"Jadi.."
Raxel dan Azrie sama-sama menoleh mendengar suara seseorang. Disana ada Sheerin yang sudah terdiam mengamati kedua laki-laki di depannya dengan wajah tidak percaya.
'Mr. A itu beneran Azrie? Jadi selama ini..'
"Ga mungkin Mr. A nya Azrie."
Luna berbicara seolah menjawab pertanyaan Sheerin. Azrie yang kini menjadi tokoh utama hanya santai sambil meminum minumannya. Sedangkan ketiga orang lainnya sudah sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Emang kalo gue Mr. A kenapa sih?"
"Itu.. sulit dipercaya."
"Kenapa engga? Toh nama gue awalannya A."
Raxel menatap Azrie dan Sheerin bergantian. Dirinya masih sibuk memikirkan apa kalimat yang harus keluar dari mulutnya.
"Kalo lo cuma bergantung sama inisial, itu bukan bukti 'kan?" Ucap Luna dengan wajah serius dan sebelah alisnya terangkat.
Azrie mendecak. Lalu berdiri dan meninggalkan meja. Luna yang mengetahui itu langsung bangkit dan mengejar Azrie.
Raxel memandang Sheerin yang kini menatap lurus dengan kosong. Wajahnya seperti ingin menangis, tapi tidak ada tanda-tanda air mata akan jatuh dari matanya. Raxel hanya terus diam memperhatikan Sheerin yang terus memandang kosong depannya. Sampai Sheerin menoleh dan saat itu juga matanya berkaca-kaca.
"Mau anterin gue ke bukit?"
Dalam satu detik Raxel langsung mengangguk dan menggandeng Sheerin agar mengikutinya. Raxel berfikir bahwa Sheerin tidak mungkin bisa berjalan baik dalam keadaan seperti itu, jadi ia pun menggandeng Sheerin.
Setelah keadaan hening di mobil Raxel, mereka pun sampai di bukit. Sheerin langsung duduk di tempat favoritnya dengan Raxel di sebelahnya. Dan selama setengah jam Raxel terus melirik Sheerin yang sama sekali belum mengeluarkan suara.
"Kadang di dunia ini ada dua benda berwujud sama. Dan diantaranya hanya berbeda tipis. Perlu keahlian untuk membedakan kedua benda tersebut."
Sheerin berfikir untuk beberapa saat setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Raxel. Dan akhirnya Sheerin menoleh menatap laki-laki yang kini menatap lurus ke depan dengan helaan nafasnya yang terdengar berat.
"Lo ga perlu stres gara-gara mikir itu Azrie atau bukan. Banyak orang di dunia ini yang punya banyak kesamaan. Tapi mereka juga pasti punya perbedaan."
Raxel menoleh dan memberikan senyumannya. Menatap Sheerin dengan tatapan damainya.
"Kadang mengetahui kebenaran ga selalu harus dengan otak. Lo bisa liat itu pake hati lo. Coba lo tenangin diri lo, dan pejamin mata. Mungkin lo bisa dapet jawaban."
Sheerin menyunggingkan senyumannya dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Sheerin menghela nafas dan kemudian menunduk.
"Gue.. ngerasa kosong lagi."
Tangan Raxel sedikit demi sedikit terulur untuk menyentuh bahu Sheerin. Tapi ketika tangan itu sudah hampir sampai, Raxel kembali menariknya.
"Gue ga tau harus percaya sama Azrie apa engga. Tapi.. gue ga yakin kalo dia itu Azrie."
"Apa yang ngebuat lo ga yakin?"
"Kalo.. dia emang Azrie, Mr. A yang gue kenal udah ngehubungin gue."
"Mungkin dia masih mau bikin lo penasaran."
"Hm. Dan Mr. A yang gue kenal, dia selalu nutupin identitasnya dia rapat-rapat. Tapi Azrie.."

KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. A
Ficção Adolescente[INI BUKAN FANFICTION] Sheerin tidak akan pernah mau mengenal dan berhubungan dengan masalah percintaan. Karena baginya cinta itu membawa kekecewaan. Membawa penderitaan. Dan juga membawa tangisan. Hingga pada akhirnya Sheerin bertemu dengan seseora...