"Kau tau, rasa sakit yang paling indah itu adalah ketika kita melepaskan yang kita cinta untuk mengejar bahagianya" (Zelda Maharani)
Barbara Hotel, malam hari. Semua sudah tertata dengan semestinya, dan rangkaian resepsi pernikahan itu juga berjalan seperti seharusnya, dari tradisi mapak/jemput pengantin, sampai ke hiburan resepsi, semua berjalan dengan baik. Hanya saja, masih banyak pertanyaan yang mengganjal di benak Azka, terutama soal Kiandra. Kiandra yang mempersiapkan semua ini, padahal ini bukan pernikahannya.
"Jelas bukan, aku sudah punya anak satu, kau lihat, kan?" tanya wanita itu, lengkap dengan senyum khasnya.
"Sebenernya ini orang punya cerita apa sih? Kok gue yang jadi pusing sendiri ya?" keluh Azka sendirian, seraya mengamati jalannya rangkaian pesta.
"Halo, ini Azka, kan?" pertanyaan dan panggilan seseorang menggugah cowok itu dari lamunannya. Dan begitu ia menoleh, tampaklah pemandangan memukau – Kiandra, client-nya yang memakai sebuah gaun yang tak kalah elegant dengan gaun mempelai wanita di atas singgasana pelaminan sana.
"Mb... Mbak Kian?"
"Nah, benar kan ini Azka, kemana Amira?" tanyanya riang.
"Hadir, mbak... Lho, kok..." Amira bingung. Ia menatap Amira dan wanita di pelaminan berganti-ganti. Kenapa gaun mereka sama persis? Sebenarnya apa yang telah terjadi?
"Kalian pasti bingung sejak awal kedatanganku ke kantor kalian, hingga tiba di hari pelaksanaan acara pernikahan ini, kan?" Mereka sudah akan menjawab, tapi Kiandra mengangkat tangannya, meminta agar penjelasannya tidak diinterupsi dulu.
"Aku akan menjelaskannya tapi tidak disini, ayo kita ke taman buatan di belakang," ajak Kiandra. Meski kebingungan, tapi Azka dan Amira sama-sama menurut. Mereka harus bisa menyelesaikan teka-teki rumit yang diberikan oleh wanita itu sekarang juga.
***
Azka dan Amira sama-sama terperangah, membuka dan menutup mulut mereka tanpa mereka sadari. Sementara Kiandra duduk dengan tenang, meminum orange juice yang tersedia seraya tetap menceritakan apa yang sudah ia simpan dan justru mengejutkan sepasang manusia yang kini tengah bertindak sebagai WO untuk acara hari ini.
"Mbak Kian..." lirih Amira. Dia heran sekali setelah mendengarkan cerita utuh wanita ini – yang mengalir saja, pelan tanpa tergesa. Ia hanya sebagaimana seseorang yang sedang bercerita tentang apa yang terjadi hari ini selama ia berada di luar rumah, tentang cuaca yang berubah tiba-tiba, dan atau tentang dua ekor kucing liar yang sedang ribut berebut makanan dari tempat sampah.
"Jadi, aku tahu dia telah berkhianat padaku setelah novelku yang keempat dipinang sebuah rumah produksi untuk difilmkan. Awalnya kukira ini akan menjadi kejutan untuk Mas Hans, tapi ternyata akulah yang justru dikejutkan dengan keberadaan wanita lain di rumahku sendiri, rumah yang kubeli dari hasil jerih payahku sebagai penyanyi dan penulis freelance dari zaman aku kuliah. Mbok Sanah ART-ku mendatangiku sambil menangis dan memelukku, mengatakan semua hal yang ia lihat tentang Mas Hans dan perempuan yang ternyata bernama Luna itu ; sebuah pernyataan jujur dan apa adanya yang hampir meruntuhkan duniaku. Tapi ada satu hal yang membuat akhirnya aku memilih membatu dan mengukuhkan diri untuk menjadi setegar karang, ialah Rahma Ratu Syayida, putriku yang berusia tiga setengah tahun..."
"Ap-Apakah suami mbak berselingkuh atas dorongan mertuanya mbak?" tanya Amira hati-hati.
"Hahaha, tidak begitu. alur kisah ini tidak seperti kisah yang mungkin banyak kau temukan dan kau baca di platform," Kiandra tertawa, seolah kisah hidupnya adalah sebuah kekonyolan yang wajib ditertawakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING DREAM
RomanceApakah seseorang yang terbiasa merancangkan pernikahan untuk orang lain harus sudah menikah lebih dulu? Nyatanya tidak, tuh. Azka Dirgantara, 24 tahun. Terjun dan menggeluti dunia seni adalah cita-citanya sejak kecil. Meski keluarganya bolak-balik...
