BAB 21, AZKA KETEMU MANTAN

3 0 0
                                        

                "Selamat siang, selamat datang di Miazka Organizer..." Amira menyapa ramah seorang Perempuan cantik bermata bundar yang datang ke tempatnya bekerja.

"Oh, iya selamat siang mbak," Perempuan itu menyambut ramah sapaan Amira tadi.

"Silakan duduk mbak," kata Amira lagi. Perempuan itu mengangguk, lalu duduk di kursi yang telah disediakan.

"Jadi, apa ada yang bisa saya bantu hari ini mbak?" tanya Amira lagi.

"Kemarin kan Cuma calon suami saya saja ya yang kesini untuk mencocokkan dekorasi, saya Cuma mau menambahkan sedikit detail, bisa kah?"

"Oh, sebentar saya cek ke anak-anak dulu ya, soalnya sepertinya kita belum pernah ketemu, mungkin ada anak-anak disini yang waktu itu menangani pernikahannya mbak," kata Amira ramah.

"Baik mbak," Perempuan cantik itu kini asyik melihat-lihat contoh desain undangan pernikahan yang terpajang disitu. Amira menghilang ke balik sebuah pintu, ia menuju ruangan anak-anak yang sedang sibuk menghadap komputer mereka.

"Guys, di antara kalian ada yang dalam minggu-minggu ini nanganin client tanpa gue ataupun Mas Azka nggak?" tanyanya.

"Ada beberapa sih mbak, tapi yang spesifik yang mana nih, ntar aku coba bantu jelasin," jawab Yesy.

"Aduh, bentar ya, gue lupa lagi nanya Namanya, orangnya ada di ruang depan sih."

"Dimana?" Yesy berdiri dari kursinya, lalu mengintip ke ruang yang dimaksud Amira.

"Oh, ini Mbak Agnes namanya, calon suaminya Jevan, minggu lalu yang ke sini si Mas Jevan-nya doang... Kenapa gitu mbak?" tanya Yesy.

"Katanya dia mau nambahin detail untuk dekorasinya atau apa gitu, tolong di-handle bentar ya, gue mau ke airport bentar, mau jemput Mas Azka yang baru pulang dari Lombok. Nggak papa kan ya? Kan lo sama anak-anak yang ngerti..."

"Oke beres mbak, emang pesawatnya Mas Azka nyampe jam berapa?" tanya Yesy.

"Sekitar jam satuan, ini jam sebelas kan, ya udah gue cabut dulu ya, gue pamitin si Mbak Agnes biar dia langsung lo handle..."

"Oke aman, mbak, serahkan saja pada kami," Yesy ketawa.

"Beres, gue tau gue bisa percaya sama lo dan anak-anak yang lain. Kalau gitu, gue cabut ya..."

"Iya mbak, hati-hati..." pesan Yesy. Amira mengangguk, melambaikan tangannya yang memegang kunci mobil infentaris Miazka, lalu segera keluar dari lingkungan kantor, menuju Bandara Soekarno-Hatta.

***
Amira memeluk boss, adik sekaligus bestie-nya dengan perasaan yang lega, senang, sekaligus... Kangen, hehehe. Sumpah aku gak bohong, selama Azka nggak ada di kantor tuh Amira kayak nggak semangat lho kerjanya, kecarian terus.

"Lo kangen apa gimana sih? Kenceng amat meluknya," tanya Azka.

"Yah... Gitu deh, Seminggu lho lo perginya, betah amat di luar Jakarta," rajuknya.

"Lho, tumben lo pake acara kangen sama gue segala, jadi tersanjung nih gue..."

"Heh, itu judul sinetron jaman dulu tau... Emang lo gak seneng kalau gue kangenin?" tanya Amira.

"Ya seneng lah, berarti masih ada yang butuh gue kan, dan gue masih punya alasan untuk balik..." Azka tersenyum, iseng memain-mainkan rambut Amira yang terurai.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 20, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

WEDDING DREAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang