Bagian 15.

15 1 0
                                        

Semester dua tengah dihadapi oleh Uma dan seluruh kelas dua belas di SMA Negeri 1. Semester akhir yang akan disibukkan dengan berbagai persiapan menuju ulangan nasional. Mulai dari bertambahnya pekerjaan rumah, ulangan harian, dan juga praktik-praktik tugas yang diberikan oleh guru.

Meskipun jadwal sudah mulai padat, kegiatan RKJ masih tetap berjalan setiap minggunya. Kabar baiknya malah sering kali ada orang-orang dermawan yang menyalurkan donasinya untuk anak-anak jalanan.

Pagi di hari selasa, Uma tengah berada diperpustakaan sekolah lengkap dengan buku Matematika dan juga buku pelajaran IPS yang tebalnya cukup buat Uma menarik napas. Kalau sudah menyangkut sejarah, memang tidak pernah pendek, apalagi mengenai kisah-kisah zaman penjajahan yang terjadi bertahun-tahun yang lalu di negeri tercinta ini.

Kalau ditanya kemana Risa? Dia tengah menyalin catatan Uma di kelas, katanya nanti akan menyusul kalau sudah selesai.

Sampai sebuah ketukan pada meja membuat Uma mengalihkan fokusnya dari buku ke asal suara.

Fajar dan Ardi, dua manusia yang bersahabat sangat dekat menurut pikiran Uma, karna mereka hampir selalu terlihat bersama. Dimana ada Fajar maka disitu pun ada Ardi.

“Kita boleh duduk disini juga? Semua bangkunya penuh,” ucap Ardi, setelah melihat wajah tanya dari Uma.

Uma melihat kesekitar. Apa sebegitu fokusnya Uma membaca buku sampai tidak sadar kalau keadaan perpustakaan terasa lebih ramai dari biasanya? Tau gini mending Uma dikelas saja tadi! Walaupun memang tidak berisik, tapi kalau tempatnya ramai seperti ini dan Uma sendiri lebih baik Uma bersama Risa saja tadi.

“Boleh, ‘kan?” tanya Ahmad lagi.

“Oh, iya, silahkan, duduk aja!” Uma mempersilahkan mereka duduk.

Posisinya Meja panjang dan cukup besar ada diantara mereka, Uma yang duduk sendiri sedangkan Fajar dan Ardi yang duduk dihadapannya.

Mungkin kalau Uma masih seperti Uma yang dulu, yang menyimpan perasaan pada Fajar, lebih baik Uma pergi daripada berdekatan bahkan satu meja dengan Fajar. Tapi kali ini lain, rasanya biasa saja. Uma melihat Fajar seperti Uma melihat teman laki-laki pada umumnya.

Uma kembali fokus pada bukunya, menyalin rangkuman yang penting di buku catatan yang ia bawa. Setidaknya ia harus cepat kembali kekelas.

Dari jauh dua mata tengah menatap ketiganya dengan rasa cemburu. Tangannya mengepal, dia pun tidak tau apa penyebabnya. Yang ia tangkap hanya sosok laki-laki yang ia suka tengah menatap sahabatnya dengan senyuman!

Maksudnya ke perpustakaan pun karena memang ada yang ingin Risa tanyakan ke Uma. Prihal nama Fajar yang tertulis di buku paling belakang milik Uma. Oke, kalau memang hanya ada kata Fajar, yang bisa saja siapapun pemiliknya. Tapi ini adalah Fajar Syaifullah!

Pertanyaan-pertanyaan muncul dibenak Risa. Apa selama ini Uma menyukai Fajar? Dan begitu pun Fajar? Apalagi melihat senyuman dan tatapan Fajar untuk Uma tadi.

“Dasar pembohong!” gumam Risa, lalu berlalu begitu saja dari perpustakaan.

Disisi lain Uma yang sudah selesai mencatat rangkuman-rangkuman yang menurut Uma penting, gadis remaja itu bangkit dan mengembalikan buku yang sejak tadi ia pinjam kelemari. Tak lupa ia pamit pada Fajar dan Ardi sebelum kembali kekelas.

Sampai dikelasnya Uma tidak menemukan Risa di bangku mereka. Hanya menyisakan buku catatan miliknya yang terbuka di atas meja.

“Dew, tau Risa kemana, enggak?” tanya Uma pada temannya yang duduk didepan mereka.

Dewi menggeleng, “Enggak, Ma.”

‘Terus Risa kemana?’

Yang akhirnya membuat Uma kaget adalah buku Uma yang terbuka di lembaran paling belakang, terdapat tulisan milik Uma dengan nama Fajar disana. Pikirah Uma mulai melayang.

AZZUMA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang