(4) Tuan jangkar

452 14 3
                                        

Sheerin terduduk manis di balkon kamarnya. Matanya terus tertuju pada anak-anak kecil di bawah sana yang sedang bermain layaknya anak kecil yang tidak punya beban. Sheerin menghela nafas. Sebenarnya ia iri kepada anak kecil di sana. Mereka tertawa senang tanpa harus melewati masalah yang akan membuat mereka seresah Sheerin.

Sekarang rumah Sheerin bagai lemari pendingin. Karena semua orang di dalamnya masih sedingin kemarin, terus diam dan tidak peduli satu sama lain. Bahkan Kevin yang biasa di kenal sebagai kakak yang cerewet bagi Sheerin, kini hanya terus bersembunyi di balik pintu kamarnya itu.

Sheerin masih tidak menyangka bahwa masalah yang sebenarnya dia tidak tahu bisa berdampak besar bagi keluarganya. Dia ingin sekali untuk kali ini ikut dalam masalah yang membuat mereka diam satu sama lain, tetapi satu pun orang tidak ada yang berucap sedikit pun dengan Sheerin.

Drrttt..ddrrtt

Handphone Sheerin bergetar. Tertera sebuah nomer asing yang sedang menanti jawaban Sheerin. Tetapi Sheerin hanya memandangi panggilan tersebut sampai panggilan itu terhenti. Namun beberapa detik kemudian nomer itu kembali tertera di layar handphone Sheerin. Dan mau tidak mau Sheerin harus mengangkatnya.

"Halo."

"Halo."

Dan setelah itu Sheerin maupun orang di seberang telfon terdiam beberapa saat.

"Lo ga mau nanya gue siapa?"

"Hah?! L-lo tau dari siapa nomer gue?!"

Orang di seberang telfon terkekeh mendengar pertanyaan heboh Sheerin.

"Gue baru ngomong gitu aja lo udah kenal siapa gue. Ck! Makin lopelope nih sama kamu."

"Dih. Apaan sih?"

"Cie salting."

"Dih. Gila lo! Eh btw, nyokap lo gimana?"

Azrie terdiam beberapa saat. Mengingat kejadian tadi. Beberapa jam yang lalu, saat Sheerin hendak pulang dari rumah Azrie, seorang pelayan rumahnya memberi laporan pada Azrie bahwa mamanya tiba-tiba tergeletak di lorong rumahnya. Dan itu membuat Sheerin harus pulang dengan memanggil taksi.

"Dia cuma kecapean doang." Ucap Azrie dengan nada lemas.

"Maaf."

"Gue terima kok maaf lo. Sekarang gantian lo ya, yang terima cinta gue."

"Dih apaan sih?!"

"Terima cinta gue."

"Lo cuma penasaran sama gue."

"Tapi kata orang, dari penasaran itu tumbuh cinta."

"Tapi ga semua orang bisa jadi gitu.

"Tapi gue rasa gue suka sama lo."

"Ck! Serah."

Setelah mengucapkan kalimat itu keduanya terdiam. Kedua menunggu lawan bicaranya untuk memulai, tetapi sepertinya tidak akan ada yang memulai. Dan Azrie akhirnya yang harus memutuskan.

"Sheerin."

"Hm."

"Kok gue kangen ya sama lo?"

Bibir Sheerin tertarik setelah mendengar kalimat Azrie barusan. Ia masuk ke dalam kamar dan mulai terlentang di atas kasur.

"Sheerin."

"Ya."

"Kok gue degdeg-an ya ngobrol sama lo? Gue pingin liat reaksi lo sekarang deh. Pingin denger jantung lo juga. Degdeg-an ga pas gue ngomong gini."

Mr. ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang