22 - Antara IQ & EQ

769 106 12
                                        

#ANTARA IQ DAN EQ

Ayyara memasuki ruang kantor wali kelasnya. Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas yang sempat Arzan berikan dengan mengatasnamakan kertas itu formulir kompetisi. Nyatanya, kertas itu bukti betapa gelapnya jalur dia masuk unggulan.

Gadis yang sudah mengumpulkan sekepal keberanian itu duduk di hadapan Bu Dewi.

"Saya mau laporin kejadian kelas, Bu."

Bu Dewi menutup sebuah buku absensi, mengangkat kepala menatap Ayyara bingung.

"Kejadian?"

Ayyara mengangguk. "Ulangan kimia minggu lalu, saya lihat beberapa siswa yang menyontek."

Bu Dewi menautkan dua tangannya. Tampak memahami kalimat Ayyara dengan saksama.

"Azalea sama Kalila buka ponsel, Bu."

"Begini, kamu sudah ikut battle kan kemarin?"

Sekali lagi Ayyara mengangguk membenarkan pertanyaan Bu Dewi.

"Kamu tahu tujuan battle? Sekolah mengharapkan murid kelas unggulan semakin solidaritas, bukan menjatuhkan seperti yang kamu lakukan sekarang."

Ayyara terkejut mendengar penuturan itu keluar dari bibir wali kelasnya itu. Bagaimana bisa Bu Dewi menyimpulkan bahwa apa yang dia laporkan hanya sebuah aksi yang bertujuan menjatuhkan pihak lain?

"Saya nggak bermaksud menjatuhkan, Bu. Saya cuma ingin meluruskan apa yang salah."

"Kamu ada bukti?"

"Saya lihat pakai mata kepala saya sendiri."

"Saya nggak bisa percaya kamu. Mungkin kamu hanya iri sama teman kamu Azalea sama Kalila. Mereka pintar, maka dari itu mereka mendapatkan nilai bagus."

"Mereka dapat nilai bagus karena sogokan ke pihak guru. Saya ada bukti atas kebijakan unggulan yang pakai uang."

Gadis remaja itu mengulurkan dokumen dari Arzan. Bukti-bukti bahwa dia masuk dengan bantuan sejumlah uang tunai.

"Memangnya siapa yang percaya dokumen buatan kamu ini? Sekolah nggak pernah keluarin surat-surat ini. Oh ya, dan kamu tahu kan kalau mencemarkan nama baik instansi hanya dengan lisan bisa terjerat pasal 310 ayat (1) KUHP."

MISSION O1 FAILED

Ayyara mengepalkan tangannya yang berada di pangkuannya. Pelaporan atas curangnya Azalea dan Kalila hanya dipandang seolah dia menjatuhkan dua gadis itu. Lalu, penyerahan bukti kecurangan sistem unggulan ditolak mentah-mentah Bu Dewi. Ia hanya dianggap mencemarkan nama baik sekolah.

Ringkasnya; Bu Dewi tersangka

"Kalau mau lapor, kasih bukti yang jelas."

☆☆☆☆

Helaan napas panjang Ayyara menjadi tanda bahwa gadis itu sedang stress terhadap pikirannya. Ayyara berjalan menuju kantin berniat mengisi perut kosongnya. Setelah dari ruang Bu Dewi bukannya menemukan jalan keluar justru ia semakin merasa buntu.

Langkahnya terhenti di ambang pintu kantin tatkala matanya mendapati Apin yang makan bersama Fanny. Hatinya panas, ia sudah gerah body dan sekarang gerah hati. Segera Ayyara menghampiri meja dua remaja itu.

"Hai," sapanya dengan senyum manis.

"Kata Apin, lo kemarin ultah ya, Fan?"

Fanny mengangguk sambil tersenyum kikuk. Sementara Ayyara, berdecap heran.

"Beruntung banget ya, diperhatiin Apin yang cueknya kayak bebek mandi di kali."

Apin menatap Ayyara yang menyindirnya terang-terangan. Tiba-tiba raut wajah gadis itu terlihat terkejut. Tangannya turut serta menutup bibirnya yang terbuka.

PYTHAGORAS (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang