Sheerin berjalan dengan lemas memasuki rumahnya. Senja sudah berlalu sejak tadi. Dan Sheerin baru sampai rumahnya. Sheerin menekan knop pintu dan membukanya. Didalam sudah ada mama dan juga papanya. Sheerin menatap wajah mamanya yang terlihat khawatir dan wajah papanya yang terlihat berapi-api.
"Dari mana kamu?" Bentak papanya.
Tapi Sheerin tidak merespon itu. Seolah organ tubuhnya seperti mati, tidak dapat mendengar bentakan papanya dan tidak dapat melihat kemarahan papanya.
"Sheerin!!"
Panggilan papanya membuat Sheerin berhenti. Tapi dirinya enggan untuk berbalik hanya sekedar memberi hormat untuk papanya. Sheerin hanya diam di tempat dan menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut papanya.
"Apa ini sopan santun kamu sama papa? Hah? Papa udah nunggu kamu di restoran ta--"
"Apa ini yang di maksud kesetiaan pa?"
Sheerin menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya. Tapi tetesan air sudah mengalir dengan mudahnya dari mata Sheerin.
"Hhh.. Menunggu? Apa itu yang di maksud menunggu?"
"Apa maksud kamu??"
"Aku.. Aku ga akan pernah percaya lagi sama setiap ucapan papa. Selama ini papa ninggalin keluarga ini demi.. Hhh.."
"Sheerin.." Lirih mamanya mencoba menghentikan ucapan Sheerin.
"Papa yang selama ini jadi panutan aku, jadi pondasi aku biar aku jadi perempuan kuat, ternyata seorang penghancur."
Sheerin berjalan cepat menaiki anak tangga dan langsung memasuki kamarnya. Sheerin berdiri di belakang pintu. Air mata yang sedari tadi mengalir, kini semakin deras. Bahkan isakannya kini sudah tidak dapat tertahan. Badan Sheerin meringsut. Ia sudah tak dapat menahan berat badannya.
"Lo kenapa?"
"Hiks.. Kak. Lo cepet pulang.."
"Lo kenapa?"
"Kak.. Lo harus cepet selesai. Gue.. hiks."
"Jelasin ke gue dulu."
"Papa.. ternyata dia selama ini selingkuh."
Kevin terdiam. Sheerin tetap membiarkan telfonnya dan tetap menempelkan handphone itu di telinganya sambil terisak.
"Gue lagi ada ujian. Tapi mungkin dua minggu lagi gue bisa pulang."
"Tapi gue butuh lo sekarang.."
"Masih ada mama, dek."
"Tapi.."
"Tunggu dua minggu aja. Oke?"
"Tapi gue ga bisa cerita ke mama, sedangkan mama pasti ngalamin yang lebih pahit dari gue."
"Lo bisa cerita ke Raxel oke? Gue yakin dia bisa temenin lo."
"Tapi dia orang lain."
"Gue percaya sama Raxel."
"Lo cepet pulang, kak."
"Iya. Ya udah lo belajar sana, nanti gue telfon mama buat nanyain gimana dia."
"Iya kak."
***
Sheerin menaruh kepalanya di atas meja dan menatap ke arah pintu dengan lemas. Matanya masih terlihat sembab, dan juga hidungnya terlihat memerah.
"Lo kenapa?"
Sheerin menaikkan kepalanya dan menatap orang di sebelahnya dengan lemas. Sheerin menggeleng, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. A
Genç Kurgu[INI BUKAN FANFICTION] Sheerin tidak akan pernah mau mengenal dan berhubungan dengan masalah percintaan. Karena baginya cinta itu membawa kekecewaan. Membawa penderitaan. Dan juga membawa tangisan. Hingga pada akhirnya Sheerin bertemu dengan seseora...