BAB 4, TANGIS AMIRA

7 3 6
                                        

            Langkah-langkah cepat gadis itu bergema di selasar rumah sakit. Ia begitu fokus, pandangannya lurus ke depan, ia tak peduli dengan bangsal-bangsal lain yang berpenghuni di sekitarnya, ia hanya inginkan satu hal kini, bertemu mamanya segera.

"Silakan, mbak, kedatangan mbak sudah ditunggu sejak tadi," ucap salah seorang perawat yang berjaga. Amira mengangguk kilas, lalu segera masuk ke ruangan tempat ibunya dirawat.

"Jangan disuntik..." pintanya, menghentikan perawat yang sedang bersiap membuat ibunya tertidur kembali tanpa bisa melakukan apa-apa.

"Tapi mbak..."

"Please..." sorot mata Amira yang mengiba akhirnya menghentikan aksi suster itu. Ia sengaja keluar, memberikan ruang untuk Amira bersama ibunya hanya berdua.

"Bunda..." panggilnya. Tidak ada respon. Mata teduh itu menatapnya, namun hanya berupa tatapan kosong, hampa dan tak bermakna.

"Maaf ya, Ami baru bisa kesini lagi, tadi banyak kerjaan di kantor. Bunda sudah makan?" tanya Amira lembut sekali. Ibunya hanya mengangguk. Dan sesaat kemudian, matanya beralih kepada bungkusan berwarna-warni yang tadi dibawa oleh Amira.

"Bunda mau lollypop-nya?" tanya Amira. Wanita itu mengangguk cepat. Dengan cekatan Amira membukakan kertas pembungkus permen cantik kegemaran anak-anak itu, lalu memberikannya kepada sang ibu. Dengan sabar ia terus menunggui wanita tercintanya itu. Amira bercerita hampir apa saja ; ia betul-betul mengharapkan satu saja respon dari ibunya, terserah mau berupa kata atau ekspresi wajah, yang penting, Amira tau ibunya masih akan bertahan dan berjuang untuknya.

"Bunda, Ami sayaaang sekali sama bunda. Besok Ami kesini lagi, tapi bunda nggak boleh ngamuk lagi, ya," pinta gadis itu. Ia merapikan posisi berbaring sang bunda, menyisir pelan rambutnya, lalu mengecup kening itu. Setetes air mata terjatuh disana, dan ia buru-buru menghapusnya.

"Ami pamit, bunda, assalamu'alaikum..." lirih gadis itu. Langkahnya gontai meninggalkan areal rumah sakit.

"Tunggu!" Amira terkejut. Seseorang menghadang langkahnya tiba-tiba. Begitu Amira menoleh, ternyata itu Dokter Revan, psikiater yang selama ini menangani ibunya.

"Jangan memaksakan diri, mentalmu juga perlu dirawat, kamu juga perlu bahagia." ucapnya tiba-tiba. Amira melongo. Dan ia benar-benar tak sempat bertanya apapun ketika psikiater muda itu tiba-tiba menyerahkan sebatang cokelat ke telapak tangannya.

"Semoga bisa meringankan," ucapnya, kemudian berlalu pergi, meninggalkan Amira dengan sejuta opini di benaknya. Salah satunya adalah ; random banget sih ni laki?

***
Apartemen, malam hari. Keheningan seperti ini adalah teman sejati bagi seorang Amira Lestari yang benar-benar harus berjuang sendiri semenjak ibunya dalam kondisi sakit. Amira berjalan gontai, membuka kulkas, melihat kiranya ada bahan makanan apa yang bisa dieksekusi untuk menghentikan dendang dari perutnya malam ini. Dan begitu dia membuka kulkas itu, matanya melotot seketika. Bahan makanan kosong, semua habis, bahkan hal sekecil Mie Instant-pun. Ia tak sempat membeli, terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mamanya membuatnya lupa akan dirinya sendiri.

Amira mematung di depan pintu kulkas yang tak berpenghuni itu. Sesaat kemudian emosinya seperti memuncak, api amarah seolah membakar dirinya dari segala penjuru. Dan api itu membesar dan terus membesar, sehingga memicu sesak di dada gadis itu. Dan lelehan makma yang begitu panas itu, kini berubah menjadi titik-titik air yang turun dari matanya.

Amira membanting dirinya ke atas sofa ruang tengah apartemennya. Pikirannya kalut, perasaannya tak karuan. Dibiarkannya saja air mata itu mengalir dan terus mengalir, ia tak berniat untuk menghapusnya sama sekali. Tangannya sudah terlalu lelah bahkan hanya untuk mengusap wajahnya.

WEDDING DREAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang