-Pov Hera
Namaku Herlin Arista, usiaku 23 tahun. Aku sudah bekerja di Miazka Organizer ini kurang-lebih 3 tahunan. Awalnya sebenernya aku cuma freelance disini, ngisi-ngisi waktu sambil nambah-nambah uang saku buat kuliah. Dan nggak nyangka juga sih, kerjaan sama kuliahku sejalan, aku juga kuliah di jurusan tata rias dan kecantikan, jadi, apa yang kudapat di kuliahku bisa langsung kupraktikkan, sempurna pokoknya.
Suatu hari, ketika aku sedang menjalani aktifitasku seperti biasa, owner dari WO tempat aku bekerja mendatangiku. Jujur awalnya kukira sosok boss ini orangnya sudah tua, paling enggak pertengahan empat puluhan lah. Tapi ternyata malahan masih muda, sebayaku, mungkin tua sedikit. Aku tau dari rekan-rekan kerjaku bahwa nama pemilik usaha ini Azka, Davidio Azka.
"Pagi, jadi ini sosok freelancer MUA yang kalian promosikan ke saya kemarin?" tanyanya seraya menatap ramah diriku yang malah gemetaran gak karuan. Aish, ini kenapa malah jadi kayak cerita-cerita novel yang sering kubaca sih, CEO sebuah perusahaan dengan mata indah dan wajah yang terpahat sempurna, hadeeeh.
"Hi, namamu Herlin Arista?"
"I-Iya pak, tapi dipanggil Hera aja juga gak papa kok, panggil sayang juga boleh." Tentu kalimat terakhir itu cuma kuutarakan dalam hati. Bisa dipecat kilat tanpa hormat aku kalau berani ngebucinin boss kayak gitu.
"Gimana selama nge-freelance disini? Nyaman ta?"
"Nyaman kok pak, alhamdulillah, temen-temen disini baik semua," jawabku jujur. Iya ini serius, bukannya aku mau cari muka sama si boss ganteng, tapi emang anak-anak Miazka Organizer ini baik banget, selalu gercep nolongin kalau aku butuh sesuatu.
"Katanya kamu kuliah di jurusan yang sama dengan apa yang kamu geluti saat ini?"
"Iya pak, alhamdulillah," jawabku pelan seraya menundukkan pandangan. Aduh, ngeliat keindahan ciptaan Tuhan kayak gini bikin aku pengen berucap syukur dan memaki sekaligus di waktu yang bersamaan, kok bisa seganteng itu ya ni orang?
"Terus setelah lulus, kamu mau kemana?"
"Belom ada rencana sih pak," jawabku jujur.
"Ya udah, gimana kalau sebulan setelah kamu wisuda, kamu saya angkat jadi karyawan tetap disini? Nanti kalau kamu emang punya tempat kerja baru dan pengen berkarya disana ya silakan, saya cuma mau buka jalan kamu aja," tawarnya.
"Beneran bisa kah pak?" tanyaku girang.
"Sangat bisa, Hera, apa lagi kamu memang berbakat. Jadi gimana tawaran saya?"
"Ya mau pak, alhamdulillah, mau banget saya, saya gak perlu pulkam dan dengerin nyinyiran para tetangga dan terus dapat gelar SPD..."
"La kok SPD? Kan kamu jurusannya tata rias?" Pak Azka heran.
"SPD itu sarjana pengangguran doang, pak, makanya saya ogah pulang kampung tanpa apa-apa, saya harus sukses dulu," jawabku berapi-api.
"Iya wes, kamu dua bulan lagi wisuda kan? Pokoknya setelahnya ajukan CV ke sini ya." kata Pak Azka.
"Beres pak!" seruku penuh semangat.
"Hera, aku gak pernah nikah sama ibumu, panggil aku mas aja kayak temen-temen lain, jangan pak," omel pak eh, Mas Azka padaku.
"Iya pak eh, mas, makasih sekali lagi..." jawabku. Mas Azka mengangguk lalu berlalu menuju ruangannya. Di sampingnya, ada wanita cantik yang memasang wajah ramah kepada semua karyawan di kantor ini. Kata teman-teman itu namanya Amira, sahabat sekaligus personal assistant Mas Azka.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING DREAM
RomanceApakah seseorang yang terbiasa merancangkan pernikahan untuk orang lain harus sudah menikah lebih dulu? Nyatanya tidak, tuh. Azka Dirgantara, 24 tahun. Terjun dan menggeluti dunia seni adalah cita-citanya sejak kecil. Meski keluarganya bolak-balik...
