-Pov Amira
"Rumit", agaknya sudah menjadi satu kata paling tepat yang melekat pada diriku. Aku anak tunggal, dan nyaris tak punya siapa-siapa. Ayah yang memiliki – dan memilih wanita lain, lalu ibu yang frustasi (atau orang-orang menyebutnya : "GILA"), membuatku harus berjuang extra keras untuk diriku sendiri.
Aku Amira Lestari, 26 tahun. Mengalami proses pendewasaan melalui jalan yang menyakitkan menjadikanku sebagai gadis yang kadang-kadang bisa setegar karang. Kenapa kadang-kadang? Kenapa aku tidak bisa menjadi tegar seterusnya? Karena biar bagaimanapun, aku adalah wanita (jika kau masih bisa mengakuinya). Terlepas dari ke-bar-bar-an-ku yang bisa membuat orang lain geleng-geleng kepala, aku tetap masih suka menangis sendirian di tengah malam ; di antara bintang-bintang yang sering kulihat keberadaannya melalui jendela yang terbuka di kamarku. Saat aku lelah dan ingin menumpahkan rasa, hanya merekalah temanku untuk bercerita. Aku tau gemintang itu tidak akan pernah membalas sapaku dan atau menjawab semua tanyaku yang sering kali tak terkendali itu. Tapi, ketahuilah, terkadang pada saat-saat tertentu, manusia hanya ingin didengarkan ; benar-benar didengarkan tanpa interupsi dan tanpa penghakiman.
Tentang karier, biasa saja. Aku hanya mengelola sebuah wedding organizer bersama sahabatku bernama Azka. Omong-omong tentangnya yang serba sempurna tanpa cela itu, aku sudah mengenalnya sejak... Sejak... Entah, aku lupa berapa tahun yang lalu, tapi yang jelas, saat itu aku sudah kelas tiga SMA, dan dia baru kelas satu.
***
-FLASHBACK
Rooftop sekolah adalah tempat menyenangkan nomor tiga bagiku, setelah kantin dan ruang musik. Sebenarnya aku juga suka perpustakaan, tapi aku hanya akan benar-benar mengunjunginya kalau sedang betul-betul malas bertemu manusia lain. Rooftop sekolah bagiku juga memiliki fungsi yang kurang lebihnya sama.
Aku menapaki selangkah demi selangkah anak tangga menuju tempat paling sepi di SMA Bhakti Pelita tempatku menuntut ilmu. Heran juga, padahal ilmu kan gak salah apa-apa, kok dia pake harus dituntut segala sih *halah. FYI, rooftop ini letaknya di lantai tiga, dan anak tangganya benar-benar banyak. Dia jauh dari mana-mana, dari toilet, dari kantin, bahkan dari kota Seoul, Korea Selatan *yaiyalah. Aku terus menapaki anak tangga hingga benar-benar sampai di atas, dan terkejut luar biasa ketika menemukan seorang anak laki-laki, lengkap dengan ransel dan sebuah buku yang tergeletak di sampingnya sedang duduk tertunduk dan memeluk lutut. Siapa dia ya? Sepertinya dia anak baru, aku belum pernah bertemu dengannya.
"Kamu siapa dan ngapain disini? Bukannya sekarang juga jam pelajaran?" tanyaku sok galak. Biasa, wibawa sebagai kakak kelas nih ceritanya, biar ditakuti sama anak baru. Sesaat anak laki-laki itu terkejut dengan mata yang membelalak lebar. Kasihan sih ngeliatnya, apa lagi dia bisa dibilang cukup cute dan ganteng. Tapi namanya aku, Amira Lestari, si cewek bar-bar yang tak mudah tertipu mentah-mentah. Jangan main percaya aja Ferguso, siapa tau, di balik tampang cute-nya, tersimpan aura kejahatan yang tidak disadari siapapun. Siapa tau, kan, ternyata dia adalah jelmaan vampire yang sedang mencari saudaranya yang hilang – tersesat di dunia manusia? Dan dia tetap terlihat muda walaupun usianya sudah lebih dari 300 tahun *ah, makin ngaco aja nih aku. Kayaknya efek baca cerita fantasi tentang vampire semalam, deh, jadi kebawa-bawa sampe sekarang.
"Kamu ngapain disini?" ulangku sekali lagi, dengan suara dan ekspresi yang jauh lebih galak dari sebelumnya.
"Ma-Ma-Maaf kak, Sa-Sa-Saya..."
"Kamu kenapa? Ngomong yang jelas!" bentakku. Aduh, bisa digetok bolak-balik sama author-nya nih aku, karena ngegalakin cowok cute kayak gini...
"Wes-weees, gak usah ngawur, gek ndang lanjut cerita sana!" tuh, kan, digalakin kan akoooh, hix. Kulihat anak laki-laki itu menatapku, kali ini dia sedikit lebih berani. Mungkin malu juga kali ya, cowok, nangis-nangis di rooftop, kepergok cewek pula. Tapi tatapannya itu lhooo... My God, sepertinya dia terluka, dan bukan secara fisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING DREAM
RomanceApakah seseorang yang terbiasa merancangkan pernikahan untuk orang lain harus sudah menikah lebih dulu? Nyatanya tidak, tuh. Azka Dirgantara, 24 tahun. Terjun dan menggeluti dunia seni adalah cita-citanya sejak kecil. Meski keluarganya bolak-balik...
