21 - Orang Lama

626 68 30
                                        

Sudah beberapa hari ini, Nayla bingung dengan tingkah Juna yang tiba-tiba baik kepadanya. Juna seolah-seolah berusaha menjaga Nayla dalam situasi apa pun. Selain itu, Juna berusaha selalu ada untuk Nayla.

Namun ada sesuatu yang mengelilingi kepalanya. Semalam saat Nayla dan Mamanya sudah tidur, rumahnya diterror oleh segerombolan anak motor yang berisik dah cukup membuat mereka takut. Hingga paginya rumahnya kotor dilempari tanah kotor dan sampah, ia tidak terlalu memedulikan hal itu. Akan tetapi, gerbang rumahnya dipenuhi oleh sebuah karton besar yang bertuliskan bahwa pacarnya seorang pembunuh.

Dia berusaha untuk tidak memusingkannya, karena ia sangat mempercayai Juna adalah laki-laki yang baik. Tapi, tentu saja sesekali hal itu kembali dipikirkannya ia melamun sambil berjalan.

"Nayla!" Suara berat itu membuat Nayla yang sedang membawa buku teman-temannya menoleh ke belakang. Nayla mendapati Farrel menghampirinya.

"Farrel?" Nayla cepat-cepat pergi dari lorong ketika mendapati Farrel berlari ke arahnya.

Akan tetapi, di pertengahan lorong, buku-buku yang dibawanya terjatuh karena ia tertabrak oleh seorang siswa yang sedang berjalan santai dari lawan arah tanpa sengaja.

"Kenapa pakek jatuh segala, sih? Nanti Juna liat malah bikin ribut lagi," panik Nayla seraya membereskan buku-buku tersebut di lantai.

"Kok, cuma segini? Perasaan tadi ada 30 buku. Sisanya ke mana?" Gadis itu tidak menemukan jumlah buku yang dibawanya tadi, bukunya kurang, hilang entah ke mana.

"Nih." Kedua mata Nayla memandang sosok di depannya dari bawah sampai ke atas.

"Lo nggak perlu ngejauh dari gue. Biar gue yang pergi dari lo," ucap cowok itu sambil membawa buku-buku yang dibawa Nayla tadi. Farrel ternyata membantu membereskan beberapa buku yang berserakan.

Farrel mendekatkan langkah ke Nayla. Memberikan buku-buku tersebut ke tumpukan buku di kedua tangan Nayla.

"Lo santai aja sama gue. Kalau lo ngerasa keganggu, nggak perlu ngejauh. Gue juga sadar diri di sini, gue bisa pergi sendiri tanpa lo harus ngasih kode."

Sejenak Nayla yang tadi menunduk cemas, langsung tersentak. Dia mengangkat kepalanya, menahan kepergian Farrel.

"Nggak, kok, nggak gitu. Gue nggak bermaksud mau ngejauh dari lo. Lo jangan ada prasangka kayak gitu sama gue." Nayla meringis pelan. Dia membuat Farrel kembali menghadap di depannya.

"Lo serius?" Farrel mengernyit.

Nayla menganggukkan kepalanya.

"Iya. Gue cuma takut kalau nanti lo sama Juna ribut lagi gara-gara gue. Padahal gue nggak tau apa-apa, tapi kenapa setiap kali kalian ribut selalu aja ada nama gue di permasalahan kalian. Gue nggak mau kalian berantem kayak waktu itu lagi," lirih Nayla memelan.

Farrel tertawa pelan mendengarnya. "Lo tenang aja. Gue juga nggak tau kenapa Juna segitu bencinya sama gue. Tapi satu sekolah juga tau kalau lo pacarnya dia, dan gue sendiri udah punya pacar juga. Di sini gue cuma mau minta maaf atas kejadian waktu gue nggak sengaja ngelempar bola ke arah lo. Waktu itu gue belum minta maaf sama lo secara resmi. Ya udah sekarang gue minta maaf, ya, Nay." Cowok bertubuh tinggi itu mengulurkan tangannya ke Nayla.

Nayla melihat Farrel dengan tatapan berbeda. Dia belum membalas uluran tangan Farrel untuk meminta maaf padanya. Ia merasa bingung dengan Juna, kenapa pacarnya itu terlihat begitu membenci Farrel?

Padahal yang Nayla perhatikan, Farrel itu cowok baik-baik dan cukup berprestasi di sekolah. Sebenarnya apa salah Farrel sehingga Juna sangat membencinya?

"Nay, gue minta maaf," ulang Farrel lembut sambil tersenyum simpul.

Gadis itu mengembangkan senyum kecil. Meskipun ia kesusahan untuk menerima uluran tangan Farrel karena tumpukan buku di tangannya, Nayla harus memaafkan kesalahan Farrel dan bisa berteman baik dengan cowok tersbeut.

ARTAJUNAY  (SDH TERBIT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang