Cerita tentang dua sahabat bertetangga, meski selisih usia terpaut 3 tahun namun Zee selalu menjadi teman yang baik untuk Nunew, keduanya tumbuh bersama layaknya saudara. Namun benarkah tak akan ada kisah manis diantara mereka?
#ZeeNunew
#Zee
#Nunew...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . . . .
Sepi mengusik rungu, hanya ada suara derap langkah sesekali atau lembaran halaman buku dibalik. Ruang perpustakaan kala itu memang cukup senggang, itulah mengapa Zee memilih perpustakaan fakultas teknik dibanding fakultas kedokteran yang selalu padat untuk mengerjakan tugas.
Satu jam lebih ia berkutat dengan lembar-lembar tugas, atensinya menangkap sosok yang sangat ia kenal, Nunew, dan Max?
Lagi, Zee melihat mereka bersama, hampir di setiap waktu. Beberapa hari ke belakang lelaki itu memang tampak terus menempel tapi Zee tak ambil pusing karena terlalu sibuk mengerjakan tumpukan tugas. Namun saat ini fikirannya jadi sulit fokus, jemari yang tadinya lancar menari di atas keyboardlaptop kehilangan minat. Dari balik kacamata minus Zee bisa melihat jelas mereka duduk berdampingan di sebrang mejanya, tak sadar jika ada Zee disana.
Dari yang terlihat sepertinya Max membantu Nunew dalam pelajaran, tapi bukan itu masalahnya, apa apaan dengan tatapan Max pada Nunew seolah Nunew adalah sebuah lukisan keindahan.
Dengan alasan tak jelas dada Zee menghangat tapi dalam artian berbeda, rasanya tak nyaman, ia tidak suka Max menatap dan sekarang justru mengusak gemas sambil terkekeh! Lihat! raut wajah Nunew pun terlihat baik-baik saja tanpa ada risih sama sekali. "Apa aku melewatkan sesuatu lagi?" Monolog Zee, lebih seperti bergumam pada diri sendiri.
Tidak tidak! Ia tak ingin ikut campur lantas membuat Nunew merasa kurang nyaman seperti waktu itu. Nunew benar, ia sudah dewasa dan memiliki privasi lebih adalah hal wajar, jika butuh Nunew pasti akan datang padanya seperti biasa.
Menepis ego untuk menganggu Max dan Nunew, Zee segera membereskan peralatan belajarnya lalu pergi dari tempat itu, tapi baru beberapa langkah ia berhenti. "Shit!" Umpatnya sebelum berbalik arah, berjalan menuju meja mereka berdua. "Nunew, kelasmu sudah selesai?"
Atensi kedua orang yang tadinya saling melempar senyum beralih pada sosok Zee di hadapan mereka. "Iya, sudah selesai hia, ada apa?" Nunew yang merasa ditanya menjawab bingung.
"Ibu meminta kita makan siang dirumah"
"Ha??" Alis Nunew tertaut, rasanya tadi pagi bibi tak bilang apapun selesai sarapan. Biasanya wanita paruh baya itu akan mengatakan lebih awal. "Mendadak sekali, apa ada sesuatu?", Ia menoleh kearah Max sebentar lalu kembali menatap Zee.