BAB 3, CLIENT TAK TERDUGA

7 3 5
                                        

-Pov Author

Kembali ke masa kini, dan hari-hari yang berlalu lagi. Dan Amira tetaplah Amira ; tetap bar-bar seperti biasanya.

"Pagi boss!" sapanya pada Azka yang baru saja tiba. Lelaki itu tampak tak fokus, kantuk masih berkuasa penuh atas dirinya.

Brukk! Suara jidat Azka yang menghantam pintu ruangan sukses menghentikan tangan lincah Amira yang sedang mengaduk kopi. Dengan pelan gadis itu meletakkan pekerjaannya di atas meja. Ia berlari sebentar entah kemana, lalu kembali lagi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Azka.

"Aduh, dingin tau Mi, ngapain sih lo?" omel Azka.

"Ya elo sih, makanya kalau jalan tuh dibuka matanya, sejak kapan lo punya keahlian baru jalan sambil merem gitu?" omel Amira balik.

"Gue ngantuk, Ami, gue butuh tidur," ucap Azka lemah.

"Eh, lo kenapa, Ka?" tanya Amira khawatir.

"Insomnia kambuh, semalaman gak tidur, sibuk overthinking." jawab Azka. Tanpa disuruh dan tanpa diminta, Amira memeluk sahabatnya, mencoba merasakan emosinya, mencoba merasakan apa yang ia pikirkan. Azka memang begini dari dulu, dia selalu memilih terjaga sampai pagi, ketimbang tidur dengan pikiran tak karuan yang malah memicu mimpi buruk yang juga menambah buruk kondisinya.

"Tidurlah dulu, nanti kalau ada sesuatu yang urgent baru gue bangunin..." kata Amira lembut. Ia merasakan Azka mengangguk di pelukannya. Dan begitu Amira mau beranjak, Azka malah menarik lagi tangan gadis itu.

"Kenapa?"

"Temenin, sebentar aja..." Amira tersenyum. Dihelanya lembut tangan Azka menuju sofa panjang di ruangannya. Setelah cowok itu berbaring, Amira segera duduk di bawah ; di karpet, persis di sebelah sofa panjang itu.

"Tidurlah, gue mau beresin kerjaan di depan dulu, terus baru kesini lagi."

"Nggak mau, kalau gue belom tidur, elo nggak boleh pergi," rajuk Azka. Amira memutar bola matanya. Kumat deh ini anak, rasa-rasanya dia lupa kapan terakhir Azka bersikap semanja ini kepadanya.

"Iya, oke, gue temenin. Tidur ya..." kata Amira. Dan entah mendapat dorongan dari mana, secara refleks gadis itu mengusap pelan rambut Azka, dan cowok itu tersenyum manis sekali sebelum benar-benar menutup matanya dan jatuh tertidur.

***
"Halo, Hera... Kenapa?" tanya Amira dari sambungan telepon yang ada di ruangan Azka.

"Anu, Mbak Ami, ada client yang mau ketemu, di bawah," jawab gadis bernama Hera itu pelan.

"Oke, saya bangunin Mas Azka dulu, bilang sepuluh menit lagi kita ke sana," kata Amira.

"Baik mbak, terima kasih," sahut gadis itu sopan. Amira hanya mengiyakan dan langsung memutus sambungan telepon. Setelah itu, ia menjawil pundak Azka untuk membangunkannya.

"Ka, Azka..."

"Mmm..." sahut cowok itu malas.

"Bangun, ini penting heh, di bawah ada calon client yang mau ketemu..." desak Amira.

"Oke, tunggu. Lo mau turun duluan apa bareng sama gue?" tanya Azka seraya langsung duduk.

"Kita bareng aja, gue udah ngomong sama si client untuk nunggu sebentar kok," jawab Amira seraya mematikan laptopnya.

"Ya udah oke, bentar," ucap Azka seraya tergesa pergi ke kamar mandi pribadi yang menjadi satu dengan ruangan itu. Amira cuma mengangguk.

***
"Jadi, Mbak Kian mau pernikahan yang seperti apa?" tanya Azka kepada si client. Amira cuma mendengar-dengarkan, karena yang mengerti tentang keseluruhan rancangan rencana pernikahan itu cuma Azka, sementara Amira seringnya menjadi eksekutor dan team pelaksana.

WEDDING DREAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang