BAB 11, A BROKEN DREAM

8 1 0
                                        

            "Anjrit, gimana ya?" Azka resah. Miazka Entertainment, sore hari. Hari ini adalah acara resepsi salah satu Client-nya yang namanya Dita. Dan sekarang, lelaki itu malah sedang menanggung beban yang amat besar, dimana ia benar-benar tidak tahu-menahu bahwa ini adalah pernikahan gadis itu dengan orang lain, karena ngertinya dia, Dita ya pacarnya Arga.

"Aku juga baru tau lho mas," ucap Cakra, teman band-nya Arga.

"Ini anak apa gak bakal shock ya nanti?" tanya Azka khawatir.

"Nggak ngerti mas, bingung, mana tu anak maunya langsung datang ke lokasi, gak mau kesini dulu bareng kita..." keluh Cakra.

"Ya udah, deh, semoga gak terjadi apa-apa," kata Azka sungguh-sungguh. Cakra cuma bisa mengaminkan.

***
-Pov Arga

Hancur, lebur, luruh. Mungkin itulah gambaran perasaanku saat ini. Aksara Hotel, dan janur kuning penunjuk itu, yang atas nama Radita Fitrianisa dengan Dhimas Agung Kumbara. Rasanya benar-benar sulit dipercaya. Padahal kukira awalnya, statusku yang digantung ini hanya berakhir sementara, tapi ternyata...

"Arga!" suara Mas Azka tiba-tiba terdengar di belakangku. Aku menoleh, dan melihat sorot cemas sekaligus iba dari tatapan matanya.

"Aku gak papa mas, wes tho santai wae," kataku meyakinkan.
"Jadi... Lo udah tau?" tanyanya amat pelan, seolah menjaga agar aku tidak histeris.

"Udah mas, sesaat setelah ijab kemarin dia chat aku, nangis-nangis terus minta maaf," jawabku jujur. Aku melihat ia sebentar terkejut, lalu akhirnya menghela napas dan menepuk ringan pundakku.

"Ya udah lah, mau diapain lagi, semangat, do the best ya untuk hari ini," kata bosku tulus.

"Iya mas, wes tak mlebu, tenango aku gak bakal bunuh diri," selorohku. Ia memutar bola matanya, lalu buru-buru pergi, memastikan persiapan yang lain sudah selesai semua.

***
"Arga, itu, kue cokelat kesukaan lo ada di belakang," ucap Mbak Amira, personal assistant Mas Azka.

"Kok ada kue cokelat segala mbak? Kenapa?"

"Ya nggak papa, udah dimakan dulu, nanti keburu meleleh tuh," katanya. Meskipun heran, tapi aku menurut saja, wong udah dikasih kok, ya diabisin aja, kan rejeki, gak boleh ditolak.

***
Aku menatap wanita cantik yang memakai gaun putih itu nyaris tanpa kedip. Cantik, ya, dia cantik, tapi sayang kecantikan itu bukan milikku lagi, dan selamanya tidak akan pernah begitu. Aku melihatnya bergerak turun dari pelaminan, menghampiriku yang sudah standby di kursi keyboard seperti biasa, seperti seharusnya.

"Arga..." panggilnya. Aku menoleh, lalu melihat wajahnya yang bersimbah air mata.

"Jangan nangis, ini hari bahagiamu," kataku.

"Enggak Ga, semua gak seperti..."

"Nggak ada yang perlu dijelasin, toh nyatanya kamu udah milih dia kan, maksudku, kamu lebih memilih apa yang sudah tersedia untukmu, daripada nungguin aku dan berproses bersama." potongku. Jangan kira setelah aku mengatakannya aku baik-baik saja, lalu merasa puas. Tidak, kata-kata itu juga menyakitiku, mematahkan hatiku yang memang sudah tidak utuh lagi entah sejak kapan.

"Ada yang harus aku ceritakan Arga, dan aku punya alasan kenapa aku harus melakukan ini..."

"Apa lagi memangnya selain soal kenyamanan lebih yang ia berikan?" tanyaku acuh, di antara dada yang kian bergemuruh.

WEDDING DREAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang