BAB 17, AMIRA KENAPA?

3 0 0
                                        

            "Mbak Ami, bisa minta waktunya sebentar?"

"Jadi bagaimana menurut mbak Ami, apakah pernikahan Nindi dan Keynan ini tidak terlalu terburu-buru, kan mereka masih muda?"

"Mbak ami..."

"Mbak Ami..."

"Mbak Ami..."

***
"Siaaaal-siaaalnya kubertemu dengan cinta semuuuu..." jerit gadis itu seirama dengan lagu Mahalini yang terputar di mobil siang itu. Azka mengangkat alisnya sekilas menyaksikan tingkah sahabatnya yang lagi kayak kelihatan stress berat itu.

"Kenapa sih Mi?" tanyanya seraya tetap fokus menyetir.

"Gue heran deh, makin kesini client kita makin ada-ada aja modelnya, sekarang kita dapet selebgram yang memutuskan untuk nikah muda, terus yang diuber-uber wartawan malah kita, ini pegimane urusannya? Kita kan gak ngerti apa-apa, yang punya hidup juga mereka lho!" omelnya.

"Sabar cantik, lagian ini udah bagian dari risiko WO kita banyak yang make, ada yang bikin review dan testimoni di sosial media dan segala macem, ya akhirnya begini, kita viral, kita terkenal, dan kita kecipratan sedikit bagian gak enaknya, walaupun yang enak lebih banyak, dijalani aja." nasihat Azka.

"Tapi gue gak bisa kalau dicecar kayak gini terus, capek tau, mana mereka maksa lagi." sungutnya.

"Iya sih, mereka emang terlalu maksa kalau urusan begini, gue juga sebenernya agak gak nyaman, tapi mau gimana lagi?" tanya Azka.

"Ya udah, pokoknya gue laper, terus bete, titik," kata Amira.

"Iya-iya, sebelum balik ke kantor, kita makan dulu ya, lo pengen makan apa wes?" tanya Azka.

"Pengen ayam bakar madu yang di deket toko buku itu Ka, sumpah gue ngidam banget..." kata Amira.

"Hah? Ngidam? Perasaan gue belum ngapa-ngapain elo deh?"

"Mulaaaaiii..." Amira geregetan seraya menjewer telinga Azka.

"Buset dah, jangan kenceng-kenceng ngapa, ntar telinga gue memanjang kayak kelinci gimana?" protes Azka.

"Bodooooo!" Amira menjulurkan lidahnya. Azka memutar bola matanya malas. Seperti biasa, dalam urusan apapun, dia selalu kalah sama Amira.

***
Kantor Miazka Organizer sangat lengang siang ini. Mungkin anak-anak sedang makan siang semua. Amira duduk di kursi kebangsaannya seraya meletakkan beberapa paper bag berisi barang-barang baru yang mereka beli untuk keperluan WO seperti peralatan make-up, aksesoris rambut dan lain-lain.

"Halooo semuanyaaa," sapa Hera yang baru saja datang dengan Arga, Yesy dan Siska.

"Haii, dari mana kalian?" tanya Amira.

"Habis makan siang mbak, kalian baru sampe ta?" tanya Hera.

"Iya nih, tapi tau gak yang paling membagongkan itu apa selama kita keluar dan belanja?" tanya Amira.

"Apaan mbak?" Hera penasaran.

"Aku sama Azka mendadak jadi artist gegara diuber-uber wartawan."

"La kok bisa?" tanya Yesy.

"Gara-gara client kita ini, Nindi sama Keynan, kacau banget dah, mereka yang nikah, malah kita yang ditanya-tanyain wartawan." sungut Amira.

"Tapi wajar sih mbak, mereka kan selebgram, udah gitu usianya sama-sama baru 20 tahun, dan tiba-tiba memutuskan untuk menikah, menurut asumsi kebanyakan orang kan kalau gak ada apa-apanya gak mungkin semua itu terjadi." Arga buka suara.

WEDDING DREAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang