Nayla membanting ponselnya ke sembarang arah, dan untungnya masih terjatuh di atas kasur. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke bantal, ia kembali menangis.
Seharian ini Nayla tidak mengabari Juna sama sekali, terlebih lagi ia meninggalkan sekolah lebih dulu.
Nayla tidak pulang bersama Juna. Entah Juna merasa panik atau tidak, namun dari tadi sore cowok itu terus mengabarinya dengan penuh rasa khawatir.
Jujur, Nayla benar-benar sangat kecewa padanya. Dia lelah, dan galau setengah mati. Kenapa dirinya harus sebodoh ini mencintai cowok yang jelas-jelas memang tak pernah memiliki perasaan apa pun kepada Nayla.
Nayla memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Tak membiarkan siapa pun mengganggu ketenangannya di sana, termasuk dengan Sisil.
Dari tadi sore Sisil terus menanyakan Juna kepadanya, tapi Nayla tak mengindahkan pertanyaan Sisil mengenai kehadiran Juna yang tidak hadir di rumah besarnya.
Dia sudah terlalu lelah menyembunyikan rasa sakitnya menghadapi Juna.
Untuk apa ia meneruskan hubungan keduanya sementara hati Juna masih disinggahi oleh gadis lain?
Untuk apa Nayla menjadi pacar Juna jika namanya saja tak pernah ada di hati Juna?
Nayla pun berteriak lagi di atas bantal agar suara teriakannya teredam. Tidak Juna, tidak Farrel. Mereka sama-sama mengacaukan pikiran Nayla.
Entah apa yang mereka inginkan dari gadis itu, tetapi keduanya membuat Nayla menjadi kacau sendiri.
Memilih untuk tidak lagi memikirkan Juna, ia mengusap wajahnya kasar. Kemudian keluar dari kamar. Kasihan Mamanya, dia pasti khawatir melihat Nayla mengurung diri di kamar.
“Ma..”
“Mama...”
“Mama.. Mama di mana?”
Nayla melihat tak ada siapa-siapa di sekitar dalam rumahnya. Biasanya Kamila—Mama Nayla pasti sedang menonton tv di ruang tengah bersama Sisil, sambil menunggu gadis kecil itu dijemput oleh Tante Vina.
Nayla menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ia kebingungan, dirinya sama sekali tak menemukan Kamila. Nayla membuang pandangan ke arah luar rumah.
“Mungkin aja Mama di luar?”
“Gue ke luar aja kali, ya.”
Nayla berjalan ke pintu utama. Dengan kedua mata yang mulai mengantuk, Nayla mencari keberadaan Mamanya.
“Mama. Kok, di lua...” Suara Nayla tertahan.
Dia berjengit ketika menatap sosok cowok yang sedang mengobrol di teras depan bersama Kamila.
Kedua mata yang awalnya mengantuk, kini terbuka selebar mungkin. Menatap tidak percaya apa yang ada di depan matanya.
Ya, dia. Artajuna Pradipto.
Malam-malam begini, ia bertamu ke rumah Nayla dan bertemu dengan Kamila untuk pertama kalinya.
Nayla mendongak ke atas, menatap Juna dengan tatapan yang membingungkan. Juna terlihat berbinar ketika mendapati dirinya yang baru saja keluar rumah.
“LO! LO KENAPA KE SINI?”
Mata Nayla masih terbelalak tidak menyangka. Lantas, ada kepentingan apa Juna mendatangi rumah Nayla di hari yang hampir larut malam begini?
Kamila sempat terbingung-bingung dengan kedatangan putrinya. “Jangan keras-keras kalau ngomong. Sekarang kamu masuk, ambil jaket,” suruh Kamila pada Nayla.
“Buat apa, Ma? Mama udah kenal sama dia?” Nayla justru dibuat lebih bingung saat ini.
“Juna pacar kamu yang sering kamu ceritain ke Mama itu, kan? Ya udah sana masuk ke dalam terus pakek jaketnya.” Kamila bersuara lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARTAJUNAY (SDH TERBIT)
Teen FictionArtajuna Pradipto, pentolan sekolah dengan sikapnya yang menyebalkan. Dia ditakuti semua orang karena sikap kerasnya dan sering semena-mena. Namun sebenarnya hidupnya penuh dengan luka. Termasuk tentang cinta. Dia sulit melupakan masa lalunya yait...
