Book 2 | Bab 26

2K 159 14
                                        

Dunia dewa, 1000 tahun yang lalu.

Istana Dewa sastra.

Suara angin berhembus memecah kesunyian di balik hutan bambu yang batangnya saling beradu. Deru air sungai mengalir dan kelopak bunga yang berguguran menjadi pemandangan pertama yang terlihat oleh mata para pelayan dewa.

"Pssstttt..." Pelayan Dewa wanita itu berbisik. Teman di di sampingnya menoleh dan mengerutkan kening.

"Ada apa?"

"Apa kau pernah bertemu dengan Dewa Sastra?"

"Tidak. Kupikir yang bisa bertemu dengannya adalah pelayan yang sering mengantarkan makanan." Salah seorang yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka ikut bergabung.

"Apa kau tahu? Temanku menjadi pelayan Tuan Dewa, dia mengatakan bahwa Tuan Dewa Sastra memiliki paras cantik yang dimiliki oleh seribu wanita di alam fana, kulitnya lembut seperti kain sutra, begitu putih seperti batu giok."

"Betul, betul. Tapi apa kau tahu? Tuan Dewa Sastra itu seorang pria, bermartabat, dan berpengetahuan luas. Dia tidak kalah populer dengan Dewa Perang."

Pelayan itu bergosip tanpa melihat sekitar, tidak tahu bahwa Dewa Sastra sudah berdiri di hadapan mereka, tersenyum, dan sedikit mengangguk. Segera, mereka serentak menunduk dan mengucapkan kata maaf.

"Tidak masalah. Terlalu serius akan membuat hidupmu bosan, gosip itu adalah hal yang tidak bisa kita hilangkan dari hidup ini." Suaranya bagai air tenang, begitu jernih dan menyenangkan.

Pelayan mendongak, terkejut. Wajah itu adalah wajah yang sebanding dengan seribu kecantikan makhluk fana, matanya hitam berair, bibirnya ranum sewarna peach, segar dan berkilau. Dia dipahat begitu sempurna hingga bahkan seorang dewa terkenalpun tak dapat memilikinya.

Senyumannya seindah kelopak bunga yang mekar dikala musim dingin melanda, kelopak bunga yang memancarkan seribu keindahan ditengah cuaca dingin. Kulitnya seputih salju, bagai Giok yang berharga, begitu halus dan mulus, terasa kenyal dan kencang. Proporsi tubuhnya tidak ramping juga tidak terlalu kekar, tipe tubuh yang diidam-idamkan banyak orang.

Cantik, menawan, berwibawa, manis, dan anggun. Terlihat feminim namun tak menghilangkan sosok sejatinya.

Melihat bagaimana Dewa Sastra itu tersenyum, pelayan tiba-tiba merasa canggung, dengan cepat menundukkan kepala. Kain satin dengan bordiran emasnya menjuntai hingga menapak ke tanah, sepatunya putih bersih tanpa noda, tinggal di pondok bambu membuatnya bagai harta terlangka yang ada di dunia.

Tempat tinggalnya tidak bisa disebut istana, itu lebih cocok disebut dengan Pondok Bambu. Dikatakan demikian, seluruh pondok terbuat dari batang bambu berkualitas tinggi dengan lantai yang terbuat dari kayu mahoni. Dikelilingi oleh ribuan  bambu hijau dengan daun yang rindang, membuat pondok itu menjadi tempat tinggal ternyaman yang pernah ada di dunia Dewa.

Di belakang halaman, terdapat kolam ikan yang dihiasi dengan bunga teratai yang besar nan mekar. Menambah kesan indah yang sesuai dengan karakternya.

"Shidi." Ucap seseorang dari kejauhan. Dewa Sastra menoleh, melambaikan tangan dan tersenyum.

"Zhangmen Shixiong."  Merasa kehadiran mereka mengganggu kedua orang itu, para pelayan dengan patuh undur diri. Memberikan privasi untuk mereka.

"Apa yang sedang kau lakukan?"  Mata pemimpin Dewa tertuju pada gulungan bambu yang berada di dekapan dewa Sastra.

"Oh? Ini... ini filsafat."

Pemimpin Dewa terkekeh. "Kau tidak berubah sama sekali ya. Masih senang dengan pengetahuan."

"Zhangmen Shixiong  datang ke mari bukan hanya untuk bertanya, bukan?"

Bamboo Forest | HiatusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang