titik dimana dia ingin memberikan kepalan tangan ke arah Mobei-Jun. Apa yang pria itu inginkan sehingga harus melempar wajan dan membuatnya terkejut? Do'anya tidak bisa khusyuk lagi! Pria sialan ini!!
Jauh di dekat pintu masuk halaman. Mobei-Jun hanya berdiri. Tidak mengatakan sepatah katapun. Ekspresinya membuat emosi dan darah Shang Qinghua naik ke ubun-ubun.
Berdiri, menendang wajan, kemudian berteriak. "Keparat gila! Apa yang kau inginkan? Katakan!"
Belum sampai beberapa detik, Shang Qinghua sudah melayang dan melesat seperti anak panah. Lehernya berakhir di tangan Mobei-Jun, cengkraman itu membuat nafas Shang Qinghua tercekat.
Wajah menyeramkan Mobei-Jun menjadi objek yang membuatnya ketakutan hingga hampir mati. Shang Qinghua berusaha mati-matian melepas cengkraman itu. Akan tetapi, dia tidak mampu. Sebagai jalan pintas, pada akhirnya Shang Qinghua berdoa.
Pria di depannya ini brengsek. Dia tersenyum mengejek untuk pertama kalinya, menertawakan Mobei-Jun.
Sialan! Akhirnya aku akan mati! Hahahahaha!
Matanya berbinar cerah ketika dia memikirkan bahwa cengkraman Mobei-Jun akan membuatnya mati dengan cepat. Namun, kelopak matanya sedikit meredup ketika teringat sesuatu. Dia belum makan! Tidakkah Mobei-Jun memberikannya kesempatan untuk makan terlebih dahulu baru kemudian dia bisa mencekiknya lagi? Dia tidak bisa pergi ke akhirat dengan perut kosong! Jika dia berada di surga, mungkin itu akan bagus, tapi bagaimana jika dia jatuh ke neraka dan bertemu raja Yama?
Tidak bisa! Dia harus makan dengan kenyang terlebih dahulu. Tidak perduli apa yang dilakukan Mobei-Jun, dia harus makan! Setidaknya, makan untuk yang terakhir kalinya. Yah, begitu. Kapan lagi dia bisa menikmati makanan dunia setelah dia pergi ke akhirat nanti?
Shang Qinghua berusaha sekali lagi untuk terbebas dari Mobei-Jun, tetapi tenaganya terkuras. Saat mata hitamnya berguling ke belakang, menyisakan warna putih pucat yang menggantung, Shang Qinghua mampu merasakan sebuah cahaya ilahi dimana raja Yama sedang menunggunya untuk disidang di neraka bawah.
Shang Qinghua seolah melihat tangan Raja Neraka itu terulur kepadanya, dia ingin meraihnya sebelum pasokan udara tiba-tiba masuk ke saluran pernafasannya. Paru-paru yang sempat kosong, kering kerontang seperti sebuah tanah tandus yang didatangi air hujan. Menyegarkan.
Dia terbatuk beberapa kali. Meraup oksigen dengan kasar dan rakus, tidak menyisakan satu apapun.
Sejauh mata memandang, Mobei-Jun sedang memunggunginya, tanpa menoleh, Mobei Jun berkata,"Masak." Kemudian pergi dari sana.
Shang Qinghua mengernyit. Mobei-Jun tidak pernah berbicara lebih panjang dari yang sebelumnya. Sepertinya, dia harus membuat kamus terjemahan dan menulis beberapa kata tambahan untuk Mobei-Jun nanti.
"Brengsek! Aku hampir saja mati. Apakah iblis itu tidak tahu aku takut mati? Tidak adakah yang tahu bahwa aku takut dengan Raja Yama? Sial sial sial!" Menggerutu, adalah hal yang bisa Shang Qinghua lakukan. Dia tidak bisa melawan, menerbangkan pedang, beladiri atau semacamnya. Mengerti? Dia hanya mampu membuat perabotan dan menjadi pelayan! Jangan salahkan dia, salahkan orang tuanya yang memberinya Otoritas untuk berlajar di puncak An Ding!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bamboo Forest | Hiatus
FanfictionShen Qingqiu. Tokoh antagonis yang dipaksa menikah dan dijadikan selir yang ke 3001 oleh Luo Binghe, pemimpin klan iblis sekaligus protagonis terkuat. Shen Qingqiu masih bisa bertahan kala penyiksaan yang dilakukannya pada BingHe di masa lalu terul...
