"Yaiiii, jam setengah tujuh? Gilaaa!" Azka gedombrangan bangun dari tempat tidurnya. Dia merasa matanya mendadak gelap sebelah, dan baru sadar kalau ponselnya sejak semalam tak berpindah dari wajahnya. Dan sepertinya ponsel itu dalam keadaan habis baterai, terlihat dari tidak adanya tanda-tanda kehidupan pada benda canggih itu. Untung sekarang sudah zamannya fast charging, jadi cowok 25 tahun itu memutuskan untuk meninggalkan ponselnya di kamar (sambil diisi dayanya), sementara dia sendiri bersiap-siap untuk hari ini.
***
Azka mengamati nasi goreng dan telur mata sapi di hadapannya dengan perasaan bingung, sementara itu, ponselnya ternyata mati total dan tidak bisa menyala, entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas, sekarang Azka sedang dalam keadaan yang luar biasa panik.
"Aduh ini HP, kenapa sih pake acara ngadat gini? Perasaan baru beli 3 bulan lalu deh, hadeeeh ada-ada aja..."
"Mas, sarapan sek mas, mengko ndak tambah telat," ucap Mbok Siti – Art-nya, memperingatkan.
"Disiapkan di kotak makan aja ya mbok, saya mau berangkat sekarang. Kacau nih, HP saya rusak kayaknya..." kata Azka.
"Nggak rusak itu mas," kata Lasmi, Art-nya yang satunya.
"Maksudnya gimana?" tanya Azka nggak ngerti.
"Anu, tadi saya lewat kamarnya mas sambil nyapu, kan pintunya mas kebuka tuh ya. Mas emang nyolokin charger-nya ke HP, tapi terus mas tinggal, kabel charger-nya nggak mas colokin ke stop kontak, jadi mungkin itu penyebab kenapa HP-nya masih gak bisa nyala sampe sekarang..." GUBRAGG! Azka seperti ditarik lalu dihempaskan sejauh-jauhnya ke dasar jurang. Setelah ia terhempaskan dengan kenyataan yang ada, ia memukul kepalanya, dan berteriak sekuat tenaga. JIANGKRIKKK, MESTI WAE GAK ISOOOOO!
***
Azka gelagapan dipeluk dan dipukuli sedemikian rupa oleh Amira, begitu ia baru membuka pintu ruangannya. Untung kantor Miazka masih sepi, jadi mereka bebas berpelukan kayak Teletubbies begitu.
"Lo apa-apaan sih Mi? Malah KDRT..." protes Azka seraya melemparkan tasnya begitu saja ke atas sofa.
"Gue khawatir, giling, HP lo gak aktif sama sekali soalnya..." kata Amira putus asa seraya membanting dirinya ke sofa yang tersedia di ruangan Azka.
"Idih, lo ngekhawatirin gue? Lo sayang sama gue?" ledek Azka.
"Ah elah asinan sayur, serius gueee, kalau sampai lo kenapa-napa bisa ambyar nih semua schedule..." omel Amira.
"Yeee, kirain dikhawatirin karena takut kehilangan." kata Azka sedih. Sekarang ia sedang men-charge ulang ponselnya, tentu dengan cara yang benar dengan menyambungkan charger-nya ke stop kontak terlebih dahulu.
"Aduh, drama dah ni orang..." Amira mencebikkan bibirnya.
"Nggak drama kok Mi, emang lo beneran bakal sesantai itu kalau gue beneran ilang dari lo?" tanya Azka. Seketika wajah Amira memucat, tapi kemudian gadis itu dapat menguasai dirinya kembali, dan merubah ekspresinya menjadi mode datar.
"Lo jangan aneh-aneh, monyong. BTW udah sarapan belum?" tanyanya.
"Ini gue bawa, soalnya tadi gue panik, jadi nggak sarapan di rumah deh..."
"Ck, kebiasaan. ya udah buruan habisin, nanti keburu banyak client malah repot," omel Amira. Azka mengangguk patuh. Entah kenapa, dia selalu suka kalau gadis ini sedang berada dalam mode cerewet dan perhatian.
***
"Kamu bisa gak sih setiap kali kita berantem gak pake mukul? Gak pake jambak aku? Bisa gak?" cicit seorang perempuan di depan meja resepsionis. Sementara di sebelahnya, seorang laki-laki sedang menatapnya penuh amarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING DREAM
RomanceApakah seseorang yang terbiasa merancangkan pernikahan untuk orang lain harus sudah menikah lebih dulu? Nyatanya tidak, tuh. Azka Dirgantara, 24 tahun. Terjun dan menggeluti dunia seni adalah cita-citanya sejak kecil. Meski keluarganya bolak-balik...
