BAB 18, ARTI SEBUAH PELUKAN

3 1 0
                                        

            Azka melangkah pelan di sepanjang koridor sebuah apartemen. Ia sudah naik ke lantai 8, tempat dimana unit apartemen Amira berada. Selama tujuh hari ini setelah kepergian ibunya Amira, ia selalu menemani gadis itu, ia tidak pernah membiarkan Amira benar-benar sendirian. Ia juga selalu membawa duplikat kunci kamar gadis itu, karena ia tahu, Amira tidak akan pernah mau membukakan pintu untuknya.

"Mi..."

"Lo lagi, ka? Udahlah, gak usah kesini terus, nanti lo capek." Amira berujar pelan seraya berbaring membelakangi lelaki itu.

"Nggak akan Mi, gue nggak akan pernah capek kalau buat elo. Makan yuk, gue bawa sop kambing lho, yang di depan kantor itu, udah lama kan kita gak makan itu?" bujuknya.

"Nanti aja deh, gue belum laper," tolaknya. Tapi beberapa saat kemudian, Azka mendengar suara perut Amira, dan ia tertawa, lalu memencet hidung gadis itu.

"Gitu kok mau bohong sama gue sih? Dah yuk ah, gue juga laper lho, emang elo tega bikin gue kelaperan?" tanya Azka sambil memasang tampang imutnya. Amira menghela napas, memutuskan untuk mengalah. Baiklah, dia selalu menang dengan ekspresi bayinya itu.

"Silakan, princess," katanya. Amira tersenyum, lalu duduk di seberang Azka. Laki-laki itu benar-benar totalitas mencurahkan semua waktu untuknya. Kenapa sih dia harus semanis itu, padahal kan mereka cuma sepasang sahabat, tidak lebih.

"Tambah lagi?" Azka menawarkan. Amira mengangguk, ternyata ia benar-benar lapar.

"Tuh kan, makanya jangan nolak ajakan makan siang dari gue," Azka tertawa. Amira juga ikut tersenyum, meskipun tetap tidak bersuara.

"Mi, ngomong dong, gue sedih nih kehilangan suara lo udah seminggu, biasanya lo rajin neriakin dan marahin gue soal apa aja." katanya. Amira hanya menunduk, tak berani memandang sahabatnya.

"Mi..." Azka memegang dagunya.

"Lihat gue dong, gue lagi ngajak ngobrol kan..." tapi Amira tetap bergeming, ia menggelengkan kepalanya.

"Ami..." melihat tatapan lembut Azka yang terus intens kepadanya membuat gadis itu mau tak mau memindahkan tatapannya pada lelaki itu, dan air matanya menggenang.

"Mau nangis?" tanyanya. Amira menggeleng, berusaha mengusap pelan air matanya.

"Nangis aja, lo belum nangis selama seminggu ini, nggak papa, pundak gue selalu siap buat elo." katanya. Amira mulai menutup wajahnya, air matanya mengalir, ia menangis tanpa suara. Azka bergerak cepat memeluk gadis itu, memeluk saja, membiarkannya menyelesaikan tangis memilukan itu disana.

"Gue udah gak punya siapa-siapa lagi, Ka, hancur sudah semua mimpi gue, hancur sudah semua harapan gue, hidup gue pun sepertinya udah gak ada artinya lagi..." isaknya. Azka mengusap pundak wanita itu. Ia tidak ingin mendebat semua argumennya, karena ini bukan waktu yang tepat. Saat ini ia hanya perlu didengarkan dan ditenangkan. Setelahnya diyakinkan, karena Amira memang tidak sepenuhnya sendirian, ada Azka yang selalu siap kapanpun Amira memintanya. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga baru kehilangan, ia masih harus mengutuki keadaan sebanyak-banyaknya sampai benar-benar terbiasa dengan kekosongan itu, kekosongan yang menyakitkan, tentu saja.

"Udah tenang?" tanya Azka. Tidak ada jawaban. Hanya deru napas gadis itu terdengar teratur, kepalanya menempel erat di dada bidang lelaki itu.

"Yah, malah tidur nih bocah. Dikira gue bantal sofa kali ya." rutuk Azka. Dengan gerakan pelan dan hati-hati ia mengangkat gadis itu, memindahkan ke atas tempat tidurnya.

WEDDING DREAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang