[FOLLOW SEBELUM MEMBACA AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE]
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🖇 Warning!
Banyak kata umpatan- yah biasalah, banyak kata kasar, ada sebut beberapa merk juga- w males mikir dua kali wkwk, plus banyak typo. Mohon kalo nemu typo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
┉┈◈◉◈┈┉
Pukul 10.15, speaker sekolah yang ringsek terdengar krasak krusuk. Sepertinya akan ada pengumuman. Kelas yang semula bising karena sedang mendiskusikan bahan materi yang disampaikan Bu Nia—guru bahasa Indonesia kelas XI, terdengar mulai senyap.
“Selamat siang, pengumuman kali ini ditujukan kepada seluruh ketua ekstrakurikuler bidang olahraga. Harap menuju ke gedung olahraga untuk mendapat pengarahan mengenai turnamen olahraga berkaitan dengan SK yang telah dikirim melalui grup himpunan tadi malam. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.”
Pengumuman ditutup, Jalu melirik Jefri yang merupakan ketua ekskul futsal. Tampak seperti sefrekuensi, mereka mengangguk bersamaan dan segera bingkas dari kursinya masing-masing.
“Permisi Bu, saya dan Jefri izin menuju ke GOR," pamit Jalu.
“Oh, boleh-boleh! Tapi tugasnya nanti menyusul ya. Nanti Ibu beri waktu tambahan.”
Keduanya mengangguk kemudian melangkah keluar dari ruang kelas. Jalan Jalu kian memelan saat melewati kelas XI IPA-4, kelasnya ayang. Dia sedikit curi-curi pandang ke tempat Yara duduk.
Perempuan itu tengah tertawa saat Doyeon yang duduk di depannya menunjukkan sesuatu di buku catatannya. Yara menoleh tepat saat setelah itu, ia melambaikan tangan ke arah Jalu yang kemudian menahan senyum. Jaga image nama kerennya.
Mereka harus melalui tangga sisi kiri kemudian turun ke barisan kelas XII sebelum mencapai lahan parkir yang berada di sebelah GOR.
“Yara ikut ekskul apaan, bro?" Tanya Jefri yang dari tadi nyimak.
“Ga ikut apa apa dia. Awalnya mau nekat ikut karate, tapi sama Mama-nya ga dibolehin, tau sendiri cewek gue kek apa.” Jefri tertawa mendengar jawaban Jalu.
Ya mau ditutupi bagaimana kalau satu sekolah udah tau Yarasha itu orangnya ga ada kalem kalemnya. Bahaya kalau beneran ikut karate, nanti bisa-bisa ada orang nyenggol dia sedikit langsung dipatahin tangannya.
“Eh, Jalu, Jefri. Mau ke gedung olahraga ya? Bareng boleh ngga?” Perbincangan singkat kedua pemuda itu terhenti saat seorang siswi bergabung.
Khanaya Silvanindita, anak kelas XII yang didapuk sebagai seniornya ekskul cheerleaders. Awal masuk SMA Jalu sempet ngegebet ini orang, tapi ga jadi gara-gara kenal Yara.
Mukanya cantik cantik gemesin, imut gitu. Malahan kalau orang luar sekolah ngiranya Naya baru seumuran Yara dan kedua cowok itu. Saking baby face nya bestie.
“Boleh, Kak.” Jefri memutuskan untuk menjawab karena Jalu hanya diam.
Ketiga insan itu lantas melangkah bersamaan menuju ke GOR. Tak ada pembicaraan yang berarti selama perjalanan. Mereka sama-sama sibuk dengan isi kepala masing-masing. Saat melewati parkiran, mereka menemukan sosok Wowo dan Lucas yang merupakan ketua dan wakil ekskul basket.