BAB 15, SALAH PAHAM

4 1 0
                                        

            Azka masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang tidak baik-baik saja. Rasanya ia sanggup menghancurkan apa saja, biar sama lebur seperti perasaannya kini. Apa yang ia lihat tadi benar-benar tidak bisa ditolerir oleh seluruh bagian dari dalam dirinya, terutama hatinya. Mengapa bisa? Inikah jawaban dari sikap cuek dan masa bodoh Amira kepada dirinya selama ini?

***
Jalanan Jakarta, malam hari. Dan pendapat orang-orang tentang ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sepertinya mulai terasa benar ; "kalau nggak macet, ya bukan Jakarta namanya"

. Begitu jugalah kata-kata dan pendapat yang mungkin mengendap di benak lelaki 25 tahun itu. Hari ini, ia pulang lebih awal dari Miazka Organizer, karena kebetulan segala pekerjaan juga lebih cepat selesai. Tapi, keputusannya untuk pulang lebih awal seperti ini kayaknya salah besar deh, lihat aja tuh, gila-gilaan macetnya.

"Ya ampun, berapa sih penduduk Jakarta yang punya kendaraan roda empat? Sampe segininya bener deh macetnya," keluh Azka. Daripada dia terus-terusan merasa stress akibat kemacetan tanpa jeda ini, sebaiknya ia berputar ke arah yang berlawanan, mungkin mau cari cafe buat refreshing sebentar sampai kemacetan jalanan telah benar-benar reda.

***
"Mas Revan sering main ke sini juga, ya?" tanya seorang wanita kepada lawan bicaranya. Azka menoleh karena memang meja sepasang insan itu tak jauh dari mejanya. Dan jantungnya terhenti seketika ketika melihat siapa sosok perempuan yang baru saja bertanya dengan raut ceria itu, dia, Amira.

"Ja-Jadi..." Azka mengepalkan tangannya, menekan jauh-jauh perasaannya. Dan sepotong benda nan lunak itu telah meluncur jatuh, jatuh begitu saja tanpa pegangan, dan disana, hanya menyisakan sebuah ruang kosong yang entah. Disana, di ruang kosong itu, sepertinya pernah ada sebuah benda, yang bernama hati.

***
[Hanya aku yang harus tau.] sebuah caption menjadi penyerta video cover yang dibawakan oleh Azka. Kali ini, ia membawakan lagu dari Kahitna yang berjudul Insomnia.

"Tak tidur semalam

Hatiku sakit

Bagai bulan temaram

Tertunduk sunyi..." suara lembut Azka menyanyikan bait pertama lagu yang cukup galau tersebut.

"Kau ada disana

Di pelukannya

Dan kau genggam tangannya

Inginku tak melihatnya

Yang kau lihat senyumku

Tak kau sadari pedihku

Namun hancurnya hatiku kau tak perlu tau

Kuharap engkau bahagia

Walau hatiku terluka

Akan kusimpan cerita

Kau tak perlu tau

Hanya aku yang harus tau" suara Azka mengalun syahdu pada keheningan malam itu ; malam yang hampa, kelam tanpa bintang, semua terasa entah, seperti perasaannya kini, dan lalu harapannya yang seperti telah musnah. Lalu, dia harus bagaimana? Apa yang harus dia lakukan? Besok adalah waktu kerja, dan sudah pasti dia akan bertemu dengan Amira, mana bisa ia tidak menunjukkan rasa kecewanya kepada gadis itu, padahal hatinya masih terasa benar-benar sakit? Menghindar pun rasanya hampir tak mungkin. Oh Allah, buntu sekali rasanya.

***
"Selamat pa..." Amira tertegun di tempat ketika mendapati tatapan Azka yang... Terluka. Iya, terluka. ia tak pernah menatap tajam atau tak bersahabat pada gadis itu, sekalinya memberi sorot mata yang lain, pandangan itu malah pandangan terluka. Amira jelas terheran-heran, ada apa dengan bosnya? Apa Azka sedang dalam masalah? tapi dengan siapa?

WEDDING DREAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang